ASEAN Luncurkan Peta Jalan Menuju Pariwisata Berkelanjutan
Foto: Milada Vigerova di Unsplash.
Asia Tenggara terkenal dengan pariwisatanya, menarik jutaan wisatawan dari berbagai negara setiap tahunnya dengan kekayaan sejarahnya, pemandangan alam yang menakjubkan, dan kulinernya yang lezat. Namun, sektor pariwisata yang berkembang bukannya tanpa kelemahan. Untuk memastikan manfaat pariwisata tanpa menimbulkan dampak buruk, ASEAN telah mengembangkan peta jalan untuk pariwisata berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.
Dualitas Pariwisata
Pariwisata memainkan peran penting dalam perekonomian Asia Tenggara, menarik lebih dari 96 juta wisatawan asing pada tahun 2023 dan menghasilkan 306 miliar USD (setara Rp4.765 triliun). Namun, industri pariwisata yang kuat memiliki tantangan tersendiri yang perlu diatasi untuk memastikan keberlanjutan. Salah satunya adalah overtourism yang dapat membebani infrastruktur lokal dan merusak lingkungan.
Contoh overtourims terjadi di Pulau Boracay, Filipina, yang mengalami peningkatan pengunjung sebesar 160% namun kemudian ditutup sementara untuk rehabilitasi lingkungan karena sistem pengelolaan kotoran dan limbah yang tidak memadai. Demikian pula, overtourism di Bali menyebabkan kepadatan penduduk, meroketnya biaya hidup, memperparah krisis air, menimbulkan masalah lalu lintas, penumpukan sampah, dan alih fungsi lahan yang merajalela.
Peta Jalan ASEAN Menuju Pariwisata Berkelanjutan
Untuk mengatasi tantangan pariwisata saat ini dan di masa depan, ASEAN telah meluncurkan “Peta Jalan Aksi untuk Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan di ASEAN”. Peta jalan ini disusun untuk membantu negara-negara anggota ASEAN dalam mengembangkan industri pariwisata yang tangguh dan berkelanjutan untuk jangka panjang. Peta jalan ini memaparkan prioritas yang harus dilakukan berdasarkan konsultasi dengan negara-negara anggota, menetapkan tujuan strategis, dan menentukan tindakan untuk mendukung tujuan tersebut.
Beberapa poin utama yang ditekankan dalam peta jalan ini adalah pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, inklusivitas sosial, efisiensi sumber daya dan kelestarian lingkungan, perlindungan keanekaragaman dan warisan budaya, serta perencanaan dan adaptasi ketahanan.
Pada level kebijakan dan perencanaan, peta jalan ini menggarisbawahi pentingnya penguatan regulasi dan pemantauan yang ketat terhadap lingkungan destinasi wisata. Hal ini juga memerlukan investasi pada infrastruktur yang hemat sumber daya dan mobilitas rendah karbon, seperti penggunaan sumber energi terbarukan dan kendaraan listrik.
Selain itu, peta jalan ini menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dengan mengidentifikasi kesenjangan keterampilan dan memberikan peluang peningkatan keterampilan sekaligus melindungi hak-hak pekerja bagi komunitas lokal dan UMKM. Selain itu, peta jalan ini juga menyebutkan perlunya memprioritaskan perlindungan budaya dan warisan di wilayah destinasi wisata.
Mewujudkan Keberlanjutan dan Ketahanan
Memastikan keberlanjutan sangat penting bagi keseimbangan pertumbuhan ekonomi, pengelolaan sumber daya, pelestarian lingkungan, serta keadilan dan inklusivitas sosial. Hal ini juga berlaku bagi sektor pariwisata. Untuk itu, peta jalan ini merekomendasikan beberapa tindakan utama yang mencakup peninjauan dan pemutakhiran strategi pariwisata berkelanjutan dari tingkat lokal hingga nasional.
Selain itu, perencanaan ketahanan dan adaptasi juga tidak kalah penting. Membentuk satgas, berinvestasi pada infrastruktur yang berketahanan, melakukan penilaian risiko untuk bersiap menghadapi krisis atau bencana, dan mengembangkan rencana darurat merupakan langkah-langkah penting untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan. Pada akhirnya, mewujudkan pariwisata yang berketahanan dan berkelanjutan di Asia Tenggara mengharuskan seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja sama.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan