Menengok Sawah Rendah Emisi di Delta Mekong
Foto: Hai Tran di Unsplash.
Beras merupakan makanan pokok di sebagian besar wilayah Asia Tenggara. Namun, pertumbuhan populasi yang pesat serta dampak perubahan iklim menimbulkan tantangan yang serius terhadap pasokan beras di wilayah ini. Terkait hal ini, Vietnam meluncurkan program satu juta hektare sawah rendah emisi dan berkualitas tinggi untuk mendukung pertanian berkelanjutan di kawasan Delta Mekong.
Sawah dan Perubahan Iklim
Vietnam merupakan salah satu produsen dan eksportir beras terbesar di dunia. Pada tahun 2023, produksi beras Vietnam diperkirakan mencapai 43,5 juta metrik ton, dan negara ini menjadi pemasok utama beras di Asia Tenggara.
Namun, sawah juga turut menyebabkan perubahan iklim dan terdampak olehnya. Produksi beras menyumbang sekitar 25% emisi metana di Asia Tenggara. Metana merupakan perangkap panas yang lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.
Selain itu, beras merupakan tanaman yang memerlukan banyak air, dengan 3.000-5.000 liter air untuk menghasilkan 1 kg saja. Hal ini membuat sawah rentan terhadap perubahan iklim, terutama jika mengandalkan curah hujan. Kekeringan dan kenaikan suhu menimbulkan risiko besar terhadap produksi beras.
Sawah Rendah Emisi di Delta Mekong
Menjelang akhir tahun 2023, Vietnam meluncurkan “Proyek Pembangunan Berkelanjutan Satu Juta Hektare untuk Budidaya Padi Berkualitas Tinggi dan Rendah Emisi di Delta Mekong 2030”. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pembangunan pedesaan, mengurangi biaya produksi dan emisi, dan meningkatkan ketahanan sektor pertanian terhadap tantangan iklim.
Proyek ini menetapkan target spesifik, yaitu:
- Mengurangi jumlah benih padi yang disemai menjadi kurang dari 70 kg per hektare.
- Meminimalkan pupuk kimia dan pestisida sebesar 30%.
- Mengurangi penggunaan air irigasi sebesar 20% dibandingkan metode tradisional.
Selain itu, para petani diminta untuk menerapkan setidaknya satu metode pertanian berkelanjutan. Opsi-opsi yang ada mencakup platform beras berkelanjutan (SRP), pengairan basah-kering (AWD), dan praktik pertanian terstandar lainnya.
Program ini terbagi dalam dua fase. Fase 1 (2024-2025) mengkonsolidasikan area yang ada dengan pelatihan, perencanaan, dan penerapan sistem pengukuran. Fase menguji kredit karbon dan mempersiapkan masa depan. Kemudian, fase 2 (2026-2030) berfokus pada pengurangan emisi dan perluasan. Hal ini mencakup investasi di bidang infrastruktur, mengatur ulang produksi, membangun rantai nilai yang tangguh, dan menyempurnakan pengukuran untuk keberlanjutan yang sedang berjalan.
Diversifikasi Pangan dan Pertanian Rendah Emisi
Langkah-langkah proaktif yang dilakukan pemerintah tetap penting dalam menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan sekaligus memastikan ketahanan pangan di Mekong Besar dan sekitarnya. Di tengah kebutuhan mendesak untuk mengatasi kerawanan pangan dan perubahan iklim, sangat penting untuk meninggalkan praktik-praktik pertanian yang tidak berkelanjutan. Pemerintah dapat memfasilitasi transformasi menuju pertanian yang lebih berkelanjutan dengan memberikan pelatihan, program, investasi, dan kebijakan yang mendukung bagi petani kecil dan pelaku industri lainnya.
Selain itu, diversifikasi pangan dengan alternatif pengganti beras sebagai makanan pokok juga harus didorong. Dengan metode pertanian yang rendah emisi, hemat air, dan berketahanan, negara-negara dapat menjamin masa depan pertanian berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest