Mengulik Persinggungan Antara Pendidikan dan Gizi
Foto: Freepik.
Salah satu ciri pembangunan berkelanjutan adalah keterkaitan antara satu aspek dengan aspek lainnya. Di tengah isu kelaparan global dan kerawanan pangan, bagaimana pendidikan dapat berperan dalam mengatasi tantangan tersebut? Laporan UNESCO bertajuk “Pendidikan dan Gizi: Belajar Makan dengan Baik” mengeksplorasi persinggungan penting antara pendidikan dan gizi.
Bagaimana Pendidikan dan Gizi Saling Bersinggungan?
Anak-anak membutuhkan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan kognitif, fisik, dan emosional mereka. Asupan nutrisi yang tidak memadai akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan, kekurangan berat badan, obesitas, dan bentuk-bentuk malnutrisi lainnya.
Laporan UNESCO menyebutkan bahwa terhambatnya pertumbuhan pada anak-anak akibat kekurangan gizi kronis menyebabkan rendahnya kemampuan kognitif, pencapaian pendidikan, dan nilai ujian matematika di kalangan remaja yang diamati di Indonesia dari tahun 1993 hingga 2014. Penelitian yang dilakukan di China, Ghana, dan Ethiopia juga menunjukkan hasil serupa.
Mengatasi malnutrisi pada anak memerlukan intervensi sistemik untuk mengatasi kemiskinan multidimensi sebagai akar penyebabnya, dan pendidikan dapat menjadi jembatan. Pendidikan dapat memengaruhi orang untuk membuat keputusan yang tepat dalam produksi dan konsumsi makanan. Di sekolah, sistem pendidikan yang menggabungkan pengetahuan tentang gizi, gaya hidup sehat, dan pendidikan jasmani berkontribusi terhadap peningkatan status gizi seumur hidup.
Pengaruh nutrisi akan terus berlanjut hingga dewasa, di mana pendidikan dan kesadaran dapat membentuk pilihan orang dalam urusan kesehatan pribadi, kesejahteraan keluarga, dan keberlanjutan lingkungan. Laporan tersebut mencatat bahwa pendidikan ibu merupakan faktor yang konsisten dalam menentukan gizi anak. Oleh karena itu, intervensi yang dapat mengatasi masalah pendidikan dan gizi menjadi sangat penting.
Pentingnya Program Makanan Sekolah dengan Kualitas yang Baik
Makanan sekolah merupakan salah satu program yang dibangun di persimpangan antara pendidikan dan gizi. Program ini melibatkan penyediaan makanan hangat dan bergizi bagi siswa di sekolah untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan, dan gizi anak-anak. Makanan sekolah juga merupakan jaring pengaman yang penting bagi anak-anak dan keluarga, terutama mereka yang tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Pada tahun 2022, sekitar 418 juta anak di 175 negara menerima makanan sekolah. Jumlah tersebut meningkat menjadi 459 juta pada tahun 2024. Laporan tersebut mencatat contoh-contoh program makanan sekolah yang memberikan hasil positif, termasuk di Nigeria dengan Program Makanan Sekolah Buatan Rumah, yang telah meningkatkan angka pendaftaran sekolah dasar sebesar 20%. Selain itu, program makanan sekolah di pedesaan China, yang memperkenalkan sayur-sayuran, susu, dan telur, berhasil meningkatkan asupan gizi anak-anak dan meningkatkan kehadiran di sekolah.
Meski demikian, kualitas makanan sekolah masih cenderung diabaikan, termasuk di Indonesia yang mengusung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di banyak daerah, makanan gratis yang dibagikan tidak layak dan bahkan ada yang menyebabkan siswa keracunan. Laporan tersebut mencatat bahwa 27% program makanan sekolah di seluruh dunia tidak mempekerjakan ahli gizi untuk memberikan saran tentang desain dan implementasinya. Selain itu, sebagian besar negara yang menerapkan program makan siang di sekolah tidak memiliki undang-undang, standar wajib, atau panduan tentang makanan dan minuman di sekolah.
Oleh sebab itu, negara-negara harus mengembangkan indikator untuk penerapan program makan siang di sekolah agar lebih selaras dengan tujuan kebijakan nasional, kondisi, dan pendanaan yang tersedia.
Memastikan Hasil Positif
Sebagai program multisektoral yang menangani berbagai masalah dalam pendidikan dan gizi, program makanan sekolah di seluruh dunia harus dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi dengan cermat untuk menciptakan hasil yang positif. UNESCO merekomendasikan agar makanan segar, minim proses, dan bersumber dari daerah lokal diprioritaskan untuk diintegrasikan ke dalam program makanan sekolah. Pembiayaan yang memadai dan perluasan yang dirancang dengan cermat ke lebih banyak jenjang pendidikan juga penting.
Sementara itu, intervensi yang lebih luas dalam pendidikan dan gizi juga harus dilaksanakan, seperti meningkatkan kesadaran melalui pendidikan literasi pangan, menanamkan nilai-nilai gizi dan kesehatan di sekolah, dan membangun kapasitas para profesional di sektor gizi. Pada akhirnya, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil memiliki tanggung jawab untuk membuat gaya hidup dan lingkungan yang sehat dan aman dapat dijangkau oleh semua orang.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan