Kolaborasi untuk Atasi Masalah Polusi Udara di Asia Tenggara
Foto: Meiying Ng di Unsplash.
Udara yang kita hirup sangat menentukan kualitas hidup kita. Namun, masalah kualitas udara yang buruk kini berlangsung di berbagai tempat, termasuk di Asia Tenggara. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi untuk mengatasi masalah polusi udara di kawasan ini.
Udara yang Berbahaya
Di kota-kota besar di berbagai belahan dunia, pemandangan langit biru yang cerah dengan udara yang bersih dan sejuk merupakan hal langka yang patut dirayakan. Salah satu penyebabnya adalah permasalahan polusi udara yang terus terjadi sehingga membuat langit berkabut dan suram.
Tak terkecuali kota-kota besar di Asia Tenggara. Pada Januari 2025, organisasi pemantau udara IQAir mencatat Kota Ho Chi Minh, Phnom Penh, dan Bangkok sebagai salah satu dari lima kota paling berpolusi secara global. Pada bulan yang sama, lebih dari 350 sekolah di Thailand ditutup setelah tingkat PM2.5 melampaui ambang batas tidak sehat di atas 55,5 mikrogram per meter kubik (μg/m3), dan mencapai puncaknya pada angka 87,3 μg/m3.
Paparan PM2.5 tingkat tinggi, yakni partikel kecil dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer, merupakan faktor risiko utama kematian di Asia Tenggara. Menurut laporan Health Effects Institute, 621.000 kematian di wilayah ini pada tahun 2021 berkaitan dengan paparan PM2.5, yang dapat memperburuk berbagai penyakit kronis, termasuk kanker, kardiovaskular, dan masalah pernapasan.
Mengatasi Polusi Udara Lintas Batas di Asia Tenggara
Emisi industri dan perumahan, penggunaan bahan bakar fosil, pembakaran lahan, dan kebakaran adalah beberapa penyebab utama polusi udara. Meskipun mungkin berasal dari satu negara, namun masalah-masalah ini dapat menyebar melintasi batas negara dan berdampak pada negara lain—fenomena yang disebut polusi udara lintas batas.
Oleh karena itu, kolaborasi di tingkat negara dan kawasan sangat penting untuk mengatasi masalah ini. Sebagai contoh, Departemen Perdagangan Luar Negeri Thailand mengadakan pertemuan pada Februari 2025, mengundang perwakilan dari Laos, Kamboja, dan Myanmar untuk membahas cara mengatasi PM2.5 tingkat tinggi. Salah satu cara yang diusulkan dalam pertemuan tersebut adalah dengan membatasi impor jagung untuk pakan ternak dari perkebunan yang membakar sisa panennya. Pemerintah Thailand berencana menerapkan pembatasan ini pada semua produk pertanian dengan tetap mematuhi pedoman perdagangan internasional.
Sementara itu, negara-negara di kawasan ini telah menyepakati Perjanjian ASEAN tentang Polusi Asap Lintas Batas. Perjanjian ini menetapkan pusat koordinasi, pedoman pemantauan, penilaian, dan tanggap darurat, serta pusat pemantauan kebakaran hutan dan lahan.
Tindakan Menyeluruh
Kita semua memiliki hak atas udara bersih. Selain kolaborasi di tingkat nasional dan regional, pemerintah di tingkat daerah dan kota juga harus bertindak untuk mendukung upaya menyeluruh dalam mengatasi polusi udara. Sebagai warga negara, kita juga harus terus menerus mengembangkan pengetahuan kita mengenai isu ini dan menggunakan hak kita untuk mendorong akuntabilitas.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan