Mencari Petunjuk dari Karl Marx buat Menghadapi Krisis Iklim
Cover buku “Capital From Zero: Reading Marx in the Age of Climate Catastrophe” karya Kohei Saito. | Penerbit: Astra Publishing House (2026).
Ada anekdot lama tentang seorang pekerja kota yang menegur nelayan di sebuah pulau tropis karena menghabiskan siang harinya bermalas-malasan di pantai. “Bekerjalah lebih keras,” katanya, “supaya kelak kau bisa pensiun dan menghabiskan hari-harimu memancing.” Sang nelayan menjawab tanpa perlu berpikir panjang: bukankah itu yang sedang ia lakukan sekarang? Kohei Saito membuka buku barunya, Capital From Zero: Reading Marx in the Age of Climate Catastrophe, dengan lelucon usang ini justru karena ia tahu persis mengapa kita, para pekerja di perkotaan yang terus meyakinkan diri sedang menabung untuk masa depan, jarang benar-benar bisa menertawakannya sepenuh hati. Ada sesuatu di situ yang agaknya terlalu dekat dengan kenyataan kita, sehingga lelucon semacam itu biasanya hanya menghasilkan senyum kecut.
Saito, filsuf muda—ia baru akan berusia 40 tahun akhir Januari tahun depan—asal Jepang yang mengajar di Universitas Tokyo dan namanya melejit gegara buku-bukunya yang laris kali ini kembali dengan proyek yang lebih ambisius sekaligus lebih rendah hati. Ia bukan mengomentari secara kritis karya Marx, melainkan menuntun pembaca awam masuk ke jantung Capital, kitab tebal yang lebih sering dikutip ketimbang benar-benar dibaca. Kredensial akademis Saito tak main-main: doktor filsafat dari Humboldt-Universität zu Berlin, dan tercatat sebagai penerima termuda Penghargaan Isaac Deutscher—penghargaan paling bergengsi untuk kajian Marxis—pada 2018, sekaligus salah satu penyunting proyek raksasa Marx-Engels-Gesamtausgabe (MEGA) yang selama beberapa dekade terakhir menggali ulang seluruh catatan riset Marx yang belum pernah diterbitkan.
Buku yang saya baca ini diterjemahkan dari bahasa Jepang oleh Brian Bergstrom dan terbit lewat Astra House pada Juli 2026. Rasanya, buku ini semacam kelas akselerasi bagi siapa saja yang penasaran mengapa, di tengah krisis iklim yang kian menjadi-jadi, seorang filsuf secara keras kepala malah terus memaksa kita membaca kembali pemikir Jerman abad ke-19 yang bahkan tak sempat merampungkan karya utamanya sendiri.
Ringkasan Substansi
Kata pengantar buku ini, Capital and Red Ink, juga dibuka dengan lelucon Perang Dingin: seorang tahanan di Siberia mengabarkan kepada keluarganya bahwa hidupnya sempurna, hanya saja ia tak bisa membeli tinta merah, kode rahasia yang mereka sepakati untuk menandai bahwa yang ia sampaikan adalah kebohongan belaka. Saito memakai perumpamaan itu untuk kondisi kita hari ini: dikelilingi kenyamanan Netflix, Uber Eats, dan Roomba, kita kehilangan “tinta merah” untuk menyadari betapa timpang dan rapuhnya hidup yang sesungguhnya kita jalani. Marx, bagi Saito, adalah tinta merah yang terlalu cepat kita buang.
Bab pertama, Manipulated by Commodities, membedah fondasi seluruh buku: beda antara nilai guna versus nilai sebuah komoditas, dan bagaimana Kapitalisme membalik keduanya sehingga manusia berakhir diperbudak oleh benda ciptaannya sendiri, sebuah konsep yang oleh Marx disebut reifikasi. Saito memungut gambar aneh nan jenaka dari Marx: begitu sepotong kayu diubah jadi meja lalu dijual sebagai komoditas, ia seolah berdiri dengan kepalanya sendiri dan mulai menari di antara komoditas lain, menyeret manusia ikut serta dalam tarian nilai yang tak pernah sepenuhnya mereka pahami. Air kemasan, taman kota yang berubah jadi mal, bahkan hutan tua Jingū Gaien di Tokyo yang nyaris ditebang demi pusat belanja. Semua contoh kontemporer yang dipilih Saito membuat abstraksi Marx terasa sangat harfiah.
Dua bab berikutnya menelusuri bagaimana nilai lebih diperas dari tubuh pekerja. Bab kedua memakai contoh sederhana dari seorang tukang sepatu yang diberi upah harian, tetapi nilai yang diciptakan tangannya selalu lebih besar dari upah itu sendiri untuk menjelaskan mengapa Marx bersikeras bahwa memperjuangkan pemendekan jam kerja jauh lebih mendasar ketimbang sekadar menaikkan gaji: menaikkan upah tanpa memangkas jam kerja, tulis Saito, hanya membuat pekerja makin rela memperbudak dirinya sendiri. Bab ketiga lalu membongkar mengapa ramalan optimistis Keynes pada 1930—yaitu bahwa pada 2030 manusia hanya akan bekerja lima belas jam seminggu—meleset sangat jauh. Inovasi teknologi di bawah panji-panji Kapitalisme, lewat sistem Taylorisme dan pemisahan antara konsepsi dan eksekusi yang dipinjam Saito dari sosiolog Harry Braverman, dirancang bukan untuk meringankan beban pekerja, melainkan untuk merampas pengetahuan tukang dari tangan mereka dan menyerahkannya ke tangan manajemen serta mesin. Bab ini ditutup dengan diskusi tentang bullshit jobs ala antropolog David Graeber dan kisah kecil tentang upaya menghidupkan kembali dapur sekolah di Jepang, sebagai contoh bagaimana menyatukan kembali konsepsi dan eksekusi bisa mengembalikan makna kerja yang hilang.
Bab keempat, Green Capitalism: A Fairy Tale, adalah jantung ekologis buku ini sekaligus bagian yang paling menusuk bagi siapa pun yang bergelut dengan isu keberlanjutan sehari-hari seperti saya. Saito menelusuri riset agrikultur Justus von Liebig yang memengaruhi Marx muda, lalu menunjukkan bahwa jauh sebelum istilah Antroposen menjadi popular, Marx sudah mencemaskan keretakan metabolisme antara manusia dan alam: proses satu arah yang terus mengeksploitasi tanpa pernah mengembalikan, berbeda dari siklus tertutup sebuah ekosistem. Argumen inti bab ini, dan salah satu yang paling menggigit dalam seluruh buku, sederhana saja: Kapitalisme tak bisa didaur ulang menjadi hijau, karena masalahnya bukan bahan bakar yang dipakai, melainkan logika pertumbuhan tanpa akhir itu sendiri.
Dua bab penutup adalah bagian paling berani sekaligus paling rentan diperdebatkan. Bab kelima, Goodbye Lenin!, membedah tajam kegagalan sosialisme negara di Uni Soviet dan Tiongkok—yang oleh Saito disebut Kapitalisme Negara lantaran buruh tetap tak berdaya menentukan produksi—sembari melancarkan kritik atas proposal reformis seperti Universal Basic Income, Modern Monetary Theory, serta pajak kekayaan Thomas Piketty sebagai sekadar ilusi yuridis yang gagal menghadapi kemungkinan mogoknya modal. Bab keenam, Who Said Communism’s Impossible?, menutup buku dengan tesis paling penting Saito: bahwa Marx tua, terinspirasi Komune Paris 1871 dan risetnya tentang komune agraria Rusia (mir), sesungguhnya tengah bergerak menuju visi Degrowth Communism, yaitu masyarakat yang terlepas dari dorongan pertumbuhan tanpa batas, bertumpu pada koperasi pekerja dan kepemilikan bersama, jauh dari citra birokrasi Soviet yang selama ini melekat pada kata Komunisme.
Bila saya ringkaskan ke dalam tabel, kira-kira buku ini menjadi seperti ini:

Kesan Paling Kuat
Saya menghabiskan buku ini di tengah-tengah Bangkok Climate Action Week 2026, dan merasakan relevansi serta vibrasi yang sangat kuat. Penutup buku yang ditulis dengan nada yang terasa personal lantaran Saito jelas menempatkan dirinya di antara satu dekade penuh gelombang protes yang menurutnya sering kalah namun tak pernah benar-benar sia-sia: gerakan antinuklir pascabencana Fukushima yang membentuk minat awalnya pada Marxisme dan ekologi, Occupy Wall Street, Musim Semi Arab, protes Mahsa Amini di Iran, hingga kemenangan pemuda sosialis Zohran Mamdani dalam pemilihan wali kota New York. Ia mengingatkan bahwa Capital bukan cetak biru siap pakai, melainkan perkakas yang harus terus diasah dan dipakai sendiri oleh pembacanya untuk perjuangan zamannya masing-masing. Saya sepenuhnya setuju dengan pendirian ini.
Sebagai pengantar, buku ini benar-benar sangat baik, bahkan mungkin terlalu baik. Publishers Weekly, dalam ulasannya menyebut argumen Saito membawa kekuatan dan urgensi bahwa Capital tak pernah lebih relevan ketimbang di era krisis iklim ini. Ashley Dawson, menulis di Los Angeles Review of Books, memuji cara Saito menenun dengan lihai antara penjelasannya sendiri atas Marx dan kutipan langsung dari Capital, walau mencatat dua lubang besar dalam argumennya: buku ini nyaris tak menyentuh Kapitalisme Rasial ala Cedric Robinson, dan gagal mengintegrasikan kerja reproduksi sosial serta ekofeminisme Silvia Federici, padahal justru merekalah, bukan hanya buruh pabrik, yang menopang dan kerap melindungi fondasi lingkungan masyarakat.
Kritik yang lebih keras malah datang dari kalangan yang semestinya jadi sekutu alami Saito: sesama pemikir kiri. Ulasan di Chatham House dan Jacobin atas buku-buku Saito sebelumnya telah lama mempertanyakan apakah Degrowth Communism benar-benar bisa dibedakan dari resep pertumbuhan-nol yang tak pernah benar-benar tuntas menjelaskan bagaimana transisi kekuasaan politik itu bakal terjadi. Saya merasa bahwa kritik itu tetap relevan dialamatkan ke buku ini. Bagi saya, Saito jauh lebih meyakinkan ketika membedah penyakit Kapitalisme ketimbang saat meresepkan obatnya. Begitu argumen sampai ke koperasi pekerja dan gerakan munisipalisme Barcelona sebagai cetak biru masa depan, ketajaman yang tadi begitu memikat tiba-tiba terasa menjadi harapan yang bisa terwujud di tempat-tempat tertentu belaka.
Bagi siapa pun yang bekerja di bidang keberlanjutan perusahaan seperti saya, buku ini semestinya dibaca bukan sebagai bacaan selintasan, melainkan sebagai tantangan langsung ke jantung profesi. Bab keempat dan kelima, bila digabungkan, pada dasarnya menuduh seluruh arsitektur reformisme hijau, dari perdagangan karbon hingga transisi berkeadilan yang disokong serikat pekerja internasional, sebagai pengalihan belaka, yang membuat Kapitalisme tampak bisa didekonstruksi tanpa benar-benar dibongkar. Itu tuduhan yang tak selesai hanya dengan menunjuk angka penurunan emisi di satu laporan keberlanjutan perusahaan. Ia menuntut jawaban tentang siapa sesungguhnya yang berkuasa memutuskan ke mana pembiayaan dan investasi mengalir, dan ini adalah pertanyaan yang, disukai atau tidak, akan terus menghantui setiap upaya mendamaikan pertumbuhan dengan daya dukung dan daya tampung planet yang terbatas.
Di ujung buku, Saito menulis bahwa dirinya tak memegang kunci ajaib untuk membuka pintu masa depan, dan barangkali di situlah kejujuran terbesar buku ini bersemayam. Saya lalu teringat kembali ke perumpamaan meja kayu yang tetiba menari di bab pertama, lantaran Saito tidak menjanjikan bisa menghentikan tariannya. Yang ia tawarkan hanyalah undangan untuk berhenti sejenak, menoleh ke kaki sendiri yang ternyata ikut melangkah mengikuti irama komoditas itu, lalu bertanya, kali ini perlu ditulis dengan tinta merah, apakah kita benar-benar memilih untuk menari, atau sekadar lupa bahwa kita sebetulnya masih bisa memilih untuk berhenti.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Jalal adalah Penasihat Senior Green Network Asia. Ia seorang konsultan, penasihat, dan provokator keberlanjutan dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Ia telah bekerja untuk beberapa lembaga multilateral dan perusahaan nasional maupun multinasional dalam kapasitas sebagai subject matter expert, penasihat, maupun anggota board committee terkait CSR, keberlanjutan dan ESG; menjadi pendiri dan principal consultant di beberapa konsultan keberlanjutan; juga duduk di berbagai board dan menjadi sukarelawan di organisasi sosial yang seluruhnya mempromosikan keberlanjutan.

EESG: Pentingnya Narasi Ekonomi Baru untuk Keberlanjutan di Era AI, Krisis Energi, dan Perpecahan Geopolitik
Menghentikan Maternal Buffering: Keberlanjutan Harus Dimulai dari Isi Piring yang Setara
Seksisme yang Terus Berlanjut terkait Pakaian Olahraga Perempuan
Sejauh Mana Potensi Pengomposan untuk Menyelamatkan Bumi?
Mengintegrasikan Kesehatan Mental ke dalam Kebijakan Lingkungan
Kenaikan Suhu Melampaui 1,5°C di Depan Mata, Apa yang Bisa Kita Lakukan?