Komitmen Indonesia Atasi Perubahan Iklim Setelah COP27
Wakil Presiden K. H. Ma'ruf Amin saat sedang memaparkan materinya mengenai komitmen Indonesia dalam perubahan iklim di COP 27 Mesir. | Foto oleh Situs Resmi Wakil Presiden Republik Indonesia.
Perubahan iklim adalah tantangan bersama kita hari ini. Menurut United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), penggunaan bahan bakar fosil yang masif dan lambatnya pengambilan keputusan para pemangku kepentingan untuk segera beralih ke energi bersih menjadi salah satu penyebab perubahan iklim global.
The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) melaporkan, perubahan iklim telah meningkatkan ancaman bencana alam, krisis pangan, wabah penyakit, dan krisis ekonomi global. Indonesia sendiri diprediksi akan mengalami kerugian finansial sebesar Rp 112,2 triliun pada tahun 2023.
Menyadari hal itu, para pemangku kepentingan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, terus berupaya mencari solusi. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Indonesia adalah dengan menaikan target penurunan emisi GRK dan penguatan komitmen adaptasi perubahan iklim melalui pembaharuan target Nationally Determined Contribution (NDC).
Dalam Conference of the Parties atau COP27 di Mesir, Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyampaikan komitmen Indonesia dalam mengatasi dampak perubahan iklim yang semakin memprihatinkan.
Mendorong Pendanaan Iklim
Conference of the Parties (COP) adalah sebuah forum pengambilan keputusan tingkat tinggi dalam kerangka Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC) yang bertujuan untuk menstabilkan konsentrasi emisi karbon dan mencegah perubahan iklim yang lebih parah. Dalam COP27, Wapres menyinggung komitmen negara-negara maju dalam hal pendanaan iklim untuk negara-negara berkembang sebesar US$ 100 miliar/tahun, yang mengalami kegagalan karena pandemi COVID-19.
Untuk itu, Wapres mendorong negara-negara maju untuk kembali berfokus terhadap pendanaan iklim yang dijanjikan.
“Untuk memastikan ini semua berjalan, maka perlu ada upaya kolaborasi dari seluruh negara, utamanya negara maju dalam hal pembiayaan. Sehingga, konferensi seperti ini semakin berfokus pada implementasi,” kata Ma’ruf Amin.
Selain mendorong pendanaan iklim, delegasi Indonesia di COP27 juga menyampaikan beberapa perannya sejauh ini dalam upaya mengatasi perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara. Salah satu yang terbaru adalah menginisiasi terbentuknya Bali COMPACT.
Bali COMPACT adalah program yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia dalam forum transisi energi G20 yang bertujuan untuk memperkuat komitmen negara-negara G20 dalam mempercepat transisi energi bersih. Program ini ditandatangani oleh para menteri energi negara-negara G20 dan menjadi aksi tahunan sukarela untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sekaligus memetakan jalur menuju nol-emisi karbon.
Target Indonesia Penuhi Komitmen
Dalam NDC yang telah diperbarui, Indonesia meningkatkan target penurunan emisi 2030, dari 29% menjadi 31,89% dengan upaya sendiri, dan dari 41% menjadi 43,20% dengan dukungan internasional. Untuk itu, Indonesia menetapkan lima target yang akan menjadi komitmen setelah COP27, yakni:
- Meningkatkan ambisi terhadap aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dengan membuat berbagai kebijakan nasional yang sejalan dengan Perjanjian Paris.
- Menjalin kerja sama dengan negara-negara maju untuk melakukan transfer teknologi dan peningkatan kapasitas SDM.
- Memahami dan mengadopsi perbedaan kondisi lingkungan dan kebutuhan lokal.
- Menjamin kelancaran pendanaan iklim yang berkelanjutan.
- Melakukan restorasi gambut dan area mangrove seluas 756 ribu hektare.
Di samping lima target itu, pemerintah Indonesia juga mengupayakan transisi energi bersih yang adil pada kelompok kecil dan rentan.
Editor: Abul Muamar
Panji adalah Reporter di Green Network Asia. Ia belajar Ilmu Media Massa dan Komunikasi Digital di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut