Mendukung Pertanian Kopi dan Kakao Berkelanjutan melalui LASCARCOCO
Foto: Isuru di Unsplash.
Kopi dan kakao merupakan komoditas penting bagi perekonomian Indonesia dan menjadi penopang hidup bagi ribuan petani di Tanah Air. Namun, perubahan iklim menghadirkan ancaman serius. Gangguan pertumbuhan, penurunan kualitas produk, hingga risiko gagal panen merupakan segelintir ancaman yang kerap dihadapi oleh para petani kopi dan kakao. Berangkat dari persoalan tersebut, Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) meluncurkan program The Landscape Approach to Sustainable and Climate Change Resilient Cocoa and Coffee Agroforestry (LASCARCOCO) pada 31 Mei 2023 untuk mendukung pertanian kopi dan kakao berkelanjutan di Indonesia.
Ancaman Perubahan Iklim terhadap Produksi Kopi dan Kakao
Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia, dengan jumlah produksi 760.963 ton pada 2021. Sedangkan untuk kakao, Indonesia adalah negara produsen kakao terbesar ketiga di dunia, dengan jumlah produksi mencapai 739.483 ton. Namun perubahan iklim kini menjadi ancaman serius bagi produksi kopi dan kakao, termasuk di Indonesia. Laporan Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) bersama Conservation International dalam Global Coffee Platform 2019 menemukan bahwa dampak perubahan iklim terhadap sektor kopi terlihat di 15 negara yang mewakili 90% produksi kopi global, termasuk Indonesia.
Salah satu ancaman terbesar dari perubahan iklim adalah El Niño, yang muncul akibat pemanasan muka laut. El Niño adalah dampak dari perubahan iklim yang dapat membawa kondisi panas dan kering yang tidak biasa ke wilayah penghasil kopi. Perubahan iklim juga dapat mengancam produksi kakao karena efek kekeringan yang ditimbulkannya.
Selain perubahan iklim, pertanian kopi dan kakao di Indonesia juga menghadapi sejumlah tantangan lainnya, di antaranya:
- Minimnya pendamping bagi petani kecil.
- Akses pendanaan dan pasar yang terbatas.
- Minimnya pemahaman akan pentingnya sertifikasi berkelanjutan.
- Rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan petani.
Pertanian Kopi dan Kakao Berkelanjutan
Pertanian kopi dan kakao yang berkelanjutan diyakini dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Dalam program LASCARCOCO, terdapat investasi bersama senilai USD 8,2 juta atau setara Rp 122,2 miliar (kurs Rp14.901 per USD) untuk melatih 6.500 petani kakao dan kopi untuk mempelajari praktik pertanian berkelanjutan, salah satunya metode tumpang sari, yakni teknik berkebun dengan memadukan jenis tanaman yang berbeda dalam satu lahan.
Program ini bertujuan untuk membantu petani meningkatkan hasil panen sekaligus melestarikan 14.000 hektare daerah aliran sungai dan vegetasi penyangga pada tahun 2025. Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil melalui peningkatan akses pasar dan penguatan ketahanan terhadap perubahan iklim dengan meningkatkan kesadaran, kapasitas, dan keterlibatan petani kecil dan masyarakat lokal dalam upaya adaptasi perubahan iklim.
Program ini dijalankan melalui kemitraan dengan Olam Food Ingredients (OFI), Rikolto, Hershey’s, dan Pemerintah Indonesia. Program ini berfokus pada kabupaten/kota di wilayah Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur dengan produksi kopi dan kakao yang menurun selama beberapa tahun terakhir akibat perubahan iklim, pohon yang sudah tua, hama dan wabah penyakit, serta penurunan kesuburan tanah.
“Kemitraan baru ini akan mendorong petani kakao dan kopi untuk mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan untuk meningkatkan tutupan hutan dan mendiversifikasi tanaman, serta memperkuat kemampuan mereka untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim,” kata Direktur USAID Indonesia, Jeff Cohen.
Kemitraan LASCARCOCO juga menargetkan terciptanya rantai pasokan kopi dan kakao yang transparan dan dapat ditelusuri melalui aplikasi Sistem Informasi Petani (OFIS) Olam. Sistem ini akan memberikan visibilitas lengkap tentang jejak keberlanjutan kopi dan kakao yang diproduksi melalui program ini.
Perusahaan pengguna kopi dan kakao seperti Rikolto dan Hershey’s juga mendukung program LASCARCOCO dan berpeluang mendapatkan rantai pasok yang lebih berkelanjutan. Lemak kakao yang dihasilkan melalui kemitraan ini akan dibeli dan digunakan oleh Hershey’s dan Rikolto untuk dijadikan produk coklat.
“Petani kecil berada di garis depan untuk mengatasi krisis iklim. Kemitraan baru ini menunjukkan bagaimana sektor swasta dan publik dapat bergabung untuk mengatasi tantangan ini,” kata Ravi Pokhriyal, Presiden Regional Head – Asia Pacific Olam Food Ingredients.
Pemberdayaan petani dan memastikan ketahanan dan kesiapan para petani kopi dan kakao dalam menghadapi perubahan iklim adalah dua hal yang penting untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Tak hanya itu, program ini juga merupakan bentuk upaya untuk mewujudkan bisnis yang lebih berkelanjutan dengan memastikan rantai pasok yang bertanggung jawab.
Editor: Abul Muamar
Maulina adalah Reporter di Green Network Asia. Ia belajar program Sarjana Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Jember.

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB