Penelitian: Kurangnya Pohon di Perkotaan Berdampak terhadap Prestasi Siswa
Foto: Freepik.
Pohon dan ruang terbuka hijau di perkotaan tidak hanya sebatas untuk estetika, tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat. Namun kenyataannya, banyak daerah perkotaan yang tidak memiliki pohon yang cukup, sehingga menimbulkan berbagai dampak negatif. Sebuah penelitian menemukan hubungan antara kurangnya pohon di perkotaan dan dampaknya terhadap prestasi siswa.
Dukungan bagi Kehidupan Perkotaan
Pohon memiliki manfaat dalam meningkatkan kualitas hidup di perkotaan. Pohon membantu meningkatkan kualitas udara dengan memerangkap polutan pada daunnya dan menyerapnya melalui pori-pori kecil, menyaring udara yang kita hirup. Pohon juga memberi keteduhan dan mengurangi panas dengan melepaskan uap air dari tanah dan mendinginkan jalan dan bangunan. Itu semua sangat penting mengingat gelombang panas semakin sering terjadi di perkotaan akibat perubahan iklim.
Selain itu, pohon menawarkan banyak manfaat kesehatan, baik psikologis maupun fisik, termasuk dapat mengurangi stres. Sebuah penelitian menemukan bahwa setiap 10 pohon tambahan di satu blok kota dapat meningkatkan persepsi kesehatan penduduk sebesar 1%.
WHO juga merekomendasikan agar masyarakat dapat mengakses ruang terbuka hijau dengan mudah dalam jarak 5-10 menit berjalan kaki dari rumah. Sayangnya, banyak daerah perkotaan di Asia masih kekurangan akses ke ruang terbuka hijau atau pepohonan karena perencanaan kota yang buruk dan populasi yang tinggi, dan dampaknya seringkali lebih besar di daerah berpenghasilan rendah.
Kurangnya Pohon di Perkotaan dan Kaitannya dengan Prestasi Siswa
Kurangnya pohon di perkotaan dapat menimbulkan dampak negatif yang tidak terduga. Para peneliti dari Universitas Utah menjelaskan hubungan antara kurangnya pohon di kota dan prestasi siswa di sekolah, dengan menunjukkan penurunan prestasi siswa selama periode berkurangnya populasi pohon di kota yang disebabkan oleh serangan hama invasif.
Penelitian tersebut melacak prestasi siswa dalam ujian standar dari kelas 3 hingga kelas 8 di wilayah Chicago antara tahun 2003 hingga 2012, di mana setengah dari pohon di kota hilang akibat kumbang invasif.
Di wilayah tersebut, penelitian tersebut mengungkap adanya penurunan 1,22% jumlah siswa yang lulus uji tolok ukur negara bagian. Ditemukan bahwa sekolah di lingkungan berpendapatan rendah tidak terlalu terpengaruh, karena jumlah pohonnya lebih sedikit. Namun, siswa berpendapatan rendah di sekolah yang lebih makmur, tempat serangan hama lebih umum terjadi, lebih menderita akibat berkurangnya pohon.
Penelitian lain menemukan bahwa para siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah yang pohon di sekitarnya sedikit, memiliki nilai ujian yang lebih rendah. Sebaliknya, di sekolah yang memiliki tutupan pepohonan lebih banyak, jumlah siswa yang mendapat nilai di bawah ambang kelulusan lebih sedikit, termasuk dalam mata pelajaran matematika dan seni bahasa.
Pohon untuk Lingkungan yang Lebih Sehat
Dampak dari hilangnya pohon di perkotaan dapat berdampak luas dan berjenjang terhadap kehidupan manusia, mulai dari kualitas udara yang buruk hingga hasil pendidikan yang buruk. Mengakui pentingnya pohon bagi kesejahteraan masyarakat sekitar adalah langkah pertama dalam memastikan akses yang setara terhadap ruang terbuka hijau perkotaan untuk semua kelompok.
Pada akhirnya, pemerintah harus memperluas infrastruktur ruang terbuka hijau dan menanam lebih banyak pohon di daerah yang rentan, terutama di lingkungan berpendapatan rendah. Ruang terbuka hijau merupakan bagian penting dari proses perencanaan perkotaan untuk menciptakan ruang belajar yang lebih baik dan mempromosikan lingkungan yang lebih sehat untuk semua.
Editor: Kresentia Madina & Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB