Akankah Kita Menjadi Kekuatan Positif bagi Pemulihan Bumi?
Cover buku “Becoming Nature Positive: Transitioning to a Safe and Just Future” karya Marco Lambertini dkk. | Penerbit: Routledge (2026).
Bayangkan sebuah planet di mana 96% dari total biomassa mamalia terdiri dari manusia dan ternak yang kita pelihara. Sementara, satwa liar—harimau, gajah, paus biru, serigala, dan lainnya—hanya menyisakan 4% saja dari seluruh hewan bertulang belakang di Bumi ini. Bayangkan enam dari sembilan batas planetari yang menjamin stabilitas peradaban manusia telah dilampaui: integritas biosfer, perubahan iklim, siklus air tawar, penggunaan lahan, entitas kimia baru, dan aliran biogeokimia.
Ini semua terjadi bukan di masa depan yang jauh, melainkan sekarang. Di planet yang sama tempat kita membangun gedung pencakar langit, menggelar konser, dan memesan kopi melalui aplikasi ponsel, yang seperti pertanda kemajuan, kita semua sedang menghadapi bahaya besar. Inilah Antroposen dalam wajah paling jelas: era di mana manusia telah menjadi kekuatan geologis terbesar di Bumi, sekaligus spesies yang paling berbahaya bagi spesies lainnya maupun bagi dirinya sendiri.
Inilah premis yang mendasari penulisan dan penerbitan Becoming Nature Positive: Transitioning to a Safe and Just Future tahun 2025, sebuah buku open access yang menurut saya sangat berhasil menyeimbangkan antara rasa urgensi dengan keharusan untuk tidak pernah jatuh ke dalam pesimisme. Ketika buku itu terbit, asidifikasi (pengasaman) laut menjadi satu lagi batas planetari yang terlampaui, menambah satu lagi data untuk urgensi. Oleh karena itu, nature-positive bukan sekadar agenda lingkungan. Ia adalah syarat minimum keberlangsungan peradaban manusia. Kita benar-benar perlu membalikkan ketujuh batas planetari itu untuk masuk ke wilayah aman. Siapa pun yang masih menganggapnya sebagai urusan sampingan, pelengkap laporan keberlanjutan atau dekorasi pidato pemimpin dunia, perlu membaca buku ini dengan serius.
Marco Lambertini, yang pernah memimpin WWF International dan BirdLife International sebelum menjadi konvenor pada Nature Positive Initiative, memulai narasi dari sebuah momen kecil yang intim: percakapan di sela Konferensi Para Pihak yang melahirkan Paris Agreement pada 2015. Di situlah benih pertanyaan tumbuh. Jika dunia bisa bersepakat membatasi kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celsius, mengapa tidak ada kesepakatan yang sama untuk batas-batas planetari lainnya? Mengapa tidak ada tujuan terukur yang setara untuk membalikkan kehancuran keanekaragaman hayati?
Bukan Cuma Mengerem Kehancuran
Pertanyaan itu, walaupun dijawab secara kolektif oleh benak-benak terbaik yang turut menulis buku ini, membutuhkan hampir satu dekade untuk menemukan jawabannya, dan Bab 1 menelusuri perjalanan itu dengan presisi. Lambertini mencatat bagaimana pada 2019, untuk pertama kalinya dalam sejarah World Economic Forum, kehilangan biodiversitas masuk dalam daftar sepuluh risiko global terbesar. Bagaimana pada 2020 rumusan “Halt and reverse nature loss by 2030 on a 2020 baseline” mulai mengkristal sebagai tujuan bersama. Dan bagaimana pada Desember 2022, di Montreal, 196 negara akhirnya menandatangani Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (GBF)—sebuah momen yang oleh banyak ilmuwan disebut sebagai “Paris Agreement untuk alam.”
Namun sebelum sampai ke titik cahaya itu, Lambertini mengajak pembaca menatap kegelapan. Bab 2 adalah dua cermin yang dipasang berhadapan: di sisi kiri, The Great Rise atau akselerasi luar biasa pembangunan manusia sejak 1950-an, dengan GDP global melompat dari USD9 triliun menjadi USD110 triliun, populasi manusia berlipat ganda, dan produksi plastik tumbuh dari 2 juta ton menjadi lebih dari 400 juta ton per tahun. Di sisi kanan, The Great Decline, di mana 73% populasi vertebrata hilang dalam lima dekade, satu juta spesies terancam punah, dan 75% permukaan bumi telah diubah secara fundamental oleh tangan manusia. Buku ini tidak menyembunyikan ironi pedih ini: kemajuan yang paling kita banggakan adalah mesin kehancuran yang paling efisien.
Bab 3, The Great Awakening, adalah argumen bahwa kesadaran sedang tumbuh—dan bahwa pertumbuhan itu bukan sekadar tren, melainkan pergeseran paradigma. Di sini Lambertini menunjukkan kelasnya: ia tidak berhenti pada ekologi, tetapi menarik benang merah antara kehancuran alam dengan ketahanan pangan (dua pertiga tanaman bergantung pada penyerbuk), risiko pandemi (70% penyakit menular baru berasal dari hewan), kesehatan mental (kehilangan kontak dengan alam meningkatkan depresi dan kecemasan), hingga stabilitas geopolitik. Alam bukan latar belakang kehidupan manusia. Alam adalah fondasi tempat seluruh bangunan peradaban berdiri.
Bab 4 merupakan jantung intelektual buku ini. Di sini Lambertini mendefinisikan The Great Transition yang merupakan transisi yang tidak hanya bersifat teknologis atau kebijakan, tetapi juga kultural dan mental. Nature-positive, ditegaskan, bukanlah sekadar ‘berbuat baik untuk alam’. Ia adalah tujuan terukur dengan tahun dasar, lintasan waktu yang jelas, dan mekanisme akuntabilitas: net-positive untuk keanekaragaman hayati ditegakkan dengan hierarki yang jelas: Avoid, Minimize, Restore, Compensate.
Babak kedua buku ini menyerahkan pena kepada enam ilmuwan dan praktisi dengan keahlian yang saling melengkapi. Joseph W. Bull dari Universitas Oxford (Bab 5) membangun fondasi ilmiah dengan ketepatan yang mengagumkan: dari Evil Quartet Diamond tentang empat pendorong kepunahan, hingga cara mengukur nature-positive tanpa terjebak pada satu metrik yang pasti tidak mencukupi. Harvey Locke dan Leroy Little Bear (Bab 6) membawa dimensi yang sering absen dari diskusi keberlanjutan: nilai-nilai. Little Bear, Kepala Adat Kainai dari Alberta Kanada, mengingatkan bahwa bagi banyak komunitas Adat di dunia, hubungan manusia dengan alam tidak pernah transaksional. “Ko au Te Taiao, ko Te Taiao ko au” (aku adalah alam, dan alam adalah aku) bukan sekadar kata-kata puitis, melainkan epistemologi.
Eva Zabey (Bab 7) menavigasi dunia bisnis dengan mata seorang yang terus mengamati perubahan dari dalam. Ia menggambarkan perjalanan panjang dari program sosial yang cenderung bersifat kosmetik di era 1990-an hingga gelombang baru perusahaan yang mengadopsi kerangka Assess, Commit, Transform, Disclose (ACT-D), Science-based Target Network (SBTN), dan Task Force for Nature-related Financial Disclosure (TNFD). Namun ia juga jujur tentang jarak antara ambisi dan realitas, yang terkadang terasa sangat menyebalkan.
Dorothy Maseke (Bab 8) mengurai arsitektur keuangan alam dengan konteks Afrika yang kerap dilupakan: kesenjangan pembiayaan mencapai USD700 miliar hingga 1 triliun per tahun, sementara mekanisme debt-for-nature swap dan biodiversity credits baru mulai belajar merangkak. Carlos Manuel Rodríguez, mantan Menteri Lingkungan Kosta Rika dan kini CEO Global Environment Facility (Bab 9), menutup dengan tata kelola: bagaimana Kunming-Montreal GBF harus diimplementasikan, di mana reformasi subsidi berbahaya yang jumlahnya USD 500 miliar per tahun secara global menjadi kunci, dan mengapa pelajaran dari Kosta Rika, di mana pembayaran jasa ekosistem berhasil membalikkan deforestasi, relevan bagi negara tropis mana pun.
Luas, Dalam, Namun Masih Dapat Diperbaiki
Becoming Nature Positive adalah buku yang akan membuat pembaca sulit, kalau bukan malah mustahil, mencari dalih untuk tidak peduli. Kekuatan terbesarnya terletak pada koherensi yang langka, lantaran ia benar-benar berhasil menjahit ilmu ekologi, ekonomi, kebijakan, dan etika dalam satu narasi yang tidak pernah terasa berat meski sangat berbobot. Lebih dari 200 referensi akademis memperkuat seluruh klaim tanpa membuat halaman terasa seperti jurnal ilmiah yang harus dibaca sebagai tugas kuliah. Ini adalah hasil karya seorang pengarang utama yang selama tiga dekade berdiri di persimpangan antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan, dan tahu betul bagaimana menerjemahkan data menjadi urgensi tanpa kehilangan akurasi.
Yang juga membedakan buku ini dari karya lainnya adalah keberaniannya untuk menjadi operasional, bukan sekadar deklaratif. Lambertini dan para koleganya tidak berhenti pada seruan moral. Mereka menawarkan kerangka kerja yang bisa langsung dipakai: hierarki Avoid-Minimize-Restore-Compensate sebagai panduan korporasi, suite metrik tiga-kategori dari SBTN sebagai alat ukur yang menghindari greenwashing, dan kerangka ACT-D dari WBCSD sebagai peta jalan transformasi bisnis. Dalam lanskap di mana banyak buku tentang alam berhenti di diagnosis, Becoming Nature Positive melangkah berani ke resep yang detail. Dan itulah yang kita paling dibutuhkan saat ini.
Kekuatan lain yang tidak boleh diabaikan adalah kedalaman lintas-dimensi. Bab tentang sains (Bull) dan bab tentang tata kelola (Rodríguez) bisa berdiri sendiri sebagai referensi akademis yang andal. Namun bab tentang masyarakat (Locke dan Little Bear), bagi saya, adalah yang paling bernyawa dan paling akan dikenang. Kehadiran Leroy Little Bear yang berbicara sebagai pemegang epistemologi yang berbeda secara fundamental mengingatkan pembaca bahwa krisis alam bukan hanya krisis ekologi, melainkan krisis cara manusia memahami dirinya sendiri dalam hubungannya dengan dunia. Ini adalah lapisan filosofis yang jarang hadir dalam literatur keberlanjutan korporat, dan kehadirannya di sini mengangkat buku ini jauh melampaui genre.
Namun jujur harus dikatakan: buku ini memiliki titik-titik buta yang tidak kecil. Asia Tenggara—yang menjadi rumah bagi tiga dari 25 hotspot biodiversitas dunia, hutan tropis ketiga terluas di bumi, dan negara-negara yang rantai pasokan komoditasnya paling langsung terhubung dengan hilangnya alam—tidak memiliki satu pun suara di antara 26 kontributor. Indonesia tidak disebut satu kali pun secara substantif. Ini bukan sekadar ketidaklengkapan geografis, melainkan sebuah lubang argumentasi. Sebab tanpa memahami mengapa negara-negara megabiodiversitas seperti Indonesia, Kongo, atau Brasil terus kehilangan hutan meski komitmen internasional berlipat ganda, strategi apapun yang dirumuskan akan selalu berjarak dari realitas.
Lebih dalam lagi, buku ini cenderung lebih bersifat inspiratif daripada analitik-kritis. Ketika membahas hambatan struktural terhadap transisi nature-positive, misalnya lobi industri ekstraktif yang mengalirkan dana besar ke kampanye politik, subsidi bahan bakar fosil yang mencapai USD 7 triliun per tahun secara global, buku ini menyebut beberapa tetapi tidak membedahnya secara tuntas. Ekonomi politik kehancuran alam sebetulnya adalah topik yang membutuhkan analisis kekuasaan yang lebih keras, dan absennya analisis itu adalah pilihan yang terasa disengaja. Seolah buku ini ingin menjaga pintu tetap terbuka bagi semua pihak, termasuk yang paling bertanggung jawab atas kerusakan itu.
*****
Bagi para profesional keberlanjutan perusahaan di Indonesia, buku ini, sependek pengetahuan saya, adalah argumen terkuat yang pernah ditulis mengapa SBTN dan TNFD bukanlah beban melainkan strategi bisnis jangka panjang yang paling rasional. Bagi akademisi, ia adalah undangan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkannya—terutama tentang dimensi keadilan, hak asasi, dan ekonomi politik transisi alam di kawasan kita. Bagi pembuat kebijakan, ia adalah cermin untuk menilai: apakah National Biodiversity Strategy and Action Plan (NBSAP) Indonesia sudah cukup ambisius untuk menerjemahkan komitmen GBF? Apakah target 30×30 akan tinggal di atas kertas, seperti banyak komitmen sebelumnya?
Dan bagi siapa pun yang masih bertanya apakah semua ini benar-benar mendesak, bacalah data yang tersaji di buku ini lagi, lalu putuskan sendiri.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Jalal adalah Penasihat Senior Green Network Asia. Ia seorang konsultan, penasihat, dan provokator keberlanjutan dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Ia telah bekerja untuk beberapa lembaga multilateral dan perusahaan nasional maupun multinasional dalam kapasitas sebagai subject matter expert, penasihat, maupun anggota board committee terkait CSR, keberlanjutan dan ESG; menjadi pendiri dan principal consultant di beberapa konsultan keberlanjutan; juga duduk di berbagai board dan menjadi sukarelawan di organisasi sosial yang seluruhnya mempromosikan keberlanjutan.

Menguatnya Sinyal Peringatan Perubahan Iklim
Peran Penting Kayu Mati bagi Lingkungan dan Ancaman Penyusutan Akibat Aktivitas Manusia
Ketidakadilan Pembiayaan Iklim: Bagaimana Perubahan Iklim Menguras Negara-Negara Berkembang
Pentingnya Pendekatan One Health dalam Konservasi
Bagaimana Perubahan Iklim Mengubah Peta Pangan Dunia
Bagaimana Energi Terbarukan Terdesentralisasi Mendukung Sektor Pertanian di Gambia