Bagaimana Friendship Bench Menjembatani Kesenjangan Layanan Kesehatan Mental
Sesi terapi pemecahan masalah di Friendship Bench di Harare, Zimbabwe. | Foto: Costa Juta di Wikimedia Commons.
Kesehatan mental merupakan bagian integral dari kesejahteraan secara keseluruhan. Namun, masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan terus meningkat, terutama di tengah berbagai krisis dan perkembangan teknologi yang pesat. Sayangnya, akses ke layanan kesehatan mental masih terbatas, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah; dan hal ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan solusi kesehatan mental yang inklusif dan terjangkau. Inisiatif Friendship Bench menunjukkan bagaimana terapi “duduk dan bicara” berbasis komunitas dapat menjadi perawatan kesehatan mental yang layak.
Kesenjangan Perawatan Kesehatan Mental di Negara-Negara Berpenghasilan Rendah dan Menengah
Kesehatan mental mempengaruhi perasaan, perilaku, atau pikiran seseorang. Masalah kesehatan mental dapat terjadi di seluruh siklus kehidupan, mulai dari anak-anak hingga lansia, dan dapat bersumber dari pengalaman hidup, seperti kerugian sosial, trauma, kesepian, hingga penyebab fisik seperti cedera atau kondisi neurologis.
Karena kesehatan mental dan fisik saling terkait, fasilitas perawatan bagi orang-orang dengan gangguan kesehatan mental sangat penting untuk mengelola gejala mereka dan memastikan kesejahteraan mereka secara keseluruhan. Namun, kawasan dengan prevalensi masalah kesehatan mental yang tinggi, seperti negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, masih menghadapi kesenjangan dalam perawatan kesehatan mental.
Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, tempat sebagian besar populasi dunia tinggal, lebih dari 80% orang memiliki masalah kesehatan mental. Ironisnya, hingga 85% dari mereka tidak menerima perawatan apa pun, sebagian besar disebabkan oleh kurangnya akses ke fasilitas perawatan kesehatan mental, kurangnya tenaga profesional, dan hambatan finansial.
Selain itu, stigmatisasi terhadap penyakit mental seringkali memperburuk masalah, menyebabkan banyak orang menghindari mencari bantuan. Kesenjangan dalam perawatan kesehatan mental ini menekankan kebutuhan mendesak akan intervensi perawatan kesehatan mental yang berbiaya rendah, inklusif, dan dapat ditingkatkan, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas.
Friendship Bench Berupaya Menjembatani Kesenjangan
Menjaga kesehatan mental dapat dimulai dengan obrolan sederhana. Friendship Bench, sebuah inisiatif yang dikembangkan oleh sekelompok dokter di Zimbabwe, menawarkan terapi bicara berbasis komunitas sebagai perawatan kesehatan mental.
Anggota masyarakat yang mencari perawatan kesehatan mental dipandu untuk duduk dan berbicara dengan tenaga kesehatan masyarakat terlatih di bangku kayu yang tersedia di ruang komunitas atau klinik kesehatan primer. Uniknya, Friendship Bench menggandeng nenek-nenek lokal yang telah terlatih untuk memberikan terapi pemecahan masalah yang menekankan pentingnya mendengarkan, empati, dan koneksi tanpa menghakimi. Friendship Bench menyediakan terapi kognitif dan perilaku tingkat perawatan primer untuk mengatasi kondisi kesehatan mental di masyarakat.
Hasil dari terapi Friendship Bench ini tidak bisa dianggap sebelah mata. Sebagai perbandingan, sekitar 48% pasien perawatan standar masih mengalami gejala kecemasan, sementara pasien Friendship Bench yang mengalami gejala lebih lanjut setelah perawatan memiliki tingkat yang lebih rendah, yaitu 12%. Di luar Zimbabwe, Friendship Bench telah meluas ke negara-negara lain seperti Malawi, Kenya, dan bahkan ke kota-kota berpenghasilan tinggi seperti New York City dan London.
Memastikan Tidak Ada yang Tertinggal di Belakang
Sumber daya yang terbatas serta stigma harus diatasi sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan mental yang inklusif. Solusi berbiaya rendah dan terukur seperti Friendship Bench menunjukkan bahwa dukungan kesehatan mental dapat didekatkan kepada masyarakat, terutama jika disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Untuk mencapai hal ini, para pemimpin daerah, pemerintah, dan anggota masyarakat harus bekerja sama untuk memfokuskan perhatian pada kesehatan mental. Berinvestasi dalam program-program berbasis komunitas, pelatihan dan pemberian insentif kepada tenaga kesehatan lokal, serta mengintegrasikan layanan kesehatan mental ke dalam layanan primer merupakan langkah kunci yang diperlukan.
Kesehatan mental bukan sekadar masalah medis; melainkan bagian dari pembangunan manusia dan keadilan sosial. Masyarakat memiliki kekuatan besar untuk menjembatani kesenjangan layanan dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal di belakang.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Mahkamah Agung India Tetapkan Kesehatan dan Kebersihan Menstruasi sebagai Hak Dasar
Asa Baru Perluasan Perlindungan: Penyakit Kronis Bisa Masuk Kategori Disabilitas
Dampak Polusi Limbah Elektronik terhadap Kesehatan Hewan dan Manusia
Pelajaran dari Selat Hormuz untuk Indonesia: Kita Tak Bisa Berleha-leha Soal Kedaulatan Energi
Meningkatkan Peran Sektor Swasta dalam Atasi Ancaman Krisis Fertilitas
Bagaimana Afrika Mencapai Rekor Lonjakan Energi Surya