Sistem Deteksi Dini untuk Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dengan Ponsel
Foto: José Luis Photographer di Pexels.
Kenaikan suhu Bumi karena perubahan iklim menyebabkan risiko bencana alam semakin meningkat, khususnya kebakaran hutan. Oleh karena itu, sangat penting bagi daerah rawan kebakaran hutan untuk mengembangkan strategi pengurangan dan mitigasi risiko. Terkait hal ini, sebuah studi dari University of Southern California telah memperkenalkan sistem baru yang memetakan kebakaran hutan secara lebih efisien dengan menggunakan ponsel untuk meningkatkan kesiapsiagaan kebakaran hutan.
Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan
Sebuah studi dari Organisasi Meteorologi Dunia menjelaskan bagaimana perubahan iklim, polusi udara, dan kebakaran hutan saling berkaitan satu sama lain dalam lingkaran yang berbahaya. Perubahan iklim meningkatkan risiko kebakaran hutan, yang pada gilirannya menimbulkan polusi udara. Emisi dari kebakaran hutan, serta gas rumah kaca lainnya, berkontribusi terhadap pemanasan global dan menyebabkan siklus tersebut berulang.
Kebakaran hutan sangat berdampak pada kehidupan manusia dan mengancam keanekaragaman hayati. Penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan kebakaran hutan berlangsung lebih lama, lebih sering terjadi, dan mencakup wilayah yang lebih luas.
Tahun 2024 saja, kebakaran hutan telah membakar lebih dari satu juta hektare lahan di California. Hal serupa terjadi di Chile dimana kebakaran hutan menelan ratusan korban jiwa di awal tahun, sedangkan Brazil menghadapi rangkaian kebakaran hutan yang menghanguskan lebih dari 20 juta hektare lahan.
Program Lingkungan PBB (UNEP) memperkirakan bahwa kebakaran hutan ekstrem akan menjadi lebih intens di seluruh dunia, dengan kebakaran paling ekstrem meningkat sebanyak 50% pada tahun 2100.
Metode Baru dalam Pemetaan Kebakaran Hutan
Meski kesiapsiagaan kebakaran hutan sangat penting, proses pelacakan dan pemetaan untuk deteksi dini merupakan sebuah tantangan. Metode tradisional, seperti penggunaan satelit, drone, dan pengintaian, sering kali memerlukan biaya yang mahal, waktu respons yang lambat, dan jangkauan yang terbatas. Kelemahan ini menyebabkan petugas pemadam kebakaran harus bergantung pada pengamatan manusia.
Sementara itu, sebuah studi dari University of Southern California mengembangkan metode baru yang dapat mengurangi waktu pemetaan secara signifikan. Sistem ini menggunakan telepon seluler berbiaya rendah dengan kamera dan sensor yang ditempatkan di area berisiko tinggi. Setelah berada di tempatnya, ponsel akan mendeteksi tanda-tanda kebakaran dari tumbuhan di dekatnya, bahkan mengidentifikasi api sebelum api muncul sepenuhnya.
Dengan memanfaatkan visi komputer dan analisis multi-modal, sistem ini dapat mendeteksi kebakaran hutan hingga jarak 3.000 kaki (kira-kira 900 meter) dan memetakannya hingga jarak 180 kaki (55 meter) dari asal mulanya. Selama simulasi, sistem ini telah menunjukkan akurasi dalam memetakan dan menemukan lokasi kebakaran dengan cepat. Selain itu, pemasangannya pun terjangkau, dengan biaya kurang dari $100, sehingga dapat diakses oleh banyak komunitas, terutama mereka yang sering terkena dampak kebakaran hutan.
Meningkatkan Kesiapsiagaan dan Deteksi Dini Kebakaran Hutan
Bencana tidak dapat diprediksi, dan kelangsungan hidup kita sangat bergantung pada kemampuan kita untuk bersiap menghadapi bencana dan mendeteksi tanda-tanda peringatan dini. Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya risiko bencana yang disebabkan oleh manusia, kesiapsiagaan dan deteksi dini kebakaran hutan harus diprioritaskan. Pemerintah harus berinvestasi pada infrastruktur kesiapsiagaan bencana yang kuat, termasuk teknologi deteksi dini, untuk memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Inovasi dan teknologi sangat penting untuk menciptakan strategi respons yang efektif. Menerapkan solusi yang canggih dapat mengurangi korban jiwa, ekosistem yang rentan dapat terlindungi dari gangguan, dan kesejahteraan semua orang dapat terlindungi.
Editor: Nazalea Kusuma & Kresentia Madina
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan