Filipina Beri Remisi Narapidana yang Rajin Baca Buku
Foto: RDNE Stock project di Pexels.
Pembangunan berkelanjutan menekankan pentingnya “tidak meninggalkan seorang pun pun di belakang”, termasuk orang-orang yang menjalani hukuman penjara. Namun, kepadatan lembaga pemasyarakatan telah menjadi masalah yang semakin umum, sehingga berdampak pada kesejahteraan narapidana. Terkait hal ini, pemerintah Filipina dan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) meluncurkan inisiatif “Read Your Way Out” untuk mengurangi kepadatan penjara.
Kepadatan Penjara
Populasi penjara di Asia Tenggara telah meningkat pesat dalam setidaknya satu dekade terakhir. Dari tahun 2010 hingga 2019, jumlah narapidana meningkat lebih dari 76%, mencapai 1.188.000 orang. Akibatnya, banyak lembaga pemasyarakatan (lapas) di Asia Tenggara yang mengalami kelebihan kapasitas karena tidak mampu mengimbangi peningkatan jumlah tahanan. Banyak lapas yang bahkan memiliki tingkat okupansi di atas 200%.
Kelebihan kapasitas di lapas disebabkan oleh beberapa faktor yang kompleks, dan kebijakan pengadilan pidana menjadi kontributor utama. Kebijakan tertentu seringkali menyebabkan lebih banyak orang dipenjara karena terbatasnya pilihan untuk menghukum orang-orang karena pelanggaran ringan, penahanan praperadilan yang melebihi batas waktu, atau masalah terkait lainnya.
Terbatasnya ruang yang memadai di lapas menyebabkan berbagai masalah, termasuk risiko kesehatan yang lebih tinggi seperti penyebaran penyakit menular, peningkatan masalah kesehatan mental, dan kemungkinan terjadinya kekerasan yang lebih besar. Masalah-masalah ini membuat pengelolaan lapas menjadi semakin sulit, mempersulit pemenuhan kebutuhan dasar tahanan, dan meningkatkan risiko keselamatan dan keamanan bagi narapidana dan staf.
Remisi Narapidana yang Rajin Baca Buku
Inisiatif “Read Your Way Out” merupakan buah kemitraan antara Biro Manajemen Penjara dan Penologi Filipina dengan UNODC, yang dirancang untuk mengatasi masalah kepadatan penjara di Filipina.
Inisiatif ini menawarkan remisi kepada narapidana yang rajin membaca buku, di mana mereka bisa mendapatkan pengurangan hukuman 15 hari untuk setiap 60 jam membaca buku setiap bulan. Selain meningkatkan literasi di kalangan narapidana, inisiatif ini sekaligus menjadi solusi potensial dalam mengatasi kepadatan yang berlebihan di lembaga pemasyarakatan.
Program ini melibatkan kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk institusi akademis, lembaga pemerintah, dan organisasi internasional, untuk menyediakan bahan bacaan yang dapat mendorong peningkatan kapasitas individu dan pendidikan para napi, yang penting untuk keberhasilan reintegrasi mereka ke dalam masyarakat.
Tidak Meninggalkan Seorang Pun di Belakang
Lembaga pemasyarakatan punya tanggung jawab untuk mempersiapkan para narapidana untuk berintegrasi kembali ke dalam masyarakat dan membantu mengubah kehidupan mereka menjadi individu yang lebih baik. Sayangnya, lapas yang kelebihan kapasitas akan membatasi akses terhadap berbagai sumber daya, menghambat rehabilitasi yang efektif, dan membuat narapidana tidak mendapatkan kualitas hidup yang manusiawi dan layak.
Inisiatif unik yang dipraktikkan di Filipina menunjukkan bahwa literasi dapat digunakan untuk mengatasi masalah kepadatan penjara sekaligus meningkatkan kapasitas individu narapidana. Sekali lagi, penjara yang penuh sesak bertentangan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang bersifat universal, yakni tidak meninggalkan seorang pun di belakang.
Editor: Kresentia Madina
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut