Dekarbonisasi dengan Pemanfaatan Teknologi CCUS
Foto: Ioana Baciu di Unsplash.
Emisi karbon dioksida berkontribusi signifikan terhadap peningkatan suhu global dan perubahan iklim. Jumlah emisi global terpantau kembali meningkat pascapandemi COVID-19. Guna mengatasi persoalan emisi, sejumlah inovasi dan teknologi dikembangkan, salah satunya adalah teknologi penyimpanan karbon (Carbon Capture, Utilization, and Storage/CCUS).
Mengenal Teknologi CCUS
CCUS (Carbon Capture, Utilization, and Storage) adalah teknologi inovatif yang dapat menangkap emisi CO₂ dari operasi industri dan pembangkit listrik, sehingga tidak terlepas ke atmosfer. CO₂ yang tertangkap kemudian disalurkan dan disimpan di bawah permukaan tanah atau digunakan untuk berbagai tujuan.

Menurut Roadmap IEA Net Zero Emission 2050, teknologi CCUS akan berkontribusi lebih dari 10 persen dari total pengurangan emisi global pada 2050 di sektor energi. Di Asia Tenggara, untuk mencapai tujuan Paris Agreement 2015, diperlukan 35 juta satuan ton setara CO2 (tCO₂e) yang disimpan pada fasilitas CCUS pada 2030 dan lebih dari 200 juta tCO₂e pada 2050.
Urgensi Teknologi CCUS di Indonesia
Indonesia telah memperbarui target Perjanjian Paris 2030, namun masih cukup lemah dalam mencapai target Net Zero. Indonesia terutama perlu melakukan dekarbonisasi di sektor pembangkit listrik batu bara.
Energi batu bara masih memainkan peranan penting dalam sistem ketenagalistrikan di Indonesia dan jumlahnya diperkirakan akan meningkat berdasarkan rencana yang ada saat ini. Sayangnya, batu bara juga masih menjadi polutan utama di Indonesia.
Banyaknya PLTU batu bara di Indonesia yang terus mengeluarkan polusi udara tanpa henti menyebabkan kerugian ekonomi, ditaksir mencapai lebih dari USD 220 miliar setiap tahunnya.
Polusi dari PLTU batu bara juga berkontribusi terhadap pengurangan angka harapan hidup hingga lima tahun. Studi terbaru dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) 2023 menemukan, pembakaran batu bara pada PLTU batu bara di kompleks PLTU Suralaya, Banten, menimbulkan polusi udara yang terdiri dari partikel halus (PM2,5), nitrogen dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2), dan ozon (O3). Sejumlah partikel berbahaya ini menyebabkan penyakit pada manusia, mulai dari batuk kronis hingga kematian yang merenggut 1.470 nyawa.
Guna mengurangi dampak buruk batu bara yang terus menerus, teknologi CCUS dapat menjadi solusi jangka panjang dalam upaya menurunkan kadar emisi dan pencemaran udara. Saat ini, teknologi CCUS di Indonesia masih belum sepenuhnya berkembang. Hal ini karena masih tingginya investasi yang diperlukan dan teknologi pengembangan yang belum mumpuni.
Inisiatif Pengembangan CCUS
Sejumlah inisiatif penggunaan teknologi pemanfaatan karbon telah dimulai di berbagai level pengambil kebijakan. Di tingkat regional, Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dalam the East Asia Summit (EAS) telah menginisiasi Asia CCUS Network. Pada pertemuan ke-14 East Asia Summit Energy Ministers Meeting (14th EAS EMM) yang digelar pada 20 November 2020, terjalin kerja sama energi berkelanjutan dengan inisiatif dalam mempromosikan penggunaan energi alternatif hidrogen, dekarbonisasi sektor transportasi dan penggunaan gas alam, serta pemanfaatan CCUS dalam mendukung tujuan dekarbonisasi, pemulihan, dan pertumbuhan ekonomi.
Di tingkat domestik, pada 26 Oktober 2022 Pertamina yang merupakan perusahaan migas nasional mulai mengimplementasikan teknologi CCUS dengan melakukan injeksi perdana CO2 di Lapangan Pertamina EP Jatibarang Field, Indramayu, Jawa Barat.
Terbaru dalam Indonesian Sustainability Forum 2023, PT PLN (Persero) menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan Karbon Korea Co. Ltd. terkait implementasi teknologi CCUS.
Dalam upaya memerangi perubahan iklim dan pemanasan global akibat emisi karbon, dibutuhkan kolaborasi dan transfer pengetahuan dalam pengembangan teknologi sebagai kunci. Oleh sebab itu, lewat kolaborasi semacam ini, tujuan transisi energi dalam memerangi perubahan iklim akan lebih mudah terwujud dibanding dengan berjalan sendiri.
Editor: Abul Muamar
Maulina adalah Reporter di Green Network Asia. Ia belajar program Sarjana Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Jember.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan