Mengarusutamakan Investasi Berdampak untuk Pembangunan Berkelanjutan
Foto: Rawpixel.com di Pxhere.
Selama ini, investasi umumnya hanya berfokus pada keuntungan, yang seringkali menyebabkan kerusakan lingkungan. Di tengah pemanasan suhu Bumi dan dampaknya, bisnis dan para investor harus memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan. Dalam hal ini, investasi berdampak (impact investing) dapat menjadi solusi. Tidak hanya dapat menghasilkan keuntungan, investasi berdampak juga memungkinkan investor berkontribusi terhadap perubahan positif demi masa depan yang berkelanjutan.
Investasi dan Biaya Lingkungan
Berinvestasi ibarat menanam benih dengan harapan akan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih berharga seiring waktu. Dalam bidang keuangan, tujuan utamanya adalah uang. Meskipun dapat menguntungkan bagi perusahaan yang ingin melakukan ekspansi dan investor yang menginginkan keuntungan jangka panjang, investasi tidak selalu bermanfaat bagi lingkungan—bahkan sering mengancam.
Investasi merupakan pedang bermata dua. Di balik praktik ekspansi bisnis dengan dalih menggerakkan perekonomian, investasi turut berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan, seperti penggundulan hutan, emisi gas rumah kaca, dan hilangnya keanekaragaman hayati, termasuk penanaman modal asing langsung. Hipotesis Surga Polusi (Pollution Haven Hypothesis), yang diperkenalkan pada tahun 1994, menyatakan bahwa penanaman modal asing di negara-negara berkembang oleh negara-negara maju seringkali menyebabkan lebih banyak polusi karena praktik produksi yang ‘kotor’ dan kurangnya peraturan lingkungan.
Selain itu, ekspansi bisnis seringkali menghasilkan produksi yang lebih tinggi sehingga menghasilkan lebih banyak emisi. Selain berdampak buruk terhadap lingkungan, hal ini juga dapat menghambat pertumbuhan bisnis itu sendiri. Industri yang terkenal dengan emisi karbonnya yang tinggi akan terbentur dengan peraturan lingkungan, yang berpotensi menghambat investasi perusahaan.
Pada dasarnya, proses ekspansi bisnis untuk meningkatkan output dan keuntungan dapat menciptakan hambatan terhadap pertumbuhan bisnis karena kendala lingkungan dan tekanan peraturan terhadap industri padat karbon.
Investasi Berdampak

Untuk menghindari dampak buruk tersebut, investasi berdampak dapat dipertimbangkan. Investasi jenis ini memberikan penekanan pada peningkatan pendapatan sekaligus pencapaian tujuan sosial dan lingkungan. Tujuannya adalah untuk mendukung pertumbuhan industri yang berkontribusi terhadap dampak lingkungan dan sosial yang positif, sekaligus menghasilkan keuntungan.
Investasi berdampak dapat berupa pemberian pinjaman kecil kepada usaha kecil yang tidak memiliki akses terhadap perbankan tradisional, perumahan terjangkau, teknologi pendidikan, atau pertanian berkelanjutan. Seiring dengan upaya dunia untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050, urgensi investasi berdampak semakin meningkat. Itu sebabnya, investasi pada energi ramah lingkungan dan kendaraan listrik semakin meningkat.
Pasar investasi berdampak telah tumbuh secara signifikan dalam 15 tahun terakhir, dimulai dari $25 miliar aset yang dikelola (assets under management/AUM) pada tahun 2013 dan mencapai sekitar $502 miliar AUM pada tahun 2019. Pada tahun 2023, investasi berdampak diperkirakan mencapai sekitar $3 triliun dan diharapkan akan terus meningkat menjadi $7,78 triliun pada tahun 2033.
Investasi berdampak menawarkan alternatif menarik atas investasi tradisional yang hanya menghasilkan keuntungan. Model investasi ini mendukung industri yang mendorong perubahan positif, memberikan keuntungan bagi investor sekaligus berkontribusi terhadap masa depan yang berkelanjutan. Dengan dorongan global untuk mencapai netralitas karbon, signifikansi dan nilai pasar dari investasi berdampak menjadi lebih jelas. Seiring meningkatnya investasi pada energi ramah lingkungan dan sektor ramah lingkungan lainnya, investasi berdampak menjadi sangat penting dalam mendorong inovasi dan bergerak menuju masa depan yang berkelanjutan.
Tantangan dan Peluang
Namun, investasi berdampak di negara berkembang seringkali menghadapi tantangan seperti lemahnya tata kelola, korupsi, dan terbatasnya transparansi praktik bisnis. Oleh karena itu, diperlukan kerangka hukum yang kuat serta kondisi bisnis yang stabil.
Selain itu, hambatan-hambatan seperti greenwashing dan impact-washing perlu diatasi dalam sektor ini. Kurangnya metodologi pengukuran dampak yang terstandarisasi menyulitkan investor untuk mengidentifikasi dan mendukung investasi yang selaras dengan tujuan dampak mereka. Investor harus memastikan bahwa investasi mereka benar-benar berkontribusi positif terhadap sosial dan lingkungan.
Investasi berdampak berpotensi untuk membuat perbedaan dalam pendanaan aksi iklim dan memajukan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dengan menerapkan investasi berdampak dan mendorong kerja sama di berbagai sektor, bisnis dan investor dapat memainkan peran penting dalam membangun masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan bagi semua orang.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan