Model Turbin Angin Sumber Terbuka untuk Dukung Elektrifikasi Pedesaan
Foto: Freepik.
Energi sangat penting dalam kehidupan kita. Saat ini, listrik telah menjadi sumber energi utama untuk menyalakan berbagai perangkat dan lampu, sehingga mendukung aktivitas manusia kapan pun. Namun, masih banyak masyarakat yang kekurangan akses terhadap listrik, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil, jauh dari hiruk pikuk kehidupan perkotaan. Di tengah upaya kolektif untuk memperbaiki situasi ini, muncul gerakan elektrifikasi pedesaan di seluruh dunia, yang memanfaatkan turbin angin sumber terbuka untuk membantu masyarakat tanpa listrik menghasilkan energi secara mandiri.
Masalah Ganda Ketenagalistrikan
Kehidupan manusia saat ini sangat bergantung pada listrik. Pada tahun 2023, permintaan listrik global tumbuh sebesar 2,2%, dan total konsumsi diperkirakan akan melebihi 1.000 TWh pada tahun 2026. Meskipun ada upaya dan advokasi global yang mendorong masyarakat agar meninggalkan bahan bakar fosil dan beralih ke pembangkitan energi yang lebih berkelanjutan dengan menggunakan sumber terbarukan, hanya 30% dari listrik yang tersedia yang berasal dari energi terbarukan pada tahun 2023.
Terlepas dari isu pelestarian lingkungan, lebih dari 745 juta orang masih hidup dengan akses listrik yang terbatas atau tanpa akses sama sekali. Perkembangan yang ada masih terlalu lambat untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 7, yakni setiap orang memiliki akses terhadap energi yang terjangkau, andal, dan modern. Oleh karena itu, mengatasi masalah ketenagalistrikan global berarti mengatasi akses terhadap listrik dan keberlanjutan pembangkitannya.
Dari Solusi Sumber Terbuka hingga Gerakan Elektrifikasi Pedesaan
Turbin angin sumber terbuka atau yang disebut turbin Piggott dirilis pada tahun 2008. Alat ini memberikan instruksi rinci tentang cara membuat turbin angin menggunakan bahan-bahan yang ada dengan teknik dan peralatan sederhana. Dengan enam desain yang dapat dipilih, model ini telah digunakan di banyak proyek elektrifikasi pedesaan di berbagai belahan dunia.
Salah satunya adalah 500RPM, sebuah organisasi nirlaba yang membantu masyarakat pedesaan di Argentina membangun turbin angin berbiaya rendah. Terinspirasi oleh turbin angin dan didorong oleh pemahaman tentang potensi energi angin di Argentina, mereka berupaya berbagi pengetahuan praktis dan teoritis tentang turbin angin kepada masyarakat pedesaan sehingga mereka dapat menghasilkan listrik secara mandiri. Sejauh ini, listrik mereka sudah menjangkau sekitar 2.500 orang di 12 provinsi.
Contoh lainnya adalah Wind Empowerment, sebuah asosiasi yang terdiri dari berbagai lembaga nirlaba, koperasi, dan pendidikan yang mempromosikan energi angin ramah lingkungan dan berkolaborasi dalam upaya elektrifikasi pedesaan dan inisiatif sukarela. Beberapa proyek mereka meliputi penggunaan energi angin untuk mengalirkan listrik ke sistem pompa air di Argentina dan India dan menyediakan listrik ke pos kesehatan pedesaan di Nepal dengan meningkatkan kapasitas praktisi lokal.
Berbagi Pengetahuan untuk Inisiatif Akar Rumput
Praktik baik dalam pembangunan berkelanjutan mencakup berbagai solusi, mulai dari intervensi kebijakan hingga inovasi teknis. Prinsip-prinsip ini harus disebar, didorong, dan diadopsi secara luas untuk mengatasi masalah-masalah jahat yang ada di dunia. Berbagi pengetahuan melalui solusi sumber terbuka, hemat biaya, dan berteknologi rendah adalah salah satu cara untuk membantu mengarusutamakan dan meningkatkan praktik berkelanjutan di seluruh dunia. Dengan memanfaatkan teknologi sumber terbuka dan mendukung inisiatif akar rumput, masyarakat menjadi berdaya untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan dan adil bagi semua.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB