Pelajaran Berharga dari Realitas Ganda Konservasi Harimau di India
Foto oleh PBB di Flickr
Satwa liar memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan dan ekosistem. Sayangnya, perburuan satwa predator seperti harimau telah menyebabkan penurunan populasi yang drastis dalam beberapa dekade terakhir, termasuk di India. Untuk mengatasi masalah ini, India telah meluncurkan program konservasi harimau yang dikenal luas karena keberhasilannya dalam meningkatkan jumlah populasi harimau.
Namun, di balik keberhasilan tersebut terdapat realitas kompleks yang melibatkan konflik antara manusia dan satwa liar serta penggusuran masyarakat adat, sehingga konservasi keanekaragaman hayati menjadi tidak selaras dengan keadilan sosial. Dengan melihat perjalanan konservasi harimau di India, kita dapat memetik pelajaran bahwa perlindungan satwa liar dan manusia harus berjalan berdampingan.
Peran Harimau dan Penurunan Populasinya
Harimau memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan ekosistem. Sebagai predator puncak, mereka mengontrol populasi satwa mangsa, serta mencegah penggembalaan berlebihan yang dapat merusak habitat dan mengganggu keseimbangan ekologi. Harimau secara tidak langsung mendukung pertumbuhan vegetasi yang beragam dengan menjaga jumlah herbivora tetap terkendali, yang pada akhirnya menyediakan makanan dan tempat berlindung bagi berbagai spesies lainnya.
Selain itu, harimau juga dianggap sebagai spesies payung, yang berarti mereka turut melindungi banyak spesies lain yang hidup di habitat yang sama. Dengan kata lain, upaya konservasi harimau seperti menjaga kelestarian hutan dan, mengurangi ancaman manusia, dapat memberikan manfaat bagi banyak tanaman, hewan, bahkan sumber air di wilayah tersebut.
Pada awal 1900-an, lebih dari 100.000 harimau hidup bebas di alam liar di berbagai wilayah Asia. Namun, dalam satu abad terakhir, perburuan besar-besaran dan hilangnya habitat alami menyebabkan penurunan populasi harimau secara drastis.
India sendiri semula memiliki lebih dari 50.000 harimau. Namun, pada tahun 1970-an populasi harimau di negara tersebut mengalami penurunan drastis menjadi 1.800 ekor. Penurunan populasi tersebut terjadi akibat perburuan untuk diambil bagian-bagian tubuhnya seperti cakar, kulit, dan tulang, yang dipercaya memiliki khasiat pengobatan atau digunakan sebagai simbol status sosial.
Perkembangan Konservasi Harimau di India
Sejak saat itu, populasi harimau liar di India terus mengalami pemulihan. Hanya dalam waktu satu dekade lebih, jumlah harimau meningkat dari 1.706 ekor pada tahun 2010 menjadi sekitar 3.682 ekor pada tahun 2022. Saat ini, India menampung sekitar 70% dari total populasi harimau di dunia.
Para peneliti menemukan bahwa keberhasilan konservasi harimau di India sebagian besar berasal dari penerapan dua strategi utama. Pertama, sejumlah wilayah ditetapkan sebagai zona perlindungan ketat tanpa pemukiman manusia, dengan fokus utama pada pelestarian harimau dan habitatnya. Harimau hidup di kawasan lindung yang kaya mangsa dan minim gangguan manusia seluas 35.000km² dan berbatasan dengan wilayah yang masih dihuni oleh manusia.
Kedua, India menerapkan pendekatan wilayah multiguna, di mana harimau dan manusia hidup berdampingan dalam wilayah yang sama. Saat ini, sekitar 45% wilayah yang dihuni harimau juga dihuni oleh sekitar 60 juta manusia. Negara tersebut telah mengembangkan berbagai strategi untuk mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar, mencegah perburuan liar, serta menjaga keselamatan manusia dan satwa liar yang hidup di wilayah yang sama.
