Oncom: Bagaimana Jamur dapat Dimanfaatkan untuk Daur Ulang Sampah Makanan
Foto:Hariadhi di Wikimedia Commons.
Pesatnya peningkatan permintaan akan produk-produk pertanian telah menyebabkan lebih banyak sampah makanan yang dihasilkan. Jika tidak dikelola dengan benar, sampah makanan dapat menimbulkan bahaya. Terkait hal ini, daur ulang sampah makanan dengan menggunakan jamur dapat menjadi pilihan yang tepat untuk menciptakan makanan yang lezat sekaligus mendukung praktik pangan berkelanjutan. Oncom adalah satu contoh untuk hal ini.
Daur Ulang Sampah Makanan
Sampah makanan merupakan masalah besar saat ini. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan sepertiga dari seluruh makanan yang diproduksi, atau sekitar 1,3 miliar ton, terbuang setiap tahunnya. Sampah makanan menyumbang sekitar 8-10% dari total emisi gas rumah kaca. Sebagian sampah makanan melepaskan gas metana, yang 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida. Di tengah meningkatnya suhu global, pengurangan dan pengelolaan sampah makanan menjadi hal yang mendesak.
Daur ulang sampah makanan berpotensi mengurangi kerusakan lingkungan dan hilangnya energi. Prosesnya melibatkan transformasi sampah makanan menjadi produk baru yang dapat dimakan.
Di Indonesia sendiri, orang-orang selama ini telah sering memanfaatkan limbah kedelai sebagai sumber atau bahan baku makanan yang lezat. Caranya dengan menggunakan jamur dan proses fermentasi untuk mengubah sampah menjadi makanan yang mudah diolah. Jamur yang biasa digunakan dalam proses ini adalah Aspergillus dan Neurospora yang menguraikan karbohidrat kompleks dan protein pada limbah kedelai. Proses fermentasi ini mengubah sampah menjadi produk makanan baru yang lebih bergizi dan mudah dicerna.
Salah satu makanan berbahan dasar limbah kedelai yang banyak dikonsumsi adalah oncom, yang dikenal sebagai makanan khas Jawa Barat. Oncom terbuat dari hasil fermentasi kedelai atau kacang tanah dengan cetakan yang dapat dimakan. Dengan teksturnya yang mirip bolu, oncom kaya akan protein dan probiotik. Selain kandungan nutrisinya, penganan ini menjadi favorit banyak orang karena rasanya yang gurih dan merakyat.
Memperluas Penggunaan Jamur
Terinspirasi oleh oncom, sekelompok peneliti dari Berkeley melakukan studi tentang penggunaan jamur Neurospora untuk tujuan daur ulang sampah makanan. Studi tersebut berupaya mengeksplorasi potensi penciptaan produk makanan dari limbah dengan menggunakan jamur yang selaras dengan pola makan orang Barat dan memperluas penggunaan jamur dalam praktik pangan berkelanjutan.
Salah satu eksperimennya melibatkan penanaman Neurospora intermedia pada berbagai jenis sisa makanan, mulai dari buah dan sayuran hingga limbah susu nabati. Hasilnya menunjukkan bahwa jamur berhasil tumbuh pada 30 jenis produk sampingan pertanian yang berbeda. Mereka juga melakukan survei dengan uji rasa oncom goreng yang mendapat reaksi positif dari konsumen yang belum pernah mencobanya.
“Penemuan kami, menurut saya, membuka mata kita terhadap kemungkinan-kemungkinan ini dan membuka lebih jauh potensi jamur bagi kesehatan dan keberlanjutan Bumi,” kata Hill-Maini, peneliti utama dari studi tersebut.
Menciptakan Pangan Berkelanjutan
Peralihan ke sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan mengurangi limbah pertanian sangat penting di tengah krisis iklim saat ini. Mengolah sampah makanan menjadi makanan baru dapat menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan. Oleh karena itu, memperluas dan mempromosikan praktik-praktik semacam ini merupakan hal yang sangat penting agar lebih banyak orang yang dapat mengubah sampah makanan menjadi makanan bergizi yang disesuaikan dengan kebiasaan dan budaya makan mereka.
Selain mengurangi sampah, praktik pangan berkelanjutan juga harus mengatasi masalah kerawanan pangan dengan berfokus pada aksesibilitas dan keterjangkauan, serta mengoptimalkan sumber daya untuk produksi pangan. Pemerintah harus membuat peraturan yang kuat untuk memberi insentif pada produksi pangan berkelanjutan, menjamin keamanan pangan, dan pada akhirnya menciptakan sistem pangan yang lebih baik untuk kesejahteraan semua
Editor: Kresentia Madina & Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Memperkuat Penanggulangan Campak di Indonesia
Gambut di Cekungan Kongo Mulai Lepaskan Karbon Purba
Pemerintah Tetapkan Larangan Akses Media Sosial bagi Anak di Bawah Usia 16 Tahun
Pergeseran Aktivisme Iklim Kaum Muda di Berbagai Negara
Mahkamah Agung India Tetapkan Kesehatan dan Kebersihan Menstruasi sebagai Hak Dasar
Asa Baru Perluasan Perlindungan: Penyakit Kronis Bisa Masuk Kategori Disabilitas