Upaya RS Terapung Ksatria Airlangga Tutup Kesenjangan Kesehatan bagi Warga Kepulauan
Foto: Dokumentasi milik Universitas Airlangga.
Akses terhadap layanan kesehatan merupakan hak dasar setiap orang. Sayangnya, di Indonesia, belum semua orang merasakan akses kesehatan yang setara. Di banyak daerah kepulauan dan wilayah terpencil, fasilitas dan layanan kesehatan seringkali kurang memadai.
Berangkat dari permasalahan tersebut, sekelompok alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menginisiasi Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) untuk mendekatkan akses kesehatan bagi warga yang tinggal di kepulauan dan daerah terpencil.
Kesenjangan Akses Layanan Kesehatan
Kesenjangan akses layanan kesehatan masih menjadi masalah serius di Indonesia hingga saat ini. Ketimpangan terkait keberadaan fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, adalah salah satunya. Data BPS pada tahun 2023 menunjukkan bahwa 50% dari total rumah sakit terkonsentrasi di Pulau Jawa. Beberapa provinsi bahkan memiliki hingga ratusan rumah sakit, sementara di wilayah Indonesia timur seperti Maluku dan Papua jumlahnya masing-masing baru 29 dan 18 unit.
Selain itu, belum semua kecamatan di wilayah Papua dan Papua Barat memiliki Puskesmas. Padahal, idealnya, setiap kecamatan mesti memiliki minimal 1 puskesmas. Belum lagi jumlah tenaga kesehatan di kedua provinsi tersebut, yang jumlahnya masih jauh dari kata ideal.
Beragam faktor memengaruhi timpangnya akses layanan kesehatan di Indonesia, mulai dari sumber daya finansial, lemahnya kebijakan yang bertujuan untuk memeratakan akses kesehatan, dan tentu saja, faktor geografis. Faktor yang disebut terakhir inilah yang dicoba diatasi oleh sekelompok alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melalui Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA).
Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA)
RSTKA dibangun dengan visi untuk mendorong terbentuknya masyarakat yang sehat dan sejahtera di seluruh Indonesia. Kapal RSTKA dibuat dengan model kapal pinisi yang memiliki panjang 27 meter dan lebar 7 meter. Dengan ukuran tersebut, RSTKA dapat masuk ke perairan yang relatif dangkal dengan biaya operasional dan pemeliharaan yang lebih efisien. Kapal berwarna putih dengan layar biru tersebut dilengkapi dengan fasilitas ruang operasi, ruang sterilisasi, kamar pasien, ruang pulih sadar, gudang obat, dan ruang administrasi.
Perjalanan RSTKA dimulai pada Oktober 2017 di Pulau Bawean, Gresik, untuk memberikan layanan gratis berupa pemeriksaan kesehatan dasar hingga operasi bedah. Dari situ, RSTKA kemudian bertolak ke Pulau Kangean, Sumenep, pada bulan berikutnya. Dalam rentang enam tahun kemudian, RSTKA telah mengunjungi 101 pulau di Indonesia dengan 33 ribu lebih pasien yang dirawat di poli umum, seribu lebih pasien operasi bedah, dan membantu kelahiran 93 bayi. Setiap perjalanan didukung oleh puluhan tenaga kesehatan termasuk dokter spesialis yang bekerja sebagai relawan.
Selain menyelenggarakan layanan kesehatan dasar, RSTKA juga beberapa kali menjalankan program-program khusus seperti vaksinasi COVID-19 pada tahun 2021 dan layanan pemeriksaan jantung pada tahun 2023. Tidak hanya itu, RSTKA juga berlayar melayani korban bencana alam, seperti pada saat bencana siklon tropis di Nusa Tenggara Timur (NTT) April 2021.
Keberlanjutan untuk Menutup Kesenjangan
Pada tahun 2024, RSTKA melanjutkan kegiatan baktinya dengan mengusung tema “Pulau Bebas TBC.” Program khusus ini dilatarbelakangi oleh tingginya kasus Tuberkulosis (TBC) di Indonesia. Program ini juga sekaligus mendukung pemerintah dalam mewujudkan eliminasi TBC pada tahun 2030 melalui pemerataan pelayanan kesehatan.
Pengelola RSTKA juga tengah merencanakan kapal generasi kedua dengan ukuran yang lebih besar sekaligus membangun jaringan kerja sama untuk memastikan layanan kesehatan berkualitas bagi warga kepulauan. Hal ini juga berguna untuk memperdalam perannya tidak hanya sebagai kapal pelayanan kesehatan, tetapi juga kapal penelitian dan pendorong pembangunan berkelanjutan.
Inovasi dan kolaborasi lintas sektor menjadi hal penting untuk mengatasi berbagai permasalahan kesehatan. RSTKA dapat menjadi contoh bagi para pemangku kepentingan dalam menutup kesenjangan akses layanan kesehatan akibat faktor geografis. Namun demikian, inovasi ini juga harus dibarengi dengan perbaikan di level sistemik seperti pembangunan infrastruktur yang merata, kebijakan yang menjamin kesejahteraan tenaga kesehatan, hingga pendidikan kesehatan terjangkau untuk memastikan kesetaraan akses dalam jangka panjang.
Editor: Abul Muamar
Nisa is a Reporter & Research Assistant at Green Network Asia. She holds a bachelor's degree in International Relations from Gadjah Mada University. She has particular interest in research and journalism on social and environmental issues surrounding human rights.

Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan