Asuransi Inovatif untuk Tingkatkan Ketangguhan UMKM
Foto: Jaddy Liu di Unsplash.
Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menggerakkan sebagian besar kegiatan ekonomi di negara-negara ASEAN. Namun, pada saat yang sama, UMKM juga sangat rentan terhadap berbagai risiko, mulai dari pendanaan hingga perubahan iklim. Terkait hal ini, laporan dari UNDP mengeksplorasi solusi asuransi inovatif untuk mendukung ketangguhan UMKM dalam konteks di Thailand dan Malaysia.
UMKM sebagai Pendorong Perekonomian
UMKM merupakan jantung pembangunan ekonomi ASEAN. Di Malaysia dan Thailand, UMKM menyumbang lebih dari sepertiga PDB di masing-masing negara. Selain itu, UMKM juga menunjang penghidupan jutaan orang, yang masing-masing mencakup 48% dan 72% lapangan pekerjaan di Malaysia dan Thailand.
Sayangnya, UMKM masih rentan terhadap berbagai risiko dan rawan terhadap kegagalan dalam menghadapi guncangan. Dalam laporan tersebut, misalnya, tercatat sekitar 40,5% hingga 70% UMKM di ASEAN berhenti beroperasi selama Pandemi COVID-19. Kurangnya akses terhadap pendanaan, terbatasnya sumber daya dan fasilitas, serta meningkatnya risiko bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim juga mengancam keberlangsungan dan keberlanjutan UMKM, yang akhirnya berdampak pada perekonomian secara keseluruhan dalam jangka panjang.
Tantangan-tantangan tersebut semakin diperparah oleh terbatasnya pemahaman pelaku UMKM mengenai pentingnya mitigasi risiko. Pelaku UMKM yang memiliki asuransi jumlahnya tak sampai 5%. Oleh karena itu, solusi asuransi inovatif menjadi penting untuk memperkuat ketangguhan UMKM.
Mengembangkan Solusi Asuransi Inovatif
Bagi penyedia asuransi, UMKM merupakan pasar yang belum banyak terjamah, sebagaimana yang ditunjukkan oleh rendahnya penyerapan asuransi di sektor ini. Namun, minimnya data yang tersedia dan beragamnya kondisi UMKM menjadi kendala besar dalam mengembangkan dan mendistribusikan produk asuransi yang sesuai dengan tantangan spesifik mereka.
Untuk mendukung solusi asuransi inovatif dalam konteks Malaysia dan Thailand, laporan UNDP membagi UMKM di masing-masing negara menjadi beberapa segmen berdasarkan rantai nilai. Segmentasi ini menjadi langkah penting pertama untuk memahami tantangan unik dan mengembangkan solusi yang disesuaikan.
Secara keseluruhan, pendekatan ini menunjukkan adanya risiko spesifik dan lintas sektoral di seluruh rantai nilai, yang dapat saling terkait. Misalnya, pertanian, manufaktur, dan ritel saling terkait; oleh karena itu, gangguan pada satu hal dapat berdampak pada hal lain. Sementara itu, perubahan iklim dianggap sebagai risiko luas yang dapat berdampak pada UMKM di semua sektor dan negara. Perusahaan asuransi harus mempertimbangkan semua aspek ini ketika mengembangkan solusi asuransi inovatif dan produk yang disesuaikan untuk UMKM.
Untuk memberikan solusi yang menyeluruh, laporan tersebut mengidentifikasi tiga jenis peluang berdasarkan konteks Malaysia dan Thailand:
- Menggabungkan berbagai jenis asuransi untuk memberikan solusi yang lebih sesuai bagi UMKM.
- Menggabungkan alat mitigasi risiko dengan solusi transfer risiko (asuransi), yang memungkinkan UMKM untuk memitigasi dan mengatasi risiko.
- Memanfaatkan mitra distribusi alternatif (agregator) untuk menjangkau UMKM secara lebih efektif dan melayani mereka dengan lebih efisien.
Kolaborasi Publik-Swasta
Pada akhirnya, membangun ketahanan UMKM di Asia Tenggara memerlukan partisipasi dari sektor publik dan swasta. Pemerintah dan para pembuat kebijakan harus menciptakan lingkungan yang memungkinkan UMKM untuk berkembang, termasuk memberikan pedoman mengenai digitalisasi, mendorong platform dan alat inovasi, dan memantau risiko.
Sementara itu, perusahaan asuransi harus meningkatkan pemahaman mereka tentang berbagai aspek UMKM untuk mengembangkan solusi risiko yang baru dan sesuai. Pada akhirnya, meningkatkan koordinasi dan kolaborasi antar aktor-aktor utama sangat penting untuk merumuskan perekonomian yang kuat dan berkembang.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan