Pedoman Pariwisata Berkelanjutan Singapura untuk Objek Wisata dan Tempat Acara
Foto: Duy Nguyen di Unsplash.
Sektor pariwisata telah pulih dari hantaman Pandemi COVID-19 dan membawa kembali wisatawan untuk berkunjung ke destinasi-destinasi populer. Meski berkontribusi signifikan terhadap perekonomian, sektor pariwisata harus beradaptasi dengan perkembangan dunia dalam menuju praktik yang berkelanjutan untuk memastikan dampak positif bagi manusia dan planet Bumi. Sehubungan dengan hal ini, Dewan Pariwisata Singapura telah mengusung langkah-langkah untuk mempromosikan praktik pariwisata berkelanjutan di objek wisata dan tempat acara sejalan dengan rencana keberlanjutan nasional dan internasional.
Destinasi Wisata Populer
Singapura adalah salah satu tujuan wisata favorit di dunia, menawarkan perpaduan antara modernitas dan aksesibilitas yang dinamis. Pada tahun 2023, Dewan Pariwisata Singapura mencatat 13,6 juta wisatawan mengunjungi negara tersebut, hampir menyentuh angka sebelum pandemi yakni 19,1 juta wisatawan. Pariwisata juga menyumbang 3-4% PDB Singapura.
Di luar keuntungan ekonomi, sektor pariwisata harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Dewan Pariwisata Singapura telah meluncurkan standar dan pedoman untuk atraksi dan tempat wisata dalam upaya mempercepat perjalanan keberlanjutan negara tersebut.
Upaya Singapura Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan
Dewan Pariwisata Singapura (Singapore Tourism Board/STB) merupakan badan hukum di bawah Kementerian Perdagangan dan Industri. Selama ini, STB telah meluncurkan berbagai program untuk mendukung visi pariwisata Singapura dalam memaksimalkan pengalaman sekaligus menurunkan jejak karbonnya.
Pada November 2024, STB meluncurkan dua pedoman untuk objek wisata dan tempat acara yang berkelanjutan. Pedoman pertama, Kriteria Daya Tarik Dewan Pariwisata Berkelanjutan Global (GSTC), memberikan panduan keberlanjutan untuk taman, museum, dan objek-objek wisata lainnya. Kriteria tersebut mencakup empat tema utama: mengembangkan perencanaan keberlanjutan yang efektif, memaksimalkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat lokal, meningkatkan manfaat warisan budaya, dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Yang kedua adalah Buku Panduan Keberlanjutan Tempat Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran (MICE). Buku panduan ini disusun berdasarkan uji penilaian karbon dan limbah nasional yang dilaksanakan pemerintah Singapura pada tahun 2023. Penilaian tersebut mengungkap bahwa rata-rata emisi karbon terkait penyelenggaraan MICE mencapai 14,13 kg CO2 per peserta. Selain itu, 94% emisi terkait tempat MICE berasal dari konsumsi energi.
Singkatnya, Buku Panduan ini menawarkan rekomendasi praktis, kerangka kerja, dan contoh praktik terbaik bagi tempat acara untuk meningkatkan efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan konservasi air.
Menetapkan Standar
Pariwisata berkelanjutan telah menjadi bagian penting dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, yang menyoroti praktik-praktik yang penuh pertimbangan terhadap dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan saat ini dan di masa mendatang. Menetapkan standar dan pedoman untuk entitas-entitas utama di sektor ini, termasuk objek wisata dan tempat acara, merupakan hal yang penting.
Sementara itu, organisasi internasional dan pemerintah nasional juga harus ambil bagian dalam menetapkan kebijakan dan program, seperti pajak pariwisata dan kartu transportasi umum, untuk membantu mengurangi emisi. Mendorong pariwisata berbasis komunitas, mengintegrasikan pariwisata ke dalam pendidikan berkelanjutan, dan mengambil tindakan individual kapanpun memungkinkan juga merupakan bagian penting dari keseluruhan upaya untuk mencapai pariwisata berkelanjutan.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan