Peneliti Austria Kembangkan Inovasi untuk Deteksi Nanoplastik dalam Tubuh Manusia
Foto: Freepik
Polusi plastik telah menjadi isu lingkungan yang serius, yang diperparah oleh sistem pengelolaan sampah yang buruk sehingga memperluas penyebaran mikroplastik dan nanoplastik. Partikel-partikel plastik yang berukuran sangat kecil ini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga ditemukan di dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan mendeteksi nanoplastik dalam tubuh manusia untuk mengidentifikasi potensi risiko kesehatan yang ditimbulkan. Terkait hal ini, para peneliti di Austria mengembangkan metode inovatif berbasis teknologi laser yang mampu mendeteksi dan mengukur nanoplastik dalam cairan tubuh yang jernih.
Mengenal Nanoplastik
Sampah plastik tidak akan hilang begitu saja. Melalui proses alami, seperti paparan sinar matahari, angin, air, dan aktivitas organisme hidup, plastik perlahan terurai menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. Potongan besar plastik berubah menjadi mikroplastik yang berukuran antara 1 mikrometer – 5 milimeter dan nanoplastik yang jauh lebih kecil, dengan ukuran kurang dari 1 mikrometer. Ukuran nanoplastik yang sangat kecil, sering kali tidak terlihat oleh mata telanjang, bahkan dengan mikroskop biasa.
Ukuran nanoplastik yang sangat kecil dianggap lebih berbahaya dibandingkan mikroplastik. Partikel ini dapat menembus pertahanan alami tubuh, masuk ke dalam sel, dan berpotensi mencapai organ-organ sensitif seperti otak atau jantung. Meskipun mikroplastik tetap berbahaya, namun kemungkinannya untuk menembus tubuh jauh lebih rendah.
Penemuan nanoplastik dalam jaringan dan cairan tubuh manusia baru-baru ini memicu kekhawatiran tentang dampaknya terhadap kesehatan. Partikel kecil ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara yang kita hirup, makanan dan minuman yang kita dikonsumsi, bahkan kontak langsung dengan kulit. Meski dampaknya belum diketahui secara menyeluruh, penelitian awal menunjukkan bahwa nanoplastik berpotensi memicu stres oksidatif, peradangan, dan merusak membran sel.
Mengukur Kadar Nanoplastik dalam Tubuh Manusia
Para peneliti dari Universitas Teknologi Graz di Austria telah mengembangkan metode untuk mendeteksi nanoplastik dalam tubuh manusia. Mereka menggunakan teknik berbasis laser untuk menganalisis cairan tubuh yang jernih seperti plasma darah, air seni, dan air mata.
Pada langkah awal, laser diarahkan ke sampel cairan yang memengaruhi pergerakan partikel-partikel kecil di dalamnya. Sebagian kecil cahaya yang dipantulkan, dikenal sebagai hamburan Raman, mengalami perubahan frekuensi saat berinteraksi dengan partikel tersebut. Perubahan ini membantu para ilmuwan untuk mengidentifikasi komposisi, ukuran, dan jumlah partikel.
“Metode kami dalam mendeteksi mikro dan nanoplastik dapat digunakan pada cairan tubuh yang jernih seperti urin, air mata, atau plasma darah. Selain itu, teknik ini juga cocok untuk pemantauan aliran cairan secara berkesinambungan di sektor industri, termasuk air minum dan air limbah,” ujar Harald Fitzek, peneliti utama.
Metode ini sangat sensitif dan mampu mendeteksi jejak terkecil nanoplastik dalam tubuh manusia yang tidak dapat terdeteksi oleh alat sebelumnya. Para peneliti juga menerapkan teknik ini untuk mengeksplorasi kemungkinan implan mata melepaskan nanoplastik. Hasil awal menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, seperti tekanan atau paparan laser, lensa implan dapat melepaskan partikel plastik. Temuan ini menimbulkan pertanyaan penting tentang keamanan bahan perangkat medis yang menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut.
Penggunaan yang Bertanggung Jawab dan Berkelanjutan
Meningkatnya jumlah partikel plastik di dalam tubuh manusia, baik mikroplastik maupun nanoplastik merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Meski perkembangan teknologi deteksi penting, upaya pencegahan tetap harus menjadi prioritas utama. Pengurangan produksi dan konsumsi plastik merupakan langkah penting untuk pencegahan.
Mengakhiri polusi plastik memerlukan perubahan sistemik yang tidak hanya memprioritaskan kesehatan lingkungan, tetapi juga kesejahteraan manusia. Hal ini memerlukan kebijakan yang mendorong perubahan lintas industri, serta investasi dalam inovasi dan pengembangan alternatif plastik yang lebih aman. Kerja sama seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mencapainya. Pada akhirnya, membangun masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan bergantung pada kesediaan kita untuk mengubah cara mengkonsumsi dan mengelola sampah menjadi lebih bertanggung jawab.
Penerjemah: Kesya Arla
Editor: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan