FINCAPES: Kolaborasi Universitas Waterloo dan Prasetiya Mulya untuk Perkuat Mitigasi Perubahan Iklim
Foto: Universitas Prasetiya Mulya.
Mitigasi perubahan iklim menuntut kerjasama multi-stakeholder, tidak hanya pemangku kepentingan lokal, namun juga internasional. Salah satu bentuk kerja sama yang penting adalah kolaborasi ilmiah sebagai upaya untuk mencari solusi perubahan iklim.
Universitas Waterloo Kanada berkolaborasi dengan Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul) dalam proyek Flood Impacts, Carbon Pricing, and Ecosystem Sustainability (FINCAPES) untuk menyusun dan mengembangkan strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Indonesia.
Tiga Program Utama FINCAPES
FINCAPES adalah proyek kemitraan pemerintah Kanada di kawasan Asia-Pasifik dengan beberapa negara Asia termasuk Indonesia. Proyek ini merupakan tindak lanjut hasil pertemuan G20 di Bali pada 16 November 2022. Kolaborasi ini diresmikan pada Senin, 20 Februari 2023 di Jakarta.
Dengan total pendanaan 15 juta dolar Kanada, FINCAPES bertujuan untuk mendukung Indonesia dalam menyusun strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Direktur program Ilmu Statistik dan Aktuaria Fakultas Matematika Universitas Waterloo, Bill Duggan menjelaskan terdapat tiga komponen program utama FINCAPES:
- Pengembangan model risiko keuangan baru untuk membantu pemerintah daerah, industri, dan masyarakat rentan dalam menyusun dan mempersiapkan biaya sosial ekonomi untuk menghadapi perubahan iklim, khususnya kerusakan akibat banjir.
- Pengembangan keilmuan dan teknologi penyerapan karbon di Indonesia dengan melindungi dan merehabilitasi lahan gambut dan ekosistem bakau kritis guna melestarikan keanekaragaman hayati.
- Pengembangan kebijakan tentang pajak karbon dan program pembatasan serta perdagangan karbon yang akan menjadi bagian penting dari pengurangan gas rumah kaca di Indonesia. Ini juga sebagai upaya Mekanisme Transisi Energi untuk membantu proses transisi Indonesia menjadi negara dengan energi rendah karbon.
Dalam kolaborasi ini, Universitas Prasmul juga akan berfokus pada riset terkait perdagangan karbon (carbon trading), pajak karbon (carbon tax), nilai ekonomi karbon (carbon pricing), dan carbon capital. Bersama FINCAPES, Universitas Prasmul akan menerapkan model pembelajaran terkait tema-tema tersebut dan mendalami aspek ekonomi dari perubahan iklim.
“Dengan berfokus pada perdagangan karbon sebagai solusi perubahan iklim, FINCAPES akan membantu transisi Indonesia ke ekonomi rendah karbon dan menuju ekosistem yang berkelanjutan dan lebih sehat,” ujar Profesor Stefan Steiner, Ketua Tim FINCAPES dari Universitas Waterloo.
Kolaborasi Akademik untuk Atasi Perubahan Iklim
Kolaborasi penelitian sangat penting untuk mengatasi perubahan iklim. Dengan berbagi data dan temuan, ilmuwan dapat bekerja sama untuk mengidentifikasi pola dan tren, serta mengembangkan solusi untuk tantangan perubahan iklim.
Kepala Kerjasama Pembangunan Kanada untuk Indonesia, Kevin Tokar mengatakan bahwa Kanada memandang Indonesia punya posisi yang sangat penting, terutama dalam isu perubahan iklim.
Selain Universitas Prasmul sebagai mitra utama, Universitas Waterloo juga menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam pelaksanaan program FINCAPES. Kolaborasi antar-kampus ini akan berjalan dalam berbagai bentuk. Adapun kolaborasi IPB dengan FINCAPES akan berfokus pada riset terkait kehutanan dan lingkungan hidup.
Saat ini IPB telah mengembangkan Risk Fire System yang dapat memprediksi kebakaran hutan dalam enam bulan sebelum terjadi. Sistem yang telah diadaptasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini dapat mencegah dan mengurangi risiko kebakaran hutan. Di samping itu, IPB juga mempunyai Ecosystem Platform yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi konversi lahan sebagai sistem peringatan dini (early warning system) alih fungsi lahan yang dapat diterapkan di berbagai daerah.
Nantinya, hasil kolaborasi antar-kampus dan antar-bidang keilmuan ini diharapkan dapat menghasilkan berbagai permodelan yang teruji yang bisa dimanfaatkan dan diterapkan di Indonesia maupun di tingkat global untuk mencegah perubahan iklim.
“Tentunya kami berharap nantinya hasil dari program ini dapat menjadi solusi atas perubahan iklim dalam skala yang lebih besar,” ujar Jean Lowry, Project Director Universitas Waterloo.
Editor: Abul Muamar
Maulina adalah Reporter di Green Network Asia. Ia belajar program Sarjana Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Jember.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan