Sejauh Mana Perkembangan Pekerjaan yang Layak di Asia Pasifik?
Foto: Calum Forsyth di Unsplash.
Pekerjaan yang layak merupakan salah satu prasyarat untuk membangun kehidupan yang baik. Namun, jalan menuju ke sana masih penuh tantangan, terutama di tengah gejolak ekonomi global. Dalam laporan utamanya, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) membagikan wawasan dan gambaran mengenai perkembangan pekerjaan yang layak di Asia Pasifik.
Kurangnya Pekerjaan yang Layak
Ada sekitar 4,3 miliar orang yang tinggal di Asia Pasifik. Di kawasan ini, terdapat beberapa negara terpadat di dunia, seperti Cina, India, dan Indonesia. Meskipun terdapat potensi ekonomi dari dunia kerja, kawasan ini masih menghadapi banyak kendala terkait pekerjaan yang layak.
Laporan ILO “World Employment and Social Outlook” edisi 2025 mengungkap bahwa partisipasi angkatan kerja relatif stabil sejak tahun 2021. Pada tahun 2024, tingkat partisipasi tenaga kerja mencapai 60,7%, yang berarti ada sekitar 2,1 miliar penduduk usia kerja yang aktif bekerja.
Meski kesenjangan gender di Asia Selatan masih menjadi yang terbesar dalam hal partisipasi secara global, subkawasan ini mengalami peningkatan partisipasi tenaga kerja perempuan dari 26,9% pada tahun 2019 menjadi 31,4% pada tahun 2024. Sementara itu, tingkat partisipasi angkatan kerja di Asia Timur turun dari 66,9% pada tahun 2019 menjadi 65,3% pada tahun yang sama. Peningkatan partisipasi pekerja perempuan di Asia Selatan membantu mengimbangi penurunan yang terjadi di Asia Timur, sehingga membantu menstabilkan tingkat partisipasi secara keseluruhan di Asia Pasifik.
Menurut laporan tersebut, penurunan partisipasi tenaga kerja dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu menurunnya partisipasi kaum muda dan penuaan populasi. Partisipasi kaum muda sendiri menurun dari 51,9% menjadi 39,3% dalam rentang tahun 2004 hingga 2024, salah satunya karena kaum muda menempuh pendidikan lebih panjang. Faktor mencolok lainnya adalah tingginya tingkat pengangguran dan NEET (angka tidak bekerja, tidak sedang dalam pelatihan maupun pendidikan) kaum muda. Sementara itu, semakin banyak orang yang baru pensiun di atas usia 65 tahun.
Peluang dan Perubahan
Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa kecerdasan buatan (AI) dan pekerjaan hijau (green jobs) dapat mengubah dunia kerja.
Meski AI dikenal dapat mempercepat digitalisasi, penggabungan AI ke dalam angkatan kerja dapat menyebabkan pengambilalihan dan perluasan pekerjaan. Laporan tersebut menyebut bahwa di Malaysia, sekitar 300.000 pekerjaan telah hilang karena AI dan otomatisasi sejak tahun 2020. Filipina juga menghadapi masalah serupa, dengan meluasnya kekhawatiran akan penggