Menilik Beton Penangkap Karbon untuk Industri Konstruksi yang Lebih Berkelanjutan
Foto: Scott Blake di Unsplash.
Infrastruktur telah dianggap penting untuk pembangunan. Namun, sektor konstruksi sering kali bergantung pada material yang boros sumber daya dan energi, yang menimbulkan jejak karbon yang signifikan. Untuk mengatasi hal ini, para peneliti di Singapura telah mengembangkan metode pencetakan beton penangkap karbon yang dapat menawarkan solusi alternatif untuk mengurangi jejak karbon industri konstruksi dan mempromosikan praktik yang lebih berkelanjutan.
Dampak Lingkungan Sektor Konstruksi
Proses dan operasi konstruksi berkontribusi terhadap 37% emisi energi global, menjadikannya pendorong utama perubahan iklim.
Salah satu sumber utamanya adalah penggunaan material yang boros sumber daya dan energi. Semen, material yang banyak digunakan dalam konstruksi bangunan, memerlukan pemanasan batu kapur pada suhu yang sangat tinggi, yakni sekitar 1.450°C hanya pada tahap produksi klinker. Proses ini menghabiskan banyak energi, sebagian besar dari bahan bakar fosil. Selain itu, sekitar 0,9 ton CO₂ dihasilkan untuk setiap ton semen yang diproduksi.
Lebih lanjut, mesin berat, pengangkutan material, dan aktivitas lainnya sebagian besar masih menggunakan bahan bakar fosil, sehingga meningkatkan permintaan energi dan emisi karbon di sektor konstruksi. Pembakaran bahan bakar fosil juga menyebabkan polusi udara dan suara.
Pencetakan Beton Penangkap Karbon
Sektor konstruksi berperan besar dalam pembangunan global, sehingga sangat penting untuk meningkatkan praktik yang lebih berkelanjutan untuk meminimalkan kerusakan. Salah satu solusi potensial datang dari para peneliti dari Universitas Teknologi Nanyang, Singapura, yang mengembangkan sebuah metode dalam teknologi pencetakan beton 3D yang berfokus pada pengurangan emisi karbon selama produksi.
Pencetakan beton 3D adalah metode konstruksi di mana lengan robot melapisi bahan berbasis semen untuk membuat struktur beton. Metode yang dikembangkan oleh para peneliti NTU menggunakan sistem ekstrusi dua langkah di mana karbon yang ditangkap dari proses industri langsung ditambahkan ke campuran beton selama pencetakan.
Karbon diserap ke dalam campuran beton melalui nosel pencetakan 3D. Setelah diserap, karbon akan memicu reaksi kimia yang dikenal sebagai karbonasi, di mana karbon akan bereaksi dengan bahan beton untuk membentuk senyawa padat seperti kalsium karbonat. Penambahan uap digunakan untuk meningkatkan proses, yang mempercepat reaksi dan meningkatkan kualitas beton.
Beton yang dihasilkan memiliki beberapa keunggulan dibandingkan beton tradisional atau metode pengurangan karbon lainnya. Menjadi 36,8% lebih kuat di bawah beban berat atau tekanan dan 45,3% lebih tahan terhadap pembengkokan atau keretakan, sehingga lebih kuat dan lebih tahan lama.
Selain itu, kemampuan cetaknya meningkat hingga 50%. Yang terpenting, metode ini memungkinkan penyerapan karbon 38,2% lebih tinggi dibandingkan dengan metode karbonasi standar, yang secara signifikan membantu mengurangi emisi karbon.
Mengarusutamakan Konstruksi Berkelanjutan
Mengingat peran penting konstruksi dalam pembangunan, menemukan praktik yang ramah lingkungan sangat penting untuk keberlanjutan. Pemerintah, bisnis, dan pelaku utama lainnya di sektor ini harus menyadari pentingnya penelitian dan pengembangan berkesinambungan terkait bahan dan proses konstruksi yang berkelanjutan. Lebih jauh, praktik rendah karbon dan teknologi penangkapan karbon penting untuk dipromosikan dan diarusutamakan untuk mengurangi dampak lingkungan.
Selain itu, transisi menuju energi terbarukan untuk peralatan konstruksi sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Mengalihkan standar bangunan ke arah keberlanjutan, yang didukung oleh peraturan dan sertifikasi hijau, diperlukan untuk memastikan kepatuhan terhadap praktik ramah lingkungan dan menyediakan lingkungan binaan yang berkelanjutan untuk semua.
Editor: Kresentia Madina & Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan