Degradasi Ekosistem Mangrove dan Risiko yang Ditimbulkan
Foto: Shayne Spencer di Pexels.
Ekosistem mangrove berperan penting bagi ketahanan wilayah pesisir. Sayangnya, ekosistem mangrove telah mengalami degradasi di berbagai tempat, termasuk di Indonesia. Dalam penilaian global pertama yang diluncurkan tahun 2024, IUCN mengeksplorasi risiko degradasi ekosistem mangrove menggunakan standar Daftar Merah Ekosistem.
Kondisi Global
Mangrove tumbuh subur di perbatasan antara daratan dan lautan. Akarnya dapat menjadi penghalang erosi pantai dan tempat berlindung bagi ikan-ikan kecil. Secara ekonomi, hutan bakau merupakan sumber pendapatan penting bagi masyarakat lokal melalui ekowisata, kerajinan, dan budidaya perikanan.
Namun sayangnya, degradasi ekosistem mangrove terus berlanjut di berbagai belahan dunia. Analisis UNEP menemukan bahwa antara tahun 1996 hingga 2020, dunia kehilangan 5.245 km2 (3,4%) hutan mangrove, yang mencakup total luas sekitar 150 ribu km2.
Pada tahun 2024, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) merilis penilaian terhadap kondisi mangrove global. Dengan menggunakan standar Daftar Merah Ekosistem, IUCN menemukan bahwa 50% kawasan mangrove global berisiko mengalami kerusakan. Angka tersebut diperoleh dengan menjumlahkan ekosistem mangrove dengan kategori Rentan, Terancam Punah, dan Sangat Terancam Punah.
Penyebab dan Ancaman
Menurut penilaian tersebut, ada tiga ancaman utama: kenaikan permukaan laut, perubahan iklim, dan aktivitas manusia secara langsung.
Dua penyebab pertama berkaitan erat. Kenaikan permukaan laut merupakan faktor utama yang mengancam degradasi ekosistem mangrove, yang sangat berkaitan dengan pemanasan global yang disebabkan oleh perubahan iklim. Kenaikan suhu global akan menyebabkan mencairnya gletser, yang pada akhirnya akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut dan menenggelamkan hutan mangrove. IUCN memperkirakan, tanpa adanya intervensi, 25% kawasan mangrove global akan tenggelam dalam 50 tahun ke depan.
Selain itu, perubahan iklim mengakibatkan cuaca yang lebih parah, sehingga memperburuk degradasi ekosistem mangrove dengan mengubah lanskap kehidupannya. Aktivitas manusia langsung seperti penggundulan hutan untuk pertanian dan budidaya udang, eksploitasi kayu, dan pembangunan bendungan juga mempengaruhi sekitar 25% ekosistem mangrove.
Mengatasi Degradasi Ekosistem Mangrove
Hilangnya ekosistem mangrove berarti hilangnya pilar dan penstabil Bumi yang berharga. IUCN menyatakan bahwa dengan kondisi ekosistem mangrove saat ini, kita berisiko kehilangan sekitar 1,8 miliar ton karbon yang tersimpan, perlindungan bagi 2,1 juta jiwa yang terpapar banjir pesisir, dan 17 juta hari upaya penangkapan ikan per tahun.
Oleh karena itu, upaya restorasi menjadi sangat penting. Penilaian IUCN dapat memberikan landasan bagi data mengenai kondisi ekosistem mangrove global saat ini dan ancaman terhadap keberadaannya. Selain itu, negara-negara harus mengumpulkan data yang komprehensif untuk menerapkan intervensi yang disesuaikan dengan kondisi wilayah tersebut.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan