Pelestarian Rawa untuk Tingkatkan Perlindungan Wilayah Pesisir
Foto: Seth Hoffman di Unsplash.
Dampak perubahan iklim semakin terasa dari hari ke hari. Salah satunya adalah kenaikan permukaan air laut yang dapat menyebabkan banjir pesisir, erosi, dan banyak bencana lainnya. Mengingat banyak penduduk yang tinggal di wilayah pesisir, penting untuk melindungi garis pantai dan membangun penghalang untuk menjaga keamanan dan mendukung ekosistem di wilayah tersebut. Terkait hal ini, penelitian menemukan bahwa melestarikan rawa dapat menjadi langkah yang tepat untuk mendukung perlindungan wilayah pesisir.
Wilayah Pesisir dan Rawa
Secara historis, kota dan permukiman sering dibangun di dekat garis pantai untuk mempermudah akses perdagangan dan transportasi. Saat ini, sekitar sepertiga penduduk dunia tinggal di wilayah pesisir, yang kepadatan penduduknya dua kali lipat dibandingkan rata-rata global. Sayangnya, banyak wilayah pesisir yang berisiko mengalami degradasi akibat pembangunan.
Melindungi garis pantai dan melestarikan karakter alaminya menjadi semakin mendesak di tengah risiko perubahan iklim. Dalam hal ini, lahan basah memainkan peran penting dalam upaya ini, termasuk rawa-rawa. Rawa-rawa adalah jenis lahan basah berair yang ditutupi rerumputan dan semak.
Di wilayah pesisir, rawa umumnya berfungsi sebagai penyaring polutan, meningkatkan kualitas air dengan mengubah unsur hara terlarut menjadi material tanaman. Di banyak komunitas, rawa biasanya dijadikan sebagai sumber air dan berfungsi sebagai tempat berkembang biak ikan-ikan yang bernilai komersial, sehingga menjadi mata pencaharian bagi penduduk. Rawa juga menjadi penyangga alami terhadap gelombang besar, sehingga berperan penting dalam perlindungan garis pantai
Rawa untuk Perlindungan Wilayah Pesisir
Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa menjaga rawa-rawa di dekat tembok laut dapat meningkatkan perlindungan garis pantai. Para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology menemukan bahwa memulihkan rawa-rawa pesisir tidak hanya dapat menjaga ekosistem alami dan lingkungan, namun juga dapat memberi keuntungan secara ekonomi.
Meski tembok laut dibangun untuk melindungi garis pantai, pembangunan dan pemeliharaannya membutuhkan biaya besar. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan melestarikan rawa-rawa pesisir, yang secara alami mengurangi energi gelombang, tembok laut dapat dibangun lebih rendah. Hal ini dapat menurunkan biaya konstruksi dengan tetap memberikan perlindungan badai yang efektif. Bahkan, rawa-rawa yang lebih kecil, yang lebarnya hanya puluhan meter pun dapat menimbulkan perbedaan penyerapan energi.
Selain itu, penelitian tersebut mengkaji seberapa besar ketinggian tembok laut dapat diturunkan jika terdapat rawa. Para peneliti menggunakan model komputer untuk mensimulasikan bagaimana gelombang berinteraksi dengan kondisi pantai yang berbeda dengan berfokus pada karakteristik berbagai tanaman rawa asin, termasuk tinggi, kekakuan, dan kepadatannya, serta perubahan musimnya.
Hasil Penelitian sebagai Landasan Kebijakan
Krisis iklim dan dampaknya merupakan ancaman nyata yang berdampak pada seluruh makhluk hidup di Bumi. Sementara penelitian mengenai kemungkinan solusi terhadap permasalahan saat ini dan masa depan terus berlanjut, tantangan yang sebenarnya lebih terletak pada tindak lanjut temuan ilmiah untuk dijadikan landasan perumusan kebijakan. Oleh karena itu, komitmen global dan dedikasi para pemangku kepentingan untuk mengadopsi temuan-temuan ilmiah yang mendorong pembangunan yang selaras dengan alam sangat penting untuk masa depan yang lebih berketahanan dan aman bagi semua orang.
Editor: Kresentia Madina & Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut