Akselerator Kesetaraan Gender dari UN Women untuk Tingkatkan Kesetaraan Gender dan Hak-Hak Perempuan
Foto: Freepik.
Hingga saat ini, ketimpangan gender masih menjadi isu serius meskipun berbagai upaya untuk mengatasinya telah dilakukan dimana-mana. Pencapaian di seluruh indikator Tujuan 5 SDGs masih belum memadai, sehingga menghambat pencapaian tujuan-tujuan lainnya. Terkait hal ini, UN Women menerbitkan kerangka Akselerator Kesetaraan Gender (Gender Equality Accelerator) untuk mengatasi masalah mendesak terkait ketimpangan gender dan mempercepat perumusan solusinya.
Keluar Jalur
Di tengah jalan menuju Agenda 2030, sebagian besar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan masih keluar jalur—jauh dari kata tercapai. UN Women melaporkan bahwa tidak ada satupun indikator SDG 5 yang tercapai pada tahun 2023, dan hanya dua indikator yang dianggap mendekati target. Sekretaris Jenderal PBB telah menyerukan tindakan mendesak bagi para pemimpin dunia untuk meningkatkan upaya mereka, termasuk dalam meningkatkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
Isu gender dan perempuan mencakup berbagai aspek kehidupan. Peran dan potensi perempuan sering kali diabaikan, termasuk dalam isu kepemimpinan, pemerintahan, dan perekonomian. Secara global, perempuan hanya mewakili 22,8% posisi kementerian pada tahun 2023. Kurangnya pengakuan ini juga menunjukkan lemahnya tata kelola dan sistem keuangan yang responsif gender, sehingga semakin menepikan perempuan dan anak perempuan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan bagi semua.
Selain itu, kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan telah menimbulkan berbagai dampak buruk yang signifikan. UN Women memperkirakan bahwa terdapat 245 juta perempuan dan anak perempuan berusia 15 tahun ke atas di seluruh dunia yang menjadi korban kekerasan, baik fisik dan/atau seksual yang dilakukan oleh pasangan intimnya setiap tahun.
Selain itu, kekerasan berbasis gender cenderung meningkat pada masa krisis. Pada tahun 2022, jumlah perempuan dan anak perempuan yang tinggal di wilayah terdampak konflik mencapai 614 juta jiwa. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya upaya-upaya yang berperspektif gender dalam merespons konflik dan krisis.
Akselerator Kesetaraan Gender
Mewujudkan kesetaraan gender dan meningkatkan pemberdayaan perempuan sangat penting untuk mencapai target SDGs dan memastikan kehidupan yang lebih baik bagi perempuan dan anak perempuan. Terkait hal ini, UN Women mengembangkan kerangka Akselerator Kesetaraan Gender melalui analisis komprehensif mengenai isu-isu gender. UN Women melakukan penelitian akademis dan evaluasi program untuk mengidentifikasi akar permasalahan dalam isu-isu gender dan merumuskan solusi potensial untuk mengatasinya.
Akselerator Kesetaraan Gender dirancang untuk mempercepat terwujudnya kesetaraan gender dan mencapai hasil yang signifikan sesuai SDGs. Akselerator ini dapat disesuaikan dengan konteks dan prioritas nasional dan harus dilaksanakan melalui kerja sama dengan para pemangku kepentingan nasional.
Terdapat 10 Akselerator Kesetaraan Gender yang tercantum dalam kerangka ini:
- Partisipasi yang Setara Perempuan dalam Pengambilan Keputusan dan Institusi Politik: Mendukung perempuan untuk memimpin dalam pengambilan keputusan dan institusi politik.
- Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender: Membuka bukti, kapasitas, dan keterampilan untuk menanamkan kesetaraan dalam perencanaan dan penganggaran pemerintah.
- Transformasi Sistem Pelayanan: Menerapkan kebijakan 5R yang komprehensif untuk mengakui, mengurangi, mendistribusikan kembali, mewakili, dan memberi penghargaan terhadap kerja-kerja perawatan berbayar dan tidak berbayar serta pekerjaan rumah tangga, dengan peran yang kuat bagi sektor publik dalam berinvestasi di infrastruktur layanan sosial.
- Perempuan di Dunia Kerja: Memanfaatkan perlindungan sosial dan pengadaan yang responsif gender untuk kewirausahaan perempuan, pekerjaan layak, dan jaminan pendapatan.
- Aksi Iklim yang Responsif Gender: Meningkatkan transisi yang adil dan responsif gender menuju ekonomi hijau/biru yang berkelanjutan dengan mengutamakan kesetaraan gender dan hak-hak perempuan.
- Mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perempuan: Mencegah dan merespons segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan dengan mengatasi penyebab dan faktor mendasar serta meningkatkan kualitas dan layanan penting.
- Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan: Meningkatkan perdamaian dan keamanan global melalui kepemimpinan dan inklusi perempuan dalam pencegahan, penciptaan perdamaian dan pembangunan perdamaian, serta keadilan dan perlindungan yang responsif gender.
- Kepemimpinan, Pemberdayaan, Akses, dan Perlindungan dalam Koordinasi dan Respons Kemanusiaan: Meningkatkan kepemimpinan perempuan, perlindungan, dan akses terhadap pembelajaran dan penghidupan dalam keadaan darurat dan krisis kemanusiaan melalui kemitraan dengan pemangku kepentingan lokal, nasional, dan internasional.
- Ketahanan Perempuan terhadap Bencana: Memperkuat suara, keagenan, dan kepemimpinan perempuan dalam pengurangan dan ketahanan risiko bencana dan iklim dengan menerapkan langkah-langkah dan sistem tata kelola yang responsif gender.
- Women Count: Mendukung negara-negara untuk meningkatkan produksi dan penggunaan data gender untuk memantau kemajuan SDG dan meningkatkan tindakan kebijakan berbasis data untuk perempuan dan anak perempuan secara global.
Penerapan kerangka kerja ini memerlukan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, sistem PBB, dan masyarakat sipil untuk mencapai hasil yang berkelanjutan dan jangka panjang guna meningkatkan kesetaraan gender dan hak-hak perempuan di seluruh dunia.
Dokumen selengkapnya dapat dibaca di sini.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit