Sadiman: Lelaki yang Bisa Memanggil Air
Foto: Kementerian Lingkungan Hidup.
Pagi masih gelap ketika Sadiman berangkat dari rumahnya yang berukuran sembilan kali enam meter di Dusun Dali, Desa Geneng, Wonogiri. Setelah mengurus sawahnya, ia akan naik ke lereng selatan Gunung Lawu, ke hutan yang oleh warga sekitar kini mulai disebut sebagai hutan atas namanya, dan di sana ia akan minum dari mata air yang muncul di antara akar-akar pohon yang ia tanam dengan tangannya. Ia melakukan ini bukan selama setahun, bukan lima tahun, melainkan tiga puluh tahun. Sadiman melakukannya sendirian, tanpa proposal, tanpa upah, dan selama bertahun-tahun tanpa sepengetahuan istrinya sendiri tentang apa yang sesungguhnya ia kerjakan setiap hari di hutan.
Hari Minggu 26 Juli 2026, kisahnya muncul di The Economic Times. Judul artikelnya panjang dan langsung membetot perhatian saya: “In 1996, an Indonesian farmer began planting banyan trees across barren hills, and 11,000 trees later, springs returned across 250 hectares.” Setelah membacanya, saya mencari beragam sumber kisah yang sangat menginspirasi ini, dan menuliskannya kembali. Artikel ini adalah hasilnya.
Kebakaran dan Keputusan Gila
Untuk memahami mengapa seseorang mau menjalani kehidupan seperti itu, kita perlu kembali ke sebuah kebakaran besar yang melanda lereng Gunung Lawu pada pertengahan 1960-an. Api menghanguskan nyaris semua yang berdiri di perbukitan itu. Yang tersisa adalah tanah cokelat yang retak-retak, sungai yang mengering saat kemarau, dan, ketika hujan datang, banjir serta longsor yang menghantam desa-desa di bawahnya. Sadiman kecil, yang baru lulus sekolah dasar pada 1965, tumbuh dalam bayang-bayang kerusakan itu. Keterbatasan ekonomi keluarganya membuatnya harus menunggu dua tahun sebelum bisa melanjutkan ke SMP Marhaen di Bulukerto, dan ketika ia mencoba sekolah teknik menengah jurusan bangunan di Jatisrono, ia hanya bertahan setahun sebelum pulang ke kampung halaman dan masih saja menghadapi persoalan yang sama: air.
Untuk menyambung hidup, Sadiman menjadi penyadap getah pinus untuk Perhutani—pekerjaan yang diupah sekitar seratus dua puluh lima rupiah per kilogram getah saat itu—sembari menggarap lahan dan menanam cengkeh serta cabai. Pekerjaan inilah yang, tanpa sengaja, membentuk keahliannya. Bertahun-tahun berjalan menyusuri hutan pinus membuatnya sadar akan sesuatu yang sederhana namun jarang diperhatikan orang lain, yaitu bahwa pohon pinus tidak menyimpan air dengan baik. Daun-daunnya yang gugur sulit membusuk menjadi humus, dan tanah di bawahnya tetap keras dan kering. Sebaliknya, di mana pun ia menemukan pohon besar berjenis beringin di situ pula ia hampir selalu menemukan sumber mata air. Ini bukan penemuan ilmiah tapi adalah pengetahuan seorang petani yang dibangun dari ribuan jam mengamati tanah tempat ia berdiri.
Pada 1996, pengamatan itu berubah menjadi keputusan. Sadiman memutuskan menanam pohon beringin di Bukit Gendol dan Bukit Ampyang, dua punggungan di lereng selatan Lawu yang menjadi bagian dari kawasan yang ia garap. Keputusan ini, dalam konteks budaya Jawa di mana ia hidup, jauh dari sepele. Pohon beringin secara luas dipercaya sebagai tempat tinggal makhluk halus—sesuatu yang oleh warga desa sendiri dijadikan alasan untuk menjauhinya, bukan menanamnya. Tetangga-tetangganya yang menanam padi dan palawija memandang aneh seorang lelaki yang justru menukar kambing-kambing miliknya dengan bibit beringin, lalu menanamnya di tanah yang tak seorang pun anggap punya nilai. “Dulu, saya memang dianggap gila,” kata Sadiman mengenang masa itu, dalam sejumlah wawancara. Ketika yang lain menanam tanaman pangan, ia menanam pohon yang, di mata banyak orang, tidak menghasilkan apa pun untuk dimakan.
Membungkam Cemooh dengan Bukti
Yang tidak terlihat oleh para pencemooh itu adalah kalkulasi panjang yang sedang dijalankan Sadiman. Akar beringin yang dalam dan melebar berfungsi menahan tanah dari erosi sekaligus menyimpan cadangan air tanah selama musim kemarau, alias fungsi ekohidrologi yang oleh ilmu kehutanan modern disebut sebagai jasa lingkungan resapan air. Sadiman tidak menyebutnya demikian. Ia mendeskripsikannya sebagai akal sehat seorang petani yang lelah melihat desanya kekurangan air setiap tahun. Dan, kepercayaan tentang ‘penunggu’ pohon beringin yang semula membuatnya dicemooh justru menjadi pelindung tak terduga bagi pohon-pohon itu. Warga yang tidak berani menebang pohon beringin karena takut pada penghuni gaibnya, tanpa sadar, ikut menjaga proyek penghijauan yang sedang ia bangun.
Tahun-tahun pertama adalah tahun-tahun paling berat. Tidak ada dukungan institusi, tidak ada dana desa, tidak ada organisasi non-pemerintah yang mendampingi. Bibit yang sudah ia tanam kerap rusak, ditebas atau diinjak oleh peternak yang mencari pakan untuk ternak mereka di kawasan yang sama. Sadiman bersabar dan menanam ulang. Setiap hari, setelah mengurus sawah padinya di pagi hari, ia naik ke hutan sendirian, terus menanam—titik demi titik, musim demi musim, tanpa target yang ia tuliskan di atas kertas kepada siapa pun karena memang tidak ada yang perlu ia laporkan.
Hasilnya baru mulai terasa satu dekade kemudian, ketika mata air mulai muncul kembali di sekitar pohon-pohon yang sudah cukup dewasa. Warga menyalurkan air itu ke permukiman menggunakan pipa paralon berukuran kecil hingga sedang. Ini adalah infrastruktur paling sederhana yang bisa dibayangkan, namun cukup untuk mengubah nasib ratusan keluarga. Hari ini, di lahan seluas sekitar 250 hektare yang mencakup Bukit Gendol dan Bukit Ampyang, lebih dari 11 ribu, menurut sejumlah catatan bahkan mendekati 15 ribu, pohon beringin telah kokoh berdiri, menopang pasokan air bagi sekitar 1.100 kepala keluarga. Di puncak musim kemarau ketika desa-desa lain di Wonogiri, salah satu kabupaten paling rawan kekeringan di Jawa Tengah, harus mendatangkan tangki air dari luar, mata air tetap memberikan kehidupan bagi warga. Beberapa tahun terakhir, Sadiman juga mulai menanam kopi robusta di sela-sela pohon beringinnya. Bukan untuk menggantikan misinya, melainkan, seperti yang ia katakan sendiri, agar ada alasan ekonomi baginya untuk terus hadir dan merawat hutan itu selagi ia menua.
Penghargaan Tak Mengubah Kebiasaan
Pengakuan datang belakangan, dan datang secara bertahap: Solo Award kategori Lingkungan Hidup pada 2015, Kalpataru kategori Perintis Lingkungan pada 2016, gelar Kick Andy Heroes pada tahun yang sama, lalu penghargaan Tokoh Inspiratif Reksa Utama Anindha dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada 2019, hingga akhirnya penghargaan Kalpataru Lestari pada 2025. Namun tak satu pun dari penghargaan itu mengubah cara hidupnya. Ia tetap tinggal di rumah sederhananya, tetap menanam setiap hari, dan ketika ditanya tentang masa depan, jawabannya bukan tentang dirinya sendiri. “Rebutlah tahun-tahun yang akan datang,” katanya kepada generasi muda yang mulai berdatangan untuk membantu—sebuah kalimat yang, datang dari mulut seorang lelaki yang menghabiskan hidupnya menanam pohon yang baru berbuah hasil satu dekade kemudian, terdengar lebih seperti pengalaman dalam berhitung waktu ketimbang slogan.
Sejak kisahnya mulai menyebar luas melalui media pada 2015, Sadiman kerap diundang ke luar kota untuk menceritakan pengalamannya, tampil di layar televisi nasional, dan menerima tamu dari berbagai daerah yang ingin melihat langsung hutan yang ia bangun. Namun sorotan itu tidak pernah menjadi tujuannya, dan tidak mengubah ritme hariannya. Ia tetap hidup bersama istri, anak, dan dua cucunya di rumah yang sama, tetap turun ke sawah setiap pagi, dan tetap naik ke hutan setiap siang. Ini adalah sebuah konsistensi yang, jika dilihat dari luar, mungkin tampak seperti ‘keras kepala’, tetapi yang justru menjadi penjelasan paling masuk akal mengapa proyeknya berhasil ketika begitu banyak program penghijauan berskala besar, yang didanai lebih besar dan dikerjakan oleh lebih banyak orang, gagal bertahan lebih dari satu atau dua musim tanam. Program-program semacam itu biasanya berhenti begitu pendanaan proyek berakhir atau perhatian publik beralih ke isu lain. Sadiman tidak memiliki pilihan itu, karena baginya menanam pohon bukan proyek dengan tenggat waktu, melainkan bagian dari cara ia menjalani hidup sehari-hari selama tiga dekade—sebuah perbedaan yang menjelaskan mengapa akar-akar beringinnya, dan bukan target-target di atas dokumen tebal, yang akhirnya benar-benar mendatangkan air di lereng Lawu.
Kini Sadiman tidak lagi sendirian. Sejumlah anak muda dan komunitas lingkungan, termasuk Gerakan Hijau Bumi Wonogiri, bergabung merawat pohon-pohon yang ia tanam, dan merekalah yang mengusulkan agar kawasan hutan di Desa Geneng resmi dinamai Hutan Sadiman. Dengan kesetiaan puluhan tahun pemecahan satu masalah, kemudian menular ke banyak orang di sekitarnya dan di daerah-daerah lain, rasanya benar-benar pantas menyebutkan namanya di situ.
Bukan Kisah Tunggal
Bagi saya, yang membuat kisah Sadiman lebih meyakinkan lagi adalah bahwa ia bukanlah kasus tunggal. Di Pemalang, sekitar seratus kilometer dari Wonogiri, seorang penggiat lingkungan bernama Isa Ansori menghabiskan puluhan tahun menyusuri lereng-lereng untuk menyelamatkan hampir delapan puluh titik mata air yang nyaris mati. Ia menanam belasan ribu bibit di sekitar sumber-sumber air itu tanpa menunggu proyek pemerintah atau bantuan perusahaan. Di Balikpapan, seorang lelaki bernama Agus Bei pulang kampung pada awal 2000-an dan mendapati tiga hektare mangrove di depan rumahnya telah dibabat habis untuk tambak. Alih-alih menyerah, ia mulai menanaminya kembali seorang diri hingga kawasan itu tumbuh menjadi pusat konservasi mangrove yang kini dikenal luas, dikelola bukan oleh anggaran negara, melainkan oleh warga yang ia gerakkan sendiri. Kerusakan tiga hektare itu dibayar dengan hutan mangrove sehat seluas seratus lima puluh hektare.
Kisah lain yang juga paling menggetarkan adalah tentang Bu Pasijah, dari Dusun Rejosari Senik, Demak, yang memilih bertahan bersama keluarganya sebagai satu-satunya penghuni sebuah dusun yang telah sepenuhnya ditelan rob dan abrasi laut utara Jawa. Selama dua dekade, ketika ratusan tetangganya memilih pindah dan meninggalkan sawah, cabai, serta pohon kelapa yang dulu tumbuh subur di sana, Bu Pasijah memilih mendayung perahu setiap hari untuk menanam dan membibitkan sendiri belasan ribu bakau setiap tahunnya. Bukan untuk mengembalikan daratan yang sudah hilang, melainkan agar sejengkal tanah yang tersisa di bawah rumahnya tidak ikut lenyap.
Empat kisah ini berasal dari ekosistem yang berbeda, namun mengikuti pola yang nyaris identik: dimulai sendirian, dianggap aneh atau sia-sia oleh lingkungan terdekat, berjalan tanpa dukungan kelembagaan pada tahun-tahun paling menentukan, dan baru mendapat pengakuan lokal, nasional, bahkan internasional setelah hasilnya tak lagi bisa disangkal. Pola ini semestinya mengubah cara kita memandang mereka; alih-alih memperlakukan Sadiman, Isa Ansori, Agus Bei, atau Bu Pasijah sebagai kisah anekdotal yang sesekali muncul ketika kalender mendekati Hari Bumi atau Hari Lingkungan Hidup. Pola ini adalah data lapangan tentang metode: bahwa pemulihan ekosistem ternyata sering dimulai bukan dari dokumen kebijakan proyek, melainkan dari satu orang yang menolak diam melihat kampungnya rusak. Setiap kabupaten pesisir yang terancam rob, setiap lereng gunung yang kehilangan mata airnya, saya yakin, kemungkinan besarnya sudah memiliki figur semacam ini, hanya belum ditemukan, belum diwawancarai, dan belum dituliskan.
****
Di tengah krisis air yang kian nyata di banyak wilayah Indonesia, di tengah gemuruh wacana rehabilitasi hutan, restorasi lahan bekas tambang, serta target net-zero yang diperdebatkan di ruang-ruang berpendingin udara, kisah Sadiman dan pahlawan lingkungan lainnya menawarkan sesuatu yang benar-benar menarik: bukti lapangan, bertahan melintasi dekade, bahwa pemulihan ekosistem yang rusak parah bukanlah mustahil, asalkan ada yang bersedia memulainya tanpa perlu menunggu izin, tanpa menunggu dana, dan tanpa peduli orang lain menganggap mereka itu gila. Saya kini membayangkan berapa banyak Sadiman yang dibutuhkan Indonesia, dan berapa lama lagi negeri ini akan menunggu sebelum benar-benar mulai mendukung upaya regenerasi Bumi yang mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Jalal adalah Penasihat Senior Green Network Asia. Ia seorang konsultan, penasihat, dan provokator keberlanjutan dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Ia telah bekerja untuk beberapa lembaga multilateral dan perusahaan nasional maupun multinasional dalam kapasitas sebagai subject matter expert, penasihat, maupun anggota board committee terkait CSR, keberlanjutan dan ESG; menjadi pendiri dan principal consultant di beberapa konsultan keberlanjutan; juga duduk di berbagai board dan menjadi sukarelawan di organisasi sosial yang seluruhnya mempromosikan keberlanjutan.

Utang kepada Anak-Cucu yang Terus Membesar: Earth Overshoot Day 2026 dan Panggilan bagi Dunia Usaha
Benang Kusut Blue Carbon di Afrika
Melindungi Hak Anak-Anak Migran dengan Kebijakan yang Berpusat pada Anak
Menegaskan Tanggung Jawab Negara dalam Menghadapi Krisis Iklim
Mengulik Kerentanan Anak terhadap Panas Ekstrem
Bagaimana Ledakan Pusat Data di Asia Menguras Wilayah yang Dilanda Kekeringan