Mengungkap Kesenjangan dan Peluang dalam Laporan Sirkularitas Bisnis
Foto: Freepik
Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, dunia usaha harus menerapkan praktik ramah lingkungan untuk meminimalkan kerusakan lingkungan. Dalam hal ini, perlu ada pedoman yang jelas untuk menargetkan dan mengukur tindakan dunia usaha dalam bentuk laporan sirkularitas. Laporan yang dirilis oleh Dewan Bisnis Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan (WBCSD) mengungkap kondisi terkini dari laporan sirkularitas perusahaan, kinerja, akuntabilitas, dan kebijakan terkait lainnya.
Analisis Akuntabilitas Sirkularitas dan Regulasi
Secara historis, praktik bisnis telah merusak lingkungan melalui eksploitasi sumber daya dan limbah yang ditimbulkan. Saat ini, banyak bisnis yang mulai menyadari dampak jangka panjang dari praktik-praktik merusak tersebut. Mereka kini mulai mengalihkan fokus pada sirkularitas, yang menekankan penggunaan kembali, daur ulang, dan pengurangan limbah untuk memastikan material digunakan selama mungkin. Peralihan ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja sirkularitas dan meminimalkan dampak lingkungan.
Untuk membantu dunia usaha dalam mencapai sirkularitas, laporan dari WBCSD menganalisis praktik, kebijakan, dan peraturan yang ada saat ini terkait akuntabilitas dan kinerja perusahaan secara sirkularitas dan mengidentifikasi kesenjangan dan peluang yang ada.
Selain itu, laporan tersebut juga berkontribusi pada penyusunan Protokol Sirkularitas Global (Global Circularity Protocol), sebuah kerangka kerja yang akan diluncurkan pada tahun 2026. Protokol ini bertujuan untuk membantu perusahaan melaporkan, mengukur, dan mengetahui perkembangan mereka menuju ekonomi regeneratif.
Indikator Lingkungan dan Sosial dalam Laporan Sirkularitas
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa terdapat kesenjangan dalam standar laporan sirkularitas yang ada saat ini, antara lain berupa terbatasnya metrik dampak lingkungan seperti emisi gas rumah kaca (GRK), keanekaragaman hayati, dan penggunaan air. Kesenjangan lainnya adalah kurangnya fokus pada dampak sosial.
Sebagai contoh, pelaporan emisi GRK semakin banyak tercakup dalam standar, namun masih sebatas pada pengukuran dengan cakupan yang sempit, seperti Indikator Transisi Sirkular (Circular Transition Indicators). Selain itu, meskipun praktik sirkular dan regeneratif dapat memulihkan kerusakan yang disebabkan oleh ekstraksi sumber daya, pedoman dan indikator seringkali terbatas karena merupakan bagian dari kerangka kerja yang tidak spesifik untuk sirkularitas.
Lebih lanjut, laporan tersebut menekankan bahwa transisi sirkular harus dilakukan dengan adil dan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap berbagai wilayah dan pekerja, terutama di negara-negara Selatan (Global South), karena hal ini dapat memperburuk kondisi dan meningkatkan jumlah pekerja yang tidak dibayar. Pekerja informal menghadapi tantangan seperti upah murah dan ketidakamanan dalam bekerja, namun dampak sosial ini sering diabaikan dalam standar yang ada saat ini.
Oleh karena itu, Protokol Sirkularitas Global yang akan datang akan dikembangkan untuk memastikan indikator dan pengukuran yang jelas terhadap dampak lingkungan dan sosial, sekaligus mengakui kesenjangan kawasan dan menjaga konsistensi metrik global.

Pendukung Utama dan Dukungan Finansial untuk Transisi
Untuk mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular, perusahaan memerlukan faktor pendukung utama, seperti kolaborasi dengan pemangku kepentingan, digitalisasi, dan dukungan kepemimpinan yang kuat. Namun, standar-standar yang ada saat ini kebanyakan hanya memberikan saran kualitatif dalam bidang-bidang ini. Laporan tersebut menekankan pentingnya indikator dan panduan kuantitatif yang jelas.
Selain itu, bisnis sirkular menghadapi tantangan dalam mendapatkan pendanaan karena model risiko yang dirancang untuk perekonomian linier, yang mengabaikan risiko jangka panjang dan eksternal, sehingga menjadikannya lebih berisiko. Pelaporan keuangan juga tidak memiliki metrik standar untuk sirkularitas, dan biaya pengungkapan non-keuangan membatasi pelaporan sukarela.
Untuk mengatasi masalah ini, laporan tersebut merekomendasikan pengembangan model risiko yang disesuaikan, memberikan panduan yang jelas untuk pengungkapan keuangan, dan menetapkan metrik standar untuk bisnis sirkular, termasuk menilai sumber daya yang tersisa, menyesuaikan rasio keuangan, dan mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial.
Fokus pada Kebijakan pada Sirkularitas
Pemerintah mesti meningkatkan ekonomi sirkular. Strategi utamanya mencakup dukungan inovasi, mendorong kolaborasi, dan mengintegrasikan prinsip-prinsip sirkularitas ke dalam pengadaan publik. Strategi yang kuat dan ekosistem yang mendukung adalah dua hal yang sangat penting.
Dalam hal ini, kita memerlukan definisi ekonomi sirkular yang terstandarisasi, yang tidak hanya berfokus pada pengelolaan limbah, tetapi juga seluruh siklus hidup produk. Mengkoordinasikan kebijakan dalam negeri dengan perjanjian perdagangan internasional dapat meningkatkan efektivitas secara keseluruhan.
Pada akhirnya, kemitraan publik-swasta yang kuat sangatlah penting karena kita harus mengintegrasikan prinsip-prinsip ekonomi sirkular ke dalam strategi keberlanjutan dan ekonomi yang lebih luas untuk mendukung tujuan iklim, keanekaragaman hayati, dan pengelolaan sumber daya.
Laporan selengkapnya dapat dibaca di sini.
Editor: Kresentia Madina
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut