Gerakan Nasional Compost Day: Ajakan untuk Kelola Sampah Makanan
Foto: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Penanganan sampah adalah tantangan kita bersama. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat menjadi masalah, baik bagi lingkungan maupun kesehatan kita. Salah satu persoalan sampah yang perlu mendapat penanganan serius adalah sampah organik yang berasal dari sisa makanan.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2022, sebanyak 41,39 persen sampah merupakan sisa makanan. Sampah makanan juga merupakan kontributor utama emisi gas rumah kaca yang berbahaya bagi lingkungan dan memicu perubahan iklim. Untuk itu, diperlukan upaya pengelolaan sampah makanan yang lebih masif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Pada Minggu, 26 Maret 2023, KLHK melalui Direktorat Jenderal PSLB3 menginisiasi “Gerakan Nasional Compost Day, Kompos Satu Negeri” sebagai ajakan untuk mengatasi persoalan sampah makanan.
Memilah Sampah dan Membuat Kompos di Rumah
Terdapat tiga masalah utama dalam pengelolaan sampah di Indonesia. Pertama, minimnya pemilahan sampah organik maupun anorganik. Kedua, terbatasnya infrastruktur pengelolaan sampah yang menyebabkan sulitnya pengolahan sampah lanjutan. Ketiga, sebagian besar sampah organik berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) yang menghasilkan bau dan emisi gas metana (CH4) yang berkontribusi besar terhadap perubahan iklim.
Melalui gerakan nasional ini, KLHK mendorong masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah dan melakukan composting terhadap sampah organik secara mandiri. Composting adalah proses alami mendaur ulang bahan-bahan organik, seperti daun dan sisa makanan, menjadi pupuk berharga yang dapat menyuburkan tanah dan tanaman.
Berikut langkah-langkah untuk melakukan composting:
- Kumpulkan dan cacah sampah-sampah organik yang akan dijadikan adonan kompos.
- Siapkan wadah yang akan digunakan dan beri lubang di dasarnya untuk membentuk sirkulasi udara.
- Masukkan sampah organik ke dalam wadah yang telah diberi alas jaring plastik yang diisi sabut kelapa atau sekam, lalu tambahkan bekatul atau dedak.
- Lapisi wadah dengan kardus untuk mengatur kelembaban dan menyerap kelebihan air agar tidak merembes.
- Diamkan adonan selama tiga minggu dan kompos siap dijadikan pupuk.
Sebagai informasi, proses pengomposan yang benar akan membuat adonan kompos panas bila diraba atau keluar uap air jika diaduk. Apabila bahan kompos menjadi terlalu basah atau berair dan berbau busuk, jangan dijemur, tetapi tambahkan serbuk gergaji dan aduk adonan sampai merata hingga ke bawah.
“Jika seluruh masyarakat Indonesia melakukan pengomposan sampah organik sisa makanan setiap tahunnya, maka 10,92 Juta ton sampah organik tidak akan berakhir di TPA, dan dapat menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 6,834 juta ton CO2eq,” ujar Menteri LHK, Siti Nurbaya.
Mengurangi Sampah Makanan dengan Mengubah Perilaku Konsumsi
Mengurangi sampah makanan dan dampak buruknya dapat dimulai dari rumah. Cara yang paling mudah untuk memulai adalah dengan memilah sampah yang ada di rumah dan menerapkan kebiasaan dan pola konsumsi secara berkelanjutan. Membawa pulang makanan yang tidak habis saat makan di luar, berbagi makanan kepada sesama, dan memeriksa stok dan kondisi makanan dan bahan bakunya di rumah secara berkala juga penting untuk menghindari makanan basi atau terbuang.
Membangun kesadaran terkait sampah dan mengubah perilaku dalam konsumsi makanan dapat menjadi kunci. Selain itu, pengadaan infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai juga sangat penting. Dalam hal ini, para aktor utama dalam sistem pangan perlu bertindak dan bersinergi. Pemerintah, bisnis, pendidik, dan organisasi nirlaba dapat berpartisipasi dalam berbagai tahap, mulai dari membuat dan mengembangkan kebijakan, intervensi, kolaborasi, serta penelitian dan evaluasi.
Editor: Abul Muamar
Maulina adalah Reporter di Green Network Asia. Ia belajar program Sarjana Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Jember.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan