Menengok Pengembangan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan di India
Foto: Shaifuzzaman Ayon di Wikimedia Commons.
Di era modern, perjalanan udara telah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang, terutama untuk menempuh jarak yang jauh. Meskipun efisien, kekhawatiran akan dampak lingkungan dari penerbangan udara muncul dalam beberapa tahun terakhir, yang menggarisbawahi pentingnya beralih ke bahan bakar rendah karbon dan menciptakan industri perjalanan yang lebih berkelanjutan. Untuk mengatasi tantangan ini, Airbus menjalin kolaborasi dengan Indian Institute of Petroleum (IIP) untuk mengembangkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF) di India.
Pertumbuhan Industri Penerbangan India
Industri penerbangan berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Menurut Badan Energi Internasional pada tahun 2022, penerbangan menyumbang 2% emisi karbon dioksida (CO2) terkait energi global, atau sekitar 800 juta ton CO2.
Secara global, perjalanan udara tumbuh lebih cepat dibandingkan moda transportasi lainnya dalam beberapa dekade terakhir, termasuk di India. Pada tahun 2022, India menggandakan operasional bandara sipilnya menjadi 149. Selain itu, dua perusahaan penerbangan terkemuka India, yakni Air India dan IndiGo, merespons proyeksi pertumbuhan tahunan sebesar 7% jumlah penumpang di India dengan menambah armada pesawat mereka, dimana Air India memesan 470 pesawat dan IndiGo memesan 500 pesawat.
Di sisi lain, pertumbuhan industri penerbangan juga dibarengi dengan dampak negatifnya terhadap lingkungan. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mengungkap bahwa dampak penerbangan secara keseluruhan 2 hingga 4 kali lebih besar dibandingkan dampak emisi karbonnya. Di dataran tinggi, emisi penerbangan mengubah sifat atmosfer, menyebabkan peningkatan gas rumah kaca dan jalur kondensasi, sehingga menghasilkan efek pemanasan iklim yang lebih besar dibanding CO2 semata.
Pengembangan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan di India
Dalam upaya meminimalkan dampak lingkungan dari industri penerbangan, Airbus dan CSIR-Indian Institute of Petroleum (CSIR-IIP) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada 19 Januari 2024. Melalui kerja sama ini, mereka akan berkolaborasi dalam pengembangan dan pengujian Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) dalam negeri di India.
“SAF adalah salah satu pilar utama peta jalan dekarbonisasi Airbus. Kami percaya bahwa India punya potensi untuk menjadi pusat produksi SAF global dengan memanfaatkan ketersediaan bahan baku, talenta lokal, dan keandalan teknologi serta kemampuan India untuk meningkatkan solusi,” kata Rémi Maillard, Presiden dan Direktur Pelaksana Airbus India dan Asia Selatan.
Bahan bakar penerbangan berkelanjutan merupakan elemen penting dalam rencana dekarbonisasi Airbus, dan kolaborasi ini bertujuan untuk mendorong India sebagai pusat produksi SAF global, dan mendukung pencapaian target Nol Emisi sektor penerbangan pada tahun 2050. Kemitraan ini akan memanfaatkan bahan baku lokal, dengan fokus pada penilaian teknis untuk produksi SAF.
Kolaborasi untuk Mewujudkan Industri Penerbangan Berkelanjutan
Upaya mencapai kehidupan berkelanjutan adalah tanggung jawab setiap individu dan kelompok. Namun, para pelaku industri besar memikul tanggung jawab dan peluang yang lebih besar untuk mengubah kondisi saat ini menuju keberlanjutan.
Kolaborasi yang berkesinambungan antara dunia usaha dan pemerintah dapat dan mesti mengatasi salah satu faktor yang menghambat popularitas SAF, yakni soal biaya. Melalui penelitian dan pengembangan, bahan bakar penerbangan berkelanjutan dapat menjadi lebih terjangkau dan kompetitif dibandingkan bahan bakar konvensional. Dengan demikian, bahan bakar rendah karbon akan semakin banyak digunakan, sehingga mempercepat terwujudnya transportasi yang berkelanjutan untuk semua.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan