Meningkatkan Perlindungan Sosial untuk Dukung Kesetaraan Gender
Foto: 2Photo Pots di Unsplash.
Perlindungan sosial berperan dalam melindungi seseorang dari berbagai risiko. Namun, implementasinya di berbagai negara masih kurang komprehensif dan seringkali tidak mengakomodasi risiko dan tantangan spesifik yang dihadapi perempuan. Lantas, apa saja kunci untuk membangun sistem perlindungan sosial yang responsif gender?
Tantangan Perempuan di Setiap Tahap Kehidupan
Ketimpangan gender yang mengakar dalam masyarakat menciptakan risiko dan tantangan khusus bagi perempuan sepanjang hidup. Pada usia awal sekolah, anak perempuan menghadapi risiko lebih besar untuk putus sekolah demi membantu perekonomian keluarga. Data UNICEF menunjukkan bahwa kemungkinan anak perempuan putus sekolah 2,5 kali lebih besar dibandingkan anak laki-laki di negara-negara yang terdampak konflik.
Saat memasuki dunia kerja, banyak perempuan yang berjibaku dengan upah yang tidak adil. Kesenjangan upah berbasis gender masih belum terselesaikan, dengan rata-rata penghasilan perempuan sekitar 20% lebih rendah dibandingkan laki-laki. Perempuan pekerja juga seringkali menanggung ‘beban ganda’ karena masih harus melakukan kerja-kerja perawatan (domestik), termasuk membersihkan rumah, memasak, dan merawat anak-anak serta anggota keluarga yang lebih tua, yang secara tradisional masih dipandang sebagai tanggung jawab perempuan.
Perempuan juga sering harus menghadapi hambatan besar dalam mengakses informasi dan layanan kesehatan, yang seringkali tidak tersedia secara luas karena tabu di masyarakat atau kurangnya penelitian di lapangan. Kehamilan remaja masih menjadi masalah yang terus-menerus terjadi, sementara ibu-ibu muda dengan tingkat pendidikan rendah seringkali kekurangan pengetahuan dan/atau uang untuk memastikan anak-anak mereka tumbuh dengan sehat.
Meskipun cenderung punya harapan hidup yang lebih panjang dibandingkan laki-laki, perempuan memiliki risiko lebih besar untuk jatuh ke dalam jurang kemiskinan dan menghadapi pengucilan sosial karena kesenjangan upah pensiun dan kurangnya kepemilikan aset. Tak hanya itu, sepanjang siklus hidupnya, anak perempuan dan perempuan sangat rentan terhadap berbagai jenis kekerasan berbasis gender, terutama pada masa krisis.
Bagaimana Perlindungan Sosial Mendukung Kesetaraan Gender?
Kompleksitas risiko yang dihadapi perempuan menekankan pentingnya perlindungan sosial yang sekomprehensif mungkin untuk melindungi perempuan dari risiko-risiko tersebut. Namun sayangnya, penerapannya saat ini masih belum sepenuhnya mencakup risiko yang ada.
Terkait hal ini, para ahli di Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dalam kertas kerjanya mengeksplorasi bagaimana perlindungan sosial dapat mengatasi ketimpangan gender dengan memberikan manfaat di seluruh siklus hidup. Studi yang mereka kerjakan menemukan bahwa kebijakan yang ada cenderung berfokus pada perempuan dalam kapasitas mereka sebagai ibu, sementara risiko lain seperti kemiskinan di hari tua dan pengangguran kurang terlihat.
Oleh karena itu, menciptakan sistem perlindungan sosial yang mendukung kesetaraan gender memerlukan pemahaman menyeluruh tentang tantangan struktural dan ketimpangan yang dihadapi perempuan sepanjang hidup mereka dan selanjutnya mengembangkan dan memperluas cakupan ke bidang-bidang tersebut. Sistem perlindungan sosial yang komprehensif dan responsif gender akan melindungi perempuan dari berbagai kondisi sosial dan ekonomi, termasuk kemiskinan, dan memberikan perempuan batu loncatan yang diperlukan untuk berpartisipasi penuh dalam membangun kehidupan yang lebih baik.
Desain Utama yang Perlu Dipertimbangkan
Pemerintah dan pembuat kebijakan punya tanggung jawab besar untuk mengembangkan sistem perlindungan sosial yang mencakup semua orang yang membutuhkan. Studi ILO mengidentifikasi sejumlah desain utama yang perlu dipertimbangkan untuk mendorong kesetaraan gender:
- Membangun kerangka hukum, rancangan kebijakan, dan mekanisme penyampaian untuk memastikan cakupan universal dengan memperhatikan hambatan yang timbul dari diskriminasi interseksional.
- Menetapkan jaminan tingkat manfaat minimum untuk kehidupan yang bermartabat dan memastikan manfaat yang memadai bagi sebanyak mungkin orang sesegera mungkin.
- Menjamin seluruh risiko siklus hidup untuk memastikan perlindungan sepanjang hidup dan menghindari dampak lanjutan dari kemungkinan-kemungkinan hidup terhadap pendapatan, kesehatan, dan kesejahteraan perempuan.
- Rancang dan berikan manfaat dengan menghilangkan hambatan akses dan menyesuaikan dengan realitas kehidupan perempuan, termasuk perempuan dengan disabilitas.
- Rancang manfaat inklusif disabilitas dengan mempertimbangkan biaya tambahan dari kondisi disabilitas.
- Mengkoordinasikan manfaat perlindungan sosial dengan berbagai layanan, seperti pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, pengasuhan anak dan perawatan jangka panjang, dan layanan sosial lainnya, seperti layanan penanganan kekerasan terhadap perempuan.
Baca hasil studi selengkapnya di sini.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest