Meningkatkan Penerapan Kawasan Rendah Emisi untuk Kota yang Lebih Sehat
Foto: Visual Karsa di Unsplash.
Kota-kota besar di Indonesia, salah satunya Jakarta, menghadapi penurunan kualitas udara yang berdampak buruk bagi kesehatan. Menurut indeks kualitas udara (IQAir) kualitas udara di Jakarta tergolong tidak sehat bagi kelompok sensitif. Memakai masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan bukanlah solusi, melainkan sekadar menghindari dampak. Karena itu, diperlukan langkah dan kebijakan yang serius dan terukur untuk mengatasi persoalan kualitas udara yang buruk. Dalam hal ini, penerapan Kawasan Rendah Emisi (KRE) dapat menjadi salah satunya.
Penyebab Penurunan Kualitas Udara
Penurunan kualitas udara disebabkan oleh banyak faktor. Di kota besar seperti Jakarta, penurunan kualitas udara disebabkan oleh emisi kendaraan yang berupa karbon monoksida, nitrogen oksida, dan volatil yang dapat mencemari udara dan merusak lapisan ozon. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan, sebanyak 75 persen polusi udara di Ibu Kota berasal dari emisi kendaraan bermotor roda dua dan roda empat.
Selain itu, pembangkit listrik dengan bahan bakar batu bara dan minyak bumi juga turut mencemari udara. Aktivitas pabrik yang mengeluarkan asap juga mengandung zat polutan yang sangat berbahaya, seperti hidrokarbon dan karbon monoksida. Aktivitas rumah tangga juga menyumbang pencemaran udara, diantaranya pembakaran sampah, pemakaian pendingin ruangan dan pengering rambut, hingga pemakaian cat rumah.
Penerapan Kawasan Rendah Emisi
Kawasan Rendah Emisi adalah skema pembatasan akses kendaraan bermotor yang tidak memenuhi persyaratan terkait emisi pada suatu area dengan polusi udara yang tinggi. Skema ini bertujuan untuk membatasi kendaraan bermotor di wilayah kota. Jenis kendaraan yang disasar biasanya mobil, motor, bus, dan truk berbahan bakar solar. Di Kawasan Rendah Emisi, masyarakat hanya boleh menggunakan transportasi massal berbahan bakar ramah lingkungan.
Beberapa kota di dunia telah menerapkan KRE, di antaranya Stockholm, London, dan Beijing. Di Indonesia, Jakarta juga mulai menerapkan KRE sebagai salah satu upaya untuk mengurangi emisi dan polusi udara, salah satunya di Kota Tua melalui penerapan Zona Rendah Emisi (Low Emission Zone/LEZ) sejak 8 Februari 2021. Hanya pejalan kaki, pengendara sepeda, kendaraan umum, dan kendaraan dengan label khusus emisi rendah yang boleh melewati kawasan ini. Hasilnya, dalam dua tahun, kualitas udara di wilayah Kota Tua mulai sedikit membaik.
Namun, implementasi LEZ masih minim dan terbatas pada area Kota Tua dan hanya diperluas ke wilayah Tebet Eco Park. Para pengguna kendaraan juga belum sepenuhnya menaati kebijakan ini, dan petugas Dinas Perhubungan pun tidak sungguh-sungguh mengimplementasikannya. Dalam berbagai kesempatan, masih banyak pengendara yang menerobos kawasan LEZ dan bahkan dipersilakan oleh petugas Dinas Perhubungan.
Pentingnya Partisipasi dan Dukungan Publik
Penerapan KRE dapat menjadi langkah untuk menurunkan emisi dari sektor transportasi dan mendukung upaya untuk menciptakan kota yang lebih yang sehat. Agar berhasil dan dampak yang diharapkan dapat tercapai, penerapannya membutuhkan partisipasi, kesadaran, dan dukungan publik yang kuat. Dalam hal ini, masyarakat perlu dilibatkan pada tahap perencanaan hingga evaluasi.
Penerapan KRE juga perlu didukung dengan langkah, program, dan kebijakan lain yang kohesif yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas udara. Misalnya, aturan yang kuat mengenai penggunaan kendaraan pribadi, pengadaan transportasi umum berbahan bakar ramah lingkungan yang memadai, aturan yang kuat mengenai pengelolaan sampah (termasuk larangan untuk membakar sampah secara terbuka), aturan yang kuat mengenai penjualan dan pembelian kendaraan bermotor, aturan yang ketat terkait pemanfaatan ruang dan izin mendirikan bangunan, dan lain sebagainya.
Editor: Abul Muamar
Maulina adalah Reporter di Green Network Asia. Ia belajar program Sarjana Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Jember.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan