Mengatasi Kekurangan Guru untuk Wujudkan Pendidikan Berkualitas untuk Semua
Foto: Amaury Michaux di Pexels.
Pendidikan adalah kunci untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, pemenuhan hak atas pendidikan bagi semua sangatlah penting. Dalam hal ini, guru memegang peran penting dalam mendukung pembelajaran yang berkualitas bagi siswa. Sayangnya, kekurangan guru masih terjadi di seluruh dunia, dan ini merupakan masalah mendesak di sektor pendidikan yang mesti segera diatasi.
Kekurangan Guru di Dunia
Guru adalah tulang punggung sistem pendidikan, namun kehadirannya seringkali dianggap remeh. Untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas, guru harus memiliki bekal yang memadai serta didukung oleh upah dan jam kerja yang adil. Namun, semua itu seringkali tidak diperoleh oleh para guru di seluruh dunia, sehingga berdampak pada jumlah orang yang mau menjadi guru.
Sebuah laporan pada tahun 2024 yang dikembangkan melalui kolaborasi antara UNESCO dan Satuan Tugas Internasional Guru untuk Pendidikan 2030 mencoba menjelaskan masalah ini. Laporan pertama, yakni Laporan Global tentang Guru, mencoba menjembatani kesenjangan mengenai data guru secara global, regional, dan nasional serta memberikan saran tentang intervensi kebijakan yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut.
Masalah Kompleks dan Meluas
Dalam skala global, dunia akan membutuhkan tambahan 44 juta guru sekolah dasar dan menengah untuk mencapai pendidikan berkualitas bagi semua pada tahun 2030, sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 4. Namun, perlu diketahui bahwa tingkat kekurangan guru berbeda-beda di setiap kawasan.
Afrika Sub-Sahara, misalnya, membutuhkan 15 juta guru tambahan, yang merupakan angka tertinggi dibanding kawasan lainnya, sedangkan Oseania dan Asia Tengah membutuhkan guru tambahan dengan jumlah yang paling rendah, masing-masing hanya 0,3 juta dan 0,7 juta. Sebagian besar guru dibutuhkan di pendidikan tingkat menengah untuk menggantikan guru-guru yang sudah pensiun.
Kekurangan guru dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kondisi kerja dan insentif memainkan peran besar dalam motivasi dan kemauan guru untuk tetap menjalankan profesinya. Ruang kelas yang penuh sesak, yang juga merupakan indikasi nyata kekurangan guru, dapat menurunkan kualitas pengajaran dan berdampak pada kondisi kerja guru secara keseluruhan.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa gaji guru masih memprihatinkan, sehingga berdampak pada retensi guru. Sebagai contoh, guru-guru di 20 negara Afrika Sub-Sahara hanya memperoleh pendapatan kurang dari $7.500 paritas daya beli per tahun, yang sebagian besar tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga mereka. Di Indonesia sendiri, banyak guru yang diberi upah yang sangat rendah, bahkan tak sampai Rp 500 ribu, terutama mereka yang berstatus sebagai guru honorer.
Secara keseluruhan, kurangnya data terkait kekurangan guru membuat sulit untuk mengukur tren dan kondisi sebenarnya dari permasalahan yang ada. Misalnya, kurangnya standar dan data tentang guru di berbagai tingkatan menyebabkan perbandingan dan tolok ukur internasional menjadi sulit, yang pada gilirannya menghambat intervensi kebijakan strategis. Masalah data serupa juga terjadi pada aspek gaji dan pengurangan guru.
Pendidikan Berkualitas untuk Semua
Kekurangan guru memiliki dampak yang luas, termasuk berkurangnya kesejahteraan guru, memperburuk kesenjangan pendidikan, dan meningkatkan beban keuangan pada sistem pendidikan. Oleh karena itu, perlu pendekatan yang holistik dan multifaset untuk mengatasi masalah kompleks ini.
Laporan tersebut menekankan bahwa strategi untuk mengatasi kekurangan guru harus mencakup cara-cara untuk menjadikan pengajaran sebagai peluang karier yang menarik, contohnya dengan memberikan akses terhadap pengembangan profesional. Selain itu, kebijakan inklusif yang mendorong kesetaraan gender dan keberagaman dalam pengajaran dapat mendorong lebih banyak orang untuk tetap dan menggeluti profesi ini. Meningkatkan investasi di bidang pendidikan juga penting untuk membiayai sektor ini, khususnya untuk memastikan gaji guru yang kompetitif dan kondisi kerja yang adil.
Penerjemah: Abul Muamar
Editor: Nazalea Kusuma
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest