Mendorong Pembiayaan Berkelanjutan di Indonesia melalui Program ASSIST
Foto: Micheile Henderson di Unsplash.
Mitigasi krisis iklim dan transisi energi membutuhkan pendanaan yang besar. Besarnya kebutuhan pendanaan ini memerlukan komitmen yang kuat dari para pemangku kepentingan terkait. Merespons hal itu, sejumlah badan PBB meluncurkan program Accelerating Sustainable Development Goals Investment in Indonesia (ASSIST) untuk mendorong kerjasama multi-pemangku kepentingan dalam meningkatkan pembiayaan berkelanjutan.
Pentingnya Pembiayaan Berkelanjutan
Pembiayaan berkelanjutan atau sustainable finance adalah dukungan menyeluruh dari industri jasa keuangan untuk pertumbuhan berkelanjutan yang dihasilkan dari keselarasan antara kepentingan ekonomi, sosial, lingkungan hidup, dan tata kelola suatu kegiatan atau proyek ekonomi. Aspek lingkungan yang dimaksud dapat berupa upaya mitigasi krisis iklim atau penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Adapun aspek sosial dan tata kelola di antaranya termasuk penegakan prinsip penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM) dan perlindungan konsumen dalam menjalankan bisnis.
Jenis pembiayaan ini semakin penting dewasa ini untuk mendukung pembangunan ekonomi yang selaras dengan lingkungan. Selain sejalan dengan upaya mitigasi krisis iklim, pembiayaan berkelanjutan penting untuk memastikan bahwa bisnis dan investasi tidak melanggar hak asasi manusia (HAM).
Pembiayaan berkelanjutan memiliki peran kunci dalam transisi dunia menuju nol bersih (net zero emission). Sebagai contoh, Uni Eropa menciptakan Green Deal Investment Plan untuk mencapai net zero pada tahun 2050.
Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah meluncurkan Roadmap Keuangan Berkelanjutan Tahap II (2021-2025) untuk mempercepat penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola di Indonesia. Roadmap Keuangan Berkelanjutan Tahap II berfokus pada penciptaan ekosistem keuangan berkelanjutan secara komprehensif, dengan melibatkan seluruh pihak terkait dan mendorong pengembangan kerja sama dengan pihak lain.
Mengenal Program ASSIST
Program ASSIST merupakan kerjasama empat badan PBB, yaitu UNEP, UNICEF, UNIDO, dan UNDP sebagai lead technical agency. Program yang diluncurkan sejak 2021 ini bertujuan mendukung pemerintah Indonesia dalam memenuhi target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dengan memanfaatkan berbagai instrumen pembiayaan inovatif untuk mengisi kesenjangan pendanaan, terutama pembiayaan berkelanjutan.
Program ini menggunakan berbagai instrumen pembiayaan inovatif dari sumber pemerintah dan nonpemerintah, seperti obligasi berkelanjutan pemerintah, obligasi berkelanjutan korporasi dan sukuk berkelanjutan untuk mengisi kesenjangan pendanaan SDGs sebesar USD 4,7 triliun.
Didukung oleh Joint SDG Fund, ASSIST menciptakan produk-produk keuangan baru untuk mitigasi perubahan iklim dalam skala besar, di antaranya melalui transisi Indonesia menuju energi rendah karbon, perlindungan lingkungan hidup, peningkatan kapasitas Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang dipimpin perempuan, serta mendorong penciptaan usaha-usaha berorientasi dampak (impact-driven). Ada tiga komponen utama ASSIST yang mencakup serangkaian instrumen pembiayaan, yakni penerbitan obligasi tematik di tingkat nasional dan daerah, kredit berbasis SDGs (SDGs-linked loans), dan pendanaan startup (angel investor) yang mendukung kerja-kerja SDGs melalui Indonesia Impact Fund.
“Dengan ASSIST, Anda bisa mendapatkan pengembalian nyata atas investasi Anda untuk mendukung SDGs. Selama dua tahun terakhir, untuk setiap 1 dolar yang dikeluarkan akan berkontribusi menjadi 240 dolar untuk pembiayaan SDGs,” kata Valerie Julliand, Koordinator program ASSIST dan Kepala Perwakilan PBB di Indonesia.
Meningkatkan Sinergitas
Pada akhirnya, sinergitas antar lembaga baik nasional maupun internasional sangat diperlukan untuk meningkatkan pembiayaan berkelanjutan di Indonesia. Program ASSIST dan Roadmap Keuangan Berkelanjutan Tahap II (2021-2025) dapat berjalan selaras untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya bisnis berkelanjutan terutama bagi perusahaan dan masyarakat secara umum. Mengingat besarnya tantangan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan, kerja sama menjadi kunci suksesnya upaya penyelamatan Bumi bagi generasi mendatang.
Editor: Abul Muamar
Maulina adalah Reporter di Green Network Asia. Ia belajar program Sarjana Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Jember.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan