Peneliti Temukan Alternatif Plastik Biodegradable Baru yang Terurai Lebih Cepat
Foto: Ron Lach di Pexels.
Kehidupan manusia modern hari ini nyaris tidak dapat dipisahkan dengan benda-benda yang terbuat atau mengandung plastik, mulai dari tas dan botol sekali pakai hingga wadah berbahan plastik yang lebih tahan lama. Namun, kemudahan yang ditawarkan plastik harus dibayar dengan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh meningkatnya sampah plastik. Sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi masalah ini, para ilmuwan di Massachusetts, Amerika Serikat, menemukan alternatif plastik biodegradable selain styrofoam yang dapat terurai lebih cepat di air laut.
Plastik dan Dampak yang Ditimbulkan
Produk berbahan plastik ada di mana-mana dalam kehidupan kita, mulai dari sedotan, gelas, selotip, sendok, dan bahkan kotak styrofoam. Plastik awalnya diciptakan sebagai pengganti bahan-bahan alami yang semakin menipis, lalu dengan cepat menjadi bahan kemasan yang paling umum digunakan karena daya tahan, keterjangkauan, dan aksesibilitasnya.
Ironisnya, plastik terlalu tahan lama, dan bahkan bisa bertahan selama ratusan tahun. Plastik pembungkus makanan, misalnya, biasanya hanya digunakan sekali dan efektif selama beberapa jam, namun baru akan terurai dalam beberapa dekade atau bahkan berabad-abad. Bahkan ketika sudah terdegradasi, plastik tetap menjadi ancaman karena berubah menjadi mikroplastik yang dapat memasuki rantai makanan, sehingga berdampak pada keanekaragaman hayati dan manusia. Selain itu, plastik terbuat dari bahan bakar fosil, yang merupakan sumber daya tak terbarukan.
Kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai telah menimbulkan permasalahan serius di seluruh dunia. Sekitar setengah dari seluruh sampah plastik berakhir di tempat pembuangan sampah, sementara 22% lainnya dibuang ke tempat pembuangan sampah yang tidak terkendali, yang mana sampah tersebut dapat melepaskan bahan kimia beracun ke udara, tanah, dan air. Selain itu, polusi plastik di saluran air terbawa ke laut dan sering dimakan oleh hewan-hewan laut seperti penyu, burung, dan ikan.
Alternatif Plastik Biodegradable
Di antara banyak penelitian yang sedang berlangsung bertahun-tahun untuk menemukan alternatif plastik biodegradable, para peneliti di Massachusetts baru-baru ini menemukan material bioplastik baru yang cepat terurai ketika diuji di bawah air laut, yakni selulosa diasetat (CDA). Polimer mirip plastik yang terbuat dari kayu ini memiliki tekstur seperti busa dan berpotensi menjadi pengganti styrofoam.
Studi ini melibatkan pemantauan CDA berbusa dan padat dalam tangki air laut yang terus mengalir di laboratorium yang dirancang khusus yang mengontrol suhu dan paparan cahaya untuk meniru lingkungan alami. Setelah 36 minggu, busa CDA ditemukan telah kehilangan 70% massa aslinya. Dengan menciptakan pori-pori kecil pada bahan, CDA berbusa terdegradasi 15 kali lebih cepat dibandingkan CDA padat dan bahkan melampaui kertas dalam kecepatan degradasi.
Studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa sedotan yang terbuat dari busa CDA terdegradasi 190% lebih cepat dibandingkan CDA padat dan diperkirakan memiliki masa pakai lebih pendek dibandingkan sedotan kertas.
Kesadaran dan Tanggung Jawab Bersama
CDA menawarkan pilihan yang layak untuk beralih dari plastik yang merusak lingkungan. Namun, upaya untuk mencari pilihan kemasan yang lebih berkelanjutan tidak akan efektif tanpa komitmen dan tindakan global untuk mengakhiri polusi sampah plastik.
Oleh karena itu, pemerintah harus menerapkan peraturan yang mendorong industri, penjual, dan konsumen untuk secara bertahap mengadopsi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Kolaborasi antara industri dan akademisi juga sangat penting mengingat wawasan penelitian dan pendanaan dapat membantu meningkatkan solusi yang berkelanjutan. Pada akhirnya, tanggung jawab kita bersama adalah mengurangi dan mendaur ulang plastik serta menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi semua.
Editor: Kresentia Madina & Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan