Asia Carbon Institute Dorong Akselerasi Pasar Karbon Sukarela di Asia
Foto: Freepik.
Dalam beberapa tahun terakhir, pasar karbon (carbon markets) telah muncul sebagai salah satu cara perusahaan untuk mencapai komitmen nol emisi mereka. Meskipun rentan terhadap ancaman greenwashing karena hasilnya yang masih dipertanyakan, serta banyaknya perusahaan yang berpartisipasi tanpa rencana jelas untuk mengubah praktik bisnis mereka, pasar karbon masih memiliki potensi. Untuk itu, perlu adanya peraturan dan standar untuk benar-benar mencapai hasil yang optimal dalam pengurangan emisi karbon. Asia Carbon Institute bertujuan untuk mengakselerasi solusi mitigasi emisi gas rumah kaca melalui pasar karbon sukarela (voluntary carbon markets) di Asia.
Pasar Karbon Sukarela di Asia
Secara umum, ada dua mekanisme pasar karbon: wajib (compliance) dan sukarela (voluntary). Pasar karbon wajib (compliance carbon market) adalah mekanisme yang mewajibkan perusahaan dan pemerintah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka berdasarkan peraturan yang telah disepakati. Sementara itu, pasar karbon sukarela (voluntary carbon market) memberikan kesempatan pada perusahaan untuk membeli kredit karbon (carbon credits) secara sukarela.
Pasar karbon sukarela telah bertumbuh pesat di Asia dalam beberapa tahun terakhir. Data dari Ecosystem Marketplace menunjukkan bahwa nilai tahunan pasar karbon sukarela di Asia mencapai hampir 30 milliar rupiah (USD 2 miliar) pada tahun 2021. Lima tahun sebelumnya, nilai tersebut kurang dari 3 miliar rupiah (USD 200 juta).
Pertumbuhan nilai yang pesat ini mengindikasikan bahwa semakin banyak bisnis yang menyatakan komitmennya untuk mencapai nol emisi. Maka dari itu, diperlukan kerangka, standar, verifikasi, dan peraturan untuk memastikan integritas dan keefektifan pasar karbon.
Dalam hal ini, badan registerasi kredit karbon (carbon credit registry) adalah pemain penting. Mereka dapat mengeluarkan sertifikat kredit karbon berdasarkan protokol, mencatat carbon offset yang tersedia di pasaran, dan memastikan legitimasi kredit karbon.
Asia Carbon Institute
Asia Carbon Institute adalah organisasi standar dan registerasi kredit karbon sukarela yang didirikan pada tahun 2022. Organisasi non-profit ini bertujuan untuk mempercepat transisi ekonomi Asia menuju nol emisi dengan menghasilkan karbon kredit yang transparan, berkualitas tinggi, dan bisa terkredit.
“Asia merupakan wilayah dengan perkembangan tercepat di dunia dan mempunyai potensi terbesar dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Target netralitas karbon yang ditetapkan oleh pemerintah di seluruh dunia akan mendorong permintaan dan pasokan kredit karbon sukarela ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata John Lo, salah satu pendiri Asia Carbon Institute.
Untuk mendukung registerasi pasar karbon sukarela di Asia, Asia Carbon Institute berfokus kepada beberapa proyek pengurangan gas GRK, termasuk:
- Proyek berbasis teknologi, termasuk proyek-proyek penangkap udara (direct air capture), energi terbarukan, dan efisiensi energi.
- Proyek berbasis urban, termasuk proyek-proyek transportasi massal, kendaraan listrik, pengurangan karbon di bangunan hijau, dan pengelolaan sampah urban.
- Proyek berbasis alam, termasuk proyek-proyek perlindungan, pemulihan, dan pengelolaan ekosistem alam.
Mengakselerasi Nol Emisi di Asia
Pada tanggal 29 dan 31 Agustus 2023, Asia Carbon Institute meresmikan kantornya yang bertempat di Singapura dan Hong Kong. Pada acara peresmian, organisasi ini menandatangani sebuah Memorandum of Understanding (MoU) dengan British Standard Institution untuk mengakselerasi verifikasi, inovasi, dan perkembangan standar karbon kredit baru. Adanya organisasi registerasi karbon kredit diharapkan dapat mengundang perusahaan dan pihak-pihak terkait untuk menunjukkan komitmen pengurangan karbon mereka lewat pasar karbon sukarela di Asia.
“Dengan menyediakan registrasi kredit karbon yang kuat, ACI akan memainkan peran penting dalam mendorong investasi berkelanjutan dan mendorong berkembangnya pasar kredit karbon sukarela di kawasan ini,” kata Chan Ho Lim, Joseph, JP, Wakil Sekretaris Biro Jasa Keuangan & Perbendaharaan Hong Kong.
Penerjemah: Kresentia Madina
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut