Bagaimana Perkembangan Kesehatan Anak Perempuan dalam Tiga Dekade Terakhir?
Foto: RDNE Stock Project di Pexels.
Anak perempuan memiliki potensi besar untuk membentuk masa depan mereka sendiri dan masa depan dunia. Mendukung berbagai aspek tumbuh kembang mereka merupakan kunci untuk membuka potensi tersebut. Namun, kesehatan anak perempuan masih berada di persimpangan jalan yang rapuh. Meskipun ada kemajuan dalam beberapa dekade terakhir, banyak remaja perempuan yang masih menghadapi tantangan kesehatan yang serius. Laporan UNICEF mengulik sejauh mana dukungan terhadap kesehatan anak perempuan dan apa saja yang perlu ditingkatkan.
Perkembangan Kesehatan Anak Perempuan
Masa remaja adalah masa penting bagi anak perempuan, yang membentuk fisik, mental, dan masa depan mereka. Namun, banyak anak perempuan di seluruh dunia yang menghadapi tantangan seperti pernikahan dini, kekerasan berbasis gender, putus sekolah, dan berbagai isu lainnya. Saat ini, 122 juta anak perempuan tidak bersekolah dan mereka yang berusia 15-19 tahun menghadapi risiko yang lebih tinggi tidak mendapatkan pendidikan atau pekerjaan dibandingkan anak laki-laki. Hambatan-hambatan ini membatasi peluang mereka untuk berkembang dan menentukan pilihan hidup mereka sendiri.
Kesehatan anak perempuan juga menjadi masalah yang sangat memprihatinkan. Setiap tahun, sekitar 21 juta anak perempuan berusia 15-19 tahun di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah mengalami kehamilan. Lebih dari separuh kehamilan tersebut berakhir dengan aborsi yang membahayakan nyawa mereka. Fakta-fakta ini mengingatkan kita bahwa kesehatan anak perempuan bukanlah isu yang berdiri sendiri, melainkan melekat dengan masalah pendidikan, keselamatan, dan kesempatan.
Untuk merefleksikan masa lalu dan merencanakan masa depan, UNICEF merilis laporan berjudul “Girl Goals: What Has Changed for Girls?” yang mengulik perkembangan yang telah dicapai selama 30 tahun terakhir dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan, keselamatan, kebersihan, dan kesehatan.
Kemajuan dan Tantangan
Laporan tersebut menunjukkan bahwa meskipun telah tiga dekade berlalu, kesenjangan kesehatan remaja perempuan di negara-negara berpenghasilan rendah masih belum berubah. Seorang anak perempuan berusia 15 tahun di negara berpenghasilan rendah diperkirakan hidup selama 72,3 tahun, 12 tahun lebih pendek dibandingkan dengan anak sebayanya di negara berpenghasilan tinggi dan 8,1 tahun lebih pendek dibandingkan 30 tahun lalu.
Kesehatan dan harapan hidup berkaitan erat dengan pencegahan penyakit, terutama melalui vaksin. Salah satu kemajuan signifikan adalah peningkatan cakupan vaksin HPV, yang naik dari 3% pada 2010 menjadi 20% pada 2023. Namun, di wilayah Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika Utara, cakupan vaksin masih sangat rendah, hanya sekitar 1-2%.
Begitu pula dengan pencegahan HIV. Sejak 1995, infeksi HIV pada remaja menurun hingga 68%, dari 305.000 menjadi 96.000 kasus secara global. Namun, anak perempuan tetap lebih berisiko terinfeksi dibandingkan anak laki-laki. Contohnya, pada tahun 2023, anak perempuan hampir enam kali lebih banyak terinfeksi HIV daripada anak laki-laki di Afrika sub-Sahara.
Terakhir, aspek utama kesehatan anak perempuan adalah nutrisi, yang penting untuk pertumbuhan dan kesejahteraan mereka. Secara global, persentase anak perempuan dengan kekurangan berat badan turun dari 10% pada 1995 menjadi 8% pada 2022, dengan Asia Selatan mengalami penurunan terbesar meskipun tetap di angka tertinggi. Sementara itu, jumlah anak perempuan dengan kelebihan berat badan meningkat dua kali lipat menjadi 16%, terutama di Amerika Latin. Perubahan ini menekankan perlunya sistem kesehatan yang lebih responsif dan inklusif untuk menghadapi tantangan kesehatan dan gizi.
Hak-hak Anak Perempuan
Selama tiga puluh tahun terakhir, terdapat kemajuan nyata dalam meningkatkan hak-hak anak perempuan dalam berbagai aspek, termasuk pendidikan, keselamatan, ekonomi, akses air bersih dan sanitasi, dan kesehatan. Bagaimana pun, hak-hak anak perempuan merupakan elemen penting dalam kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
Meski demikian, masih banyak upaya yang perlu dilakukan untuk mencapai kemajuan yang bermakna dan inklusif dalam melindungi hak-hak anak perempuan. Laporan tersebut memberikan beberapa rekomendasi utama, sebagai berikut:
- Memberikan dukungan yang jelas dan praktis bagi anak perempuan untuk berbicara, mengadvokasi, dan bertindak.
- Menetapkan tujuan yang jelas untuk perubahan yang fokus pada remaja perempuan, yang seringkali terabaikan.
- Berinvestasi secara bijak dalam sumber daya untuk menciptakan peluang sosial dan ekonomi bagi remaja perempuan.
Baca laporan selengkapnya di sini
Penerjemah: Kesya Arla
Editor: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja