Empat Hal yang Kita Butuhkan untuk Meregenerasi Bumi: Pelajaran dari Climate Capital karya Tom Chi
Cover buku “Climate Capital: Investing in the Tools for a Regenerative Future” karya Tom Chi. | Penerbit: Wiley Professional Development (P&T)
Ketika beberapa bulan lalu saya mendapatkan kiriman email yang mengabarkan bahwa Tom Chi, seorang investor terkenal yang selalu menaruh modalnya di beragam inovasi yang menghadirkan solusi atas tantangan-tantangan lingkungan dan sosial terpelik yang dihadapi umat manusia, akan menerbitkan buku, saya langsung ingin membelinya. Tapi, entah mengapa, saya belum jadi membelinya. Lalu, minggu lalu saya diundang ke kampus National University of Singapore untuk sebuah diskusi yang mengaitkan antara konservasi, perdagangan, dan keuangan. Di antara jadwal yang luar biasa padat di sana, saya menyempatkan diri menyambangi toko buku, hanya untuk membeli buku “Climate Capital” yang sudah banjir pujian itu.
Izinkan saya berbagi kesan atas buku yang pada beberapa bagiannya membuat saya berdecak, menggelengkan kepala, dan tersenyum kagum.
Kesadaran Seorang Investor
Pada suatu pagi yang hening di pesisir Pulau Besar Hawaii, Chi berenang di atas terumbu karang yang telah ia anggap sebagai rumah tetangganya sendiri. Ia hafal di celah mana ikan-ikan tertentu bersembunyi, ia kenali bunyi renyah gigitan ikan kakatua di karang, dan ia akrab dengan kilauan jingga serta biru karang yang memantulkan cahaya matahari yang terlebih dahulu menembus lapisan air hangat vulkanik. Lalu, dalam waktu kurang dari dua bulan pada tahun 2011, semuanya lenyap. Warna-warni itu memutih, lalu berubah menjadi abu-abu kusam, dan simfoni kehidupan bawah laut berganti menjadi kesunyian yang menakutkan. Chi tidak hanya kehilangan pemandangan indah; ia kehilangan komunitas, ia kehilangan sebuah dunia.
Peristiwa pemutihan karang massal itu menjadi titik balik yang mengoyak nalar sekaligus menciutkan nurani. Tetapi, sebagai astrofisikawan yang terbiasa membaca data dari galaksi yang cahayanya telah menempuh perjalanan empat puluh tujuh juta tahun, Chi tidak berhenti pada kebingungan dan duka. Ia menelepon puluhan ahli biologi kelautan dan mendengar vonis yang mengerikan: apa yang terjadi di depan matanya bukanlah insiden lokal, melainkan gejala dari tubuh planet yang sedang sekarat. Jika kita terus berjalan di rel yang sama, ekosistem terumbu karang akan punah sebelum abad ini berakhir, menyeret seperempat kehidupan laut ke dalam jurang kepunahan.
Dari perenungan yang dingin sekaligus pedih inilah “Climate Capital: Investing in the Tools for a Regenerative Future” lahir. Buku ini bukanlah ratapan seorang pencinta alam yang patah hati, melainkan sebuah manual teknis dari seorang pembangun (builder) yang percaya bahwa krisis terbesar peradaban adalah masalah desain—dan setiap desain yang buruk bisa diperbaiki.
Destabilisasi Iklim
Chi menolak istilah “perubahan iklim” yang terkesan jinak dan mudah diabaikan. Ia menawarkan istilah yang lebih brutal dan presisi: destabilisasi iklim. Fokus kita selama ini keliru, kata Chi. Kita terobsesi pada kenaikan suhu rata-rata global, padahal yang membunuh bukanlah kehangatan satu atau dua derajat yang merata sepanjang tahun. Yang meluluhlantakkan adalah volatilitas, yakni makin lebarnya jurang antara titik terendah dan tertinggi. Kenaikan suhu rata-rata satu derajat bisa berarti musim panas yang lebih panas enam derajat dan musim dingin yang lebih dingin empat derajat. Rentang ekstrem inilah yang menghancurkan panen, memicu kebakaran hutan yang melahap kota dalam semalam, dan mengirimkan banjir bandang ke tempat-tempat yang sebelumnya tak pernah mengenalnya.
Chi mengingatkan kita bahwa atmosfer yang lebih hangat menampung lebih banyak uap air—tambahan volume yang setara dengan enam puluh persen dari seluruh aliran sungai di muka Bumi. Air yang berlebih di satu tempat berarti kekeringan yang mengerikan di tempat lain. Ini adalah krisis tata air, bukan sekadar krisis angka di termometer.
Di hadapan ancaman yang begitu sistemik, Chi melihat bahwa perangkat lama kita—baik itu ekonomi neoliberal, politik identitas, maupun pola pikir industrial—telah gagal total. Buku ini kemudian bergerak dengan dingin membedah sejarah bagaimana kita sampai di jurang ini. Ia merunut kembali sejarah kerja, dari era guild di mana keahlian dan keindahan menjadi inti produksi, hingga era pabrik yang mereduksi manusia menjadi sekadar “sumber daya manusia”. Dalam kerangka Kapitalisme yang ekstraktif, segala sesuatu dikonversi menjadi modal yang siap dioptimasi: alam menjadi sumber daya alam, perhatian menjadi komoditas, dan hubungan sosial menjadi jejaring yang siap dimonetisasi. Bahkan organ tubuh kita sendiri pernah nyaris diperdagangkan sebagai aset dalam sistem perbudakan yang paling biadab. Chi, yang menghabiskan dua dekade membangun fondasi internet dan Kecerdasan Buatan di Google X dan Microsoft, tahu persis bahwa algoritma yang ia bantu ciptakan, yang awalnya dirancang untuk menghubungkan manusia, kini lebih sering dipakai untuk menambang perhatian dan memecah belah manusia demi keuntungan sesaat.
Empat Modal yang Kita Butuhkan
Dari situ kita diajak menemukan alasan optimisme radikal buku ini. Jika sistem yang ada adalah hasil desain manusia, maka kita bisa mendesain ulang. Chi tidak menawarkan revolusi berdarah atau utopia yang kabur. Ia menawarkan empat perangkat kognitif yang ia sebut Empat C: Critical Thinking (Berpikir Kritis), Creativity (Kreativitas), Compassion (Welas Asih), dan Community (Komunitas). Ini adalah keterampilan yang, menurut dia, tidak akan bisa direplikasi oleh Kecerdasan Buatan karena justru berakar pada pengalaman hidup sebagai manusia yang fana dan saling terhubung.
Kekuatan berpikir kritis diperlihatkan Chi melalui sebuah kisah dari pedalaman Guatemala. Di sana, ia membantu tim lokal yang memasang panel surya bagi masyarakat adat yang hidup dengan kurang dari dua dolar sehari. Masalahnya, bank sentral kehabisan kapasitas untuk menjamin kredit mikro bagi pembelian panel seharga seratus dua puluh lima dolar itu. Alih-alih menyerah, Chi mematahkan kerangka berpikir optimasi biaya produksi yang lazim di industri manufaktur. Ia bertanya: bagaimana jika kita ubah model bisnisnya menjadi layanan berlangganan? Dengan biaya delapan dolar per bulan, lebih murah dari lilin yang biasa mereka beli, rumah-rumah itu kini terang-benderang. Lebih dari itu, insentif finansial kini bergeser: semakin lama perangkat itu bertahan, semakin besar pendapatan yang dihasilkan. Alhasil, Chi berhasil membuat pergeseran dari elektronik murahan yang cepat rusak menjadi mesin yang dirancang untuk bertahan selama empat puluh tahun di tengah hujan dan lumpur hutan tropis. Satu pergeseran bingkai pemikiran melahirkan kemenangan ganda: pengentasan kemiskinan energi dan pengurangan sampah elektronik.
Adapun terkait kreativitas, Chi membongkar mitos bahwa ia adalah bakat langka para seniman. Kreativitas adalah disiplin membuat dan menguji. Ketika memimpin pengembangan Google Glass, ia dan timnya tidak menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam rapat konseptual. Mereka membuat purwarupa pertama dalam waktu kurang dari empat jam setelah projek dinyatakan dimulai, menggunakan gantungan baju, pelindung lembaran plastik, dan projektor mini. Dari purwarupa yang kasar itulah mereka belajar tentang interaksi manusia dengan teknologi, bukan dari spekulasi di atas kertas. Chi mengajarkan bahwa dunia nyata sesungguhnya penuh dengan tanda tanya yang hanya bisa dijawab dengan membangun sesuatu yang konkret, sekecil apa pun, dan mengamati bagaimana benda itu bekerja dalam genggaman manusia sungguhan.
Selanjutnya, welas asih dalam kosakata Chi bukanlah kelembutan yang naif. Ia adalah strategi manajemen risiko yang paling canggih. Ia mencontohkan krisis finansial 2008 yang merugikan dunia lebih dari dua puluh triliun dolar—angka yang sebenarnya cukup untuk mendekarbonisasi sebagian besar infrastruktur global. Krisis itu terjadi bukan karena rumus matematika yang rumit, melainkan karena ketiadaan welas asih: bank memberikan kredit perumahan kepada orang-orang yang jelas tidak mampu membayarnya, lalu menyembunyikan risiko itu dalam sekuritas beracun. Sebaliknya, ketika Pemerintah Singapura berunding dengannya tentang mobil otonom, pertanyaan pertama mereka bukanlah “seberapa cepat kita bisa menggusur sopir taksi?”, melainkan “bagaimana kita melatih ulang para sopir taksi kita agar mereka tidak terlindas oleh teknologi ini?” Welas asih, dalam pemahaman Chi, adalah kemampuan untuk melihat konsekuensi manusia dari sebuah keputusan desain.
Puncak dari itu semua adalah komunitas. Chi merenungkan sebuah fakta yang menghantam kesombongan spesies kita. Semut, dengan total biomassa yang kurang lebih setara dengan manusia, mengonsumsi sepuluh kali lebih banyak makanan dari alam setiap harinya. Namun, alih-alih merusak, semut bekerja bak ‘insinyur ekosistem’ yang membuat tanah lebih subur dan air lebih meresap. Rahasianya: kerjasama. Sementara kita, dalam kultus individualisme dan konsumerisme yang dipicu oleh Kapitalisme yang mengiklankan komoditas tanpa batas, justru mengisolasi diri dalam apartemen dengan barang-barang yang tingkat utilisasinya kurang dari empat persen. Chi mengajak kita kembali ke toko buku lokal, ke taman komunitas, ke hubungan bertetangga yang nyata—karena di sanalah, di tengah volatilitas iklim dan ekonomi yang kian mengguncang, ketangguhan sejati akan ditemukan.
Menerapkan Empat C
Setelah membekali pembaca dengan Empat C, Chi membawa kita ke dalam visinya yang paling ambisius: merancang ekonomi yang selaras dengan metabolisme planet. Di bagian akhir buku ini, ia melontarkan gagasan yang memukau sekaligus menantang. Ia mengajak kita melihat ekonomi dari sudut pandang foton. Setiap hari, matahari mengirimkan energi dalam jumlah yang luar biasa ke Bumi, dan jumlah yang sama dipantulkan kembali ke angkasa. Periode di antaranya, yang ia sebut ‘the middle’, adalah panggung sandiwara kehidupan. Sebuah foton bisa saja mengenai batu gundul dan langsung memantul tanpa memberi manfaat bagi siapa pun. Atau, foton itu bisa mengenai daun, memicu fotosintesis, lalu energinya mengalir ke akar, memberi makan mikroba tanah, serangga, burung, hingga karnivora puncak. Alam, kata Chi, telah menghabiskan miliaran tahun untuk memaksimalkan manfaat dari setiap foton di ‘the middle’ ini.
Maka, bagi Chi, ekonomi regeneratif adalah ekonomi yang berusaha memperbanyak jumlah organisme yang ikut menikmati aliran energi itu. Inilah definisi dari kekayaan sejati yang melampaui akumulasi kapital: memperkaya keragaman hayati, memperbaiki siklus hidrologi, dan mewariskan tanah pucuk yang lebih tebal kepada generasi mendatang. Chi menyusun peta jalan dari ekonomi produktivitas material, di mana satu ton pasir bisa bernilai lima belas dolar sebagai bahan bangunan atau dua puluh enam juta dolar sebagai chip komputer, menuju ekonomi yang mahir merawat aliran nutrisi dan energi dan memberi sebanyak mungkin manfaat.
Sebagai sebuah karya, Climate Capital memiliki otoritas yang nyaris tak tertandingi. Ini bukan buku yang ditulis oleh orang yang berada di menara gading atau yang hanya pandai beretorika. Chi adalah seorang pembangun sejati. Ketika ia berbicara tentang bagaimana algoritma bisa membajak kelemahan kognitif manusia, ia berbicara dari pengalaman langsung merancang pengalaman pengguna untuk miliaran orang.
Akan tetapi, di sinilah letak ketegangan yang tak sepenuhnya terpecahkan dalam buku ini. Kerangka berpikir dan solusi yang ditawarkan Chi, meskipun jenius, masih sangat kental dengan perspektif Silicon Valley dan modal ventura. Ia berbicara tentang mendanai perusahaan rintisan deep tech yang bisa mengubah ekonomi unit industri besar. Pertanyaan yang mengganggu bagi pembaca dari belahan Selatan Global mungkin adalah: bagaimana dengan miliaran orang yang hidupnya tidak tersentuh oleh putaran pendanaan Seri A? Bagaimana dengan petani kakao di Sulawesi Selatan atau nelayan di Pulau Aru yang menghadapi dampak langsung dari volatilitas iklim tanpa memiliki akses ke robot penanam bakau atau perangkat lunak pemantau drone? Chi memang menyinggung kearifan lokal seperti sistem Ahupua’a di Hawaii, tetapi transisi dari kearifan adat ke model bisnis ventura agaknya belum diurai secara memadai. Ada ruang yang masih menganga antara optimisme teknologis tingkat tinggi dan realitas ekonomi informal yang menjadi tulang punggung banyak negara berkembang.
Membaca Karya Chi dari Indonesia
Namun, bagi saya, justru di situlah letak tantangan yang buku ini lemparkan kepada kita, para pembaca di Indonesia. Negeri kita jelas bisa menjadi laboratorium raksasa bagi gagasan-gagasan Chi. Kita memiliki hutan hujan tropis yang berfungsi sebagai ‘the middle’ bagi sebagian besar keanekaragaman hayati dunia, selain tentu saja menjadi sasaran empuk ekonomi ekstraktif.
Di sinilah ajakan Chi menemukan resonansinya yang paling dalam. Kita jangan membaca buku ini untuk mencari daftar solusi yang siap pakai. Kita perlu membacanya sebagai undangan untuk mengasah Empat C dalam konteks kita sendiri. Gunakan pemikiran kritis untuk membongkar mitos bahwa deforestasi adalah jalan tak terhindarkan menuju kesejahteraan. Gunakan kreativitas untuk menemukan cara agar petani sawit kita bisa hidup dari hasil hutan tanpa harus menebang hutan lagi. Gunakan welas asih untuk mendengarkan jerit nelayan tradisional yang wilayah tangkapnya direklamasi atau dicemari limbah industri. Dan yang terutama, rawatlah komunitas. Karena Indonesia memiliki warisan Subak di Bali juga Sasi di Maluku yang merupakan bukti bahwa nenek moyang kita telah memiliki kesadaran kolektif tentang ‘plenty of room in the middle’ ratusan atau bahkan ribuan tahun sebelum Chi menuliskannya.
Climate Capital adalah panggilan untuk bangkit dari posisi konsumen yang pasif menjadi pembangun yang aktif. Di tengah riuh rendah politik yang memecah belah dan gempuran informasi palsu, Chi mengingatkan bahwa memilih kebodohan memang lebih mudah. Jauh lebih mudah untuk terjebak dalam debat kusir di media sosial daripada turun ke lapangan dan memperbaiki tata air di desa kita. Namun, jalan yang mudah itu akan menuntun kita pada konsekuensi yang jauh lebih keras: desa yang meranggas, kota yang tenggelam, panen yang gagal, dan pulau yang hilang ditelan laut. Pada titik ini saya merasa buku ini adalah kompas sekaligus palu. Kompas untuk menunjuk arah menuju peradaban yang regeneratif, dan palu untuk menghancurkan tembok kepasrahan serta kerangka pikir usang yang memenjarakan imajinasi kita.
Seperti yang ditulis Chi di akhir bukunya, kita sesungguhnya sedang dituntut untuk memutuskan sekarang juga akan menjadi leluhur seperti apa kita kelak. Di hadapan pernyataan itu, saya berdoa semoga kita memilih untuk menjadi leluhur yang tidak hanya mewariskan dongeng tentang kekayaan alam yang telah punah, melainkan mewariskan tanah yang lebih subur, air yang lebih melimpah dan jernih, dan komunitas yang lebih bijaksana. Doa saya mewujud dalam resensi ini, serta harapan dan ajakan agar semakin banyak di antara kita yang bertindak meregenerasi Bumi.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Jalal adalah Penasihat Senior Green Network Asia. Ia seorang konsultan, penasihat, dan provokator keberlanjutan dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Ia telah bekerja untuk beberapa lembaga multilateral dan perusahaan nasional maupun multinasional dalam kapasitas sebagai subject matter expert, penasihat, maupun anggota board committee terkait CSR, keberlanjutan dan ESG; menjadi pendiri dan principal consultant di beberapa konsultan keberlanjutan; juga duduk di berbagai board dan menjadi sukarelawan di organisasi sosial yang seluruhnya mempromosikan keberlanjutan.

Ketimpangan Jaminan Kesehatan pada Balita yang Terus Berlanjut
Risiko Lingkungan dan Geopolitik dalam Pembangunan PLTA Medog
Bagaimana Australia dapat Membantu Mencegah Terulangnya Krisis Kebakaran di Indonesia
Bagaimana Deforestasi di Indonesia Semakin Parah
Ketimpangan Gender dalam Sektor Air di Tengah Krisis Air Dunia
Menjaga Komunikasi Publik di Tengah Meningkatnya Isu Kesehatan Mental