Berbagai kebijakan juga diterapkan untuk meningkatkan penerimaan masyarakat setempat dalam hidup berdampingan dengan satwa liar. Contohnya, petani yang kehilangan ternaknya akibat serangan harimau akan menerima kompensasi finansial dari pemerintah. Dalam kasus lain, ketika ada orang yang tewas akibat serangan harimau, keluarganya akan menerima santunan. Langkah-langkah ini dapat mengubah konflik menjadi kerja sama.
Namun, populasi harimau cenderung lebih rendah di daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi atau ketergantungan besar pada sumber daya hutan. Konflik antara manusia dan satwa liar juga lebih sering terjadi dan sulit untuk diatasi.
Mahalnya Ongkos Konservasi
Namun, keberhasilan konservasi harimau di India tidak terlepas dari perjalanan yang rumit dan menyakitkan. Banyak masyarakat adat yang tergusur dari tanah leluhur mereka demi menyediakan ruang untuk suaka harimau. Mereka sangat bergantung pada hutan sebagai sumber mata pencaharian dan memiliki hubungan spiritual yang mendalam dengan tanah serta satwa liar penghuninya.
Penggusuran ‘sukarela’ ini memang disertai kompensasi finansial, namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Masyarakat adat di India melaporkan bahwa mereka digusur tanpa informasi yang jelas, tanpa pilihan yang adil atau dukungan yang memadai. Sebagai contoh, masyarakat adat Suku Nilgiri yang direlokasi untuk membentuk Suaka Margasatwa Harimau Mudumalai tidak diberikan kompensasi yang memadai. Suku-suku lain, seperti Paniya dan Kattunayakan, juga menyebut bahwa mereka belum menerima kompensasi yang dijanjikan sehingga banyak dari mereka yang menuntut hak untuk kembali ke tanah leluhur mereka.
Mengkategorikan masyarakat lokal secara ketat sebagai ancaman bagi satwa liar adalah tindakan yang tidak bijaksana dan tidak adil. Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki peran penting dalam konservasi keanekaragaman hayati. Di beberapa wilayah, populasi harimau India justru mengalami pertumbuhan signifikan di tempat dimana masyarakat adat tinggal.
Sebagai contoh, Cagar Alam Harimau BRT di Karnataka berhasil melipatgandakan populasi harimau dari 35 menjadi 68 ekor hanya dalam empat tahun berkat keberadaan Suku Soliga. Suku ini memiliki hubungan leluhur dengan hutan dan hubungan spiritual dengan harimau. Bagi mereka, harimau bukanlah ancaman melainkan makhluk yang harus dihargai dan dilindungi, bukan ditakuti atau dilawan.
Mendorong Konservasi Inklusif
Realitas ganda dari konservasi harimau di India menunjukkan pentingnya memastikan perlindungan satwa liar sejalan dengan perlindungan hak-hak komunitas lokal.
Ketika masyarakat digusur dari tanah leluhur mereka demi kepentingan konservasi, mereka tidak hanya akan kehilangan tempat tinggal, tetapi juga akses terhadap sumber daya penting seperti makanan, obat-obatan tradisional, dan ikatan budaya yang membentuk identitas mereka. Penggusuran masyarakat adat dari hutan sama artinya dengan menghilangkan pengetahuan dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Oleh karena itu, konservasi harus dilakukan secara inklusif dan partisipatif. Prinsip ini berarti mengakui masyarakat adat dan komunitas lokal sebagai kontributor dan pemangku kepentingan dalam konservasi. Pengetahuan tradisional mereka juga harus diakui sebagai aset berharga dalam perencanaan dan pelaksanaan konservasi.
Pemerintah, konservasionis, dan masyarakat adat perlu bekerja sama menciptakan konservasi berbasis komunitas untuk menghentikan penurunan keanekaragaman hayati. Di tengah krisis iklim dan krisis keanekaragaman hayati yang terus berlanjut, melindungi keanekaragaman hayati berarti juga melindungi kesejahteraan manusia dan mewujudkan Bumi yang lebih sehat untuk semua.
Penerjemah: Kesya Arla
Editor: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional