Potensi Sistem Agrivoltaik untuk Efisiensi Penggunaan Lahan
Foto: Anders J di Unsplash.
Lahan sangat penting dalam mendukung kemajuan pembangunan berkelanjutan, khususnya di bidang pertanian dan energi terbarukan. Kini, kebutuhan akan lahan pun terus meningkat seiring permintaan akan pangan dan energi bersih yang terus melonjak. Terkait hal ini, sebuah penelitian yang dilakukan oleh lembaga penelitian Ember mengungkap bagaimana sistem agrivoltaik dapat memberikan manfaat, baik bagi sektor pertanian maupun sektor pembangkitan energi terbarukan, serta memaksimalkan efisiensi penggunaan lahan di Eropa Tengah.
Sistem Agrivoltaik
Laporan bertajuk “Pemberdayaan petani di Eropa Tengah: studi kasus penerapan agrivoltaik” mengeksplorasi potensi dan manfaat agrivoltaik di empat negara Eropa Tengah: Czechia, Hongaria, Polandia, dan Slovakia. Sekitar 19% lahan subur di Uni Eropa dengan volume panen yang besar berlokasi di negara-negara tersebut. Namun, fluktuasi harga pupuk, penurunan perekonomian, dan perubahan iklim telah menimbulkan risiko terhadap produktivitas lahan di negara-negara tersebut.
“Bukan mengurangi produksi pangan, agrivoltaik justru meningkatkan hasil panen beberapa jenis tanaman,” kata Dr Paweł Czyżak, Pimpinan Regional CEE, Ember.
Sistem agrivoltaik (agri-PV) merujuk pada penggunaan lahan secara simultan untuk pertanian sekaligus pembangkit listrik tenaga surya. Salah satu caranya adalah dengan menempatkan panel surya di atas tanaman untuk memberi keteduhan. Penerapan sistem agrivoltaik lainnya dapat berupa penggunaan rumah kaca bertenaga surya hingga tenaga surya antar tanaman skala industri seperti gandum atau oat.
Laporan tersebut memaparkan beberapa manfaat dari penerapan sistem agrivoltaik, antara lain dapat membantu memodifikasi iklim mikro di bawah panel surya untuk mendukung tanaman, melindungi tanaman dari radiasi matahari yang berlebihan dan kondisi air yang ekstrem, dan menstabilkan kondisi tanaman sepanjang tahun.
Potensi di Eropa Tengah
Analisis Ember mencatat bahwa Eropa Tengah memiliki potensi penerapan agrivoltaik yang belum diolah. Keempat negara yang diteliti dalam laporan tersebut dapat menggunakan 180 GW listrik dari sektor agrivoltaik, sehingga dapat menyumbang 191 TWh listrik bersih setiap tahunnya atau setara dengan 68% kebutuhan listrik saat ini di Czechia, Hongaria, Polandia, dan Slovakia.
Selain itu, penerapan sistem ini dilaporkan dapat meningkatkan hasil panen hingga 16% untuk buah-buahan atau beri. Sistem agrivoltaik juga dapat membatasi penyusutan panen di bawah 20% untuk tanaman seperti gandum dengan menempatkan panel surya secara vertikal dengan jarak tanam yang lebar.
Pada akhirnya, menggabungkan pertanian dan pembangkit energi terbarukan melalui sistem agrivoltaik dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. Menurut laporan tersebut, potensi efisiensi penggunaan lahan dari penerapan sistem ini dapat mencapai 178% dibandingkan dengan penggunaan lahan untuk pertanian dan pembangkit listrik tenaga surya secara terpisah.
Perlu Aturan Hukum
Menurut PBB, setidaknya 100 juta hektare lahan sehat dan produktif menyusut setiap tahunnya antara tahun 2015 hingga 2019. Dengan meningkatnya permintaan akan produksi pangan dan pembangkitan energi ramah lingkungan, sistem agrivoltaik dapat memberi solusi potensial untuk memaksimalkan efisiensi lahan secara global.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa aturan hukum merupakan instrumen penting yang memungkinkan penerapan sistem agrivoltaik di Eropa Tengah dan di kawasan mana pun. Beberapa rekomendasi yang disajikan dalam dalam tersebut antara lain:
- Mengutamakan manfaat bagi petani dalam pelaksanaannya, termasuk meningkatkan kesadaran dan memberikan bantuan keuangan.
- Memasukkan semua jenis sistem agrivoltaik ke dalam aturan untuk memanfaatkan potensi maksimal sekaligus menjaga fungsi lahan pertanian untuk menghasilkan pangan.
- Mendukung program penelitian dan pengembangan.
- Menetapkan target kapasitas spesifik dan dukungan finansial untuk sistem agrivoltaik.
- Mencakupkan petani ke dalam subsidi investasi transisi energi.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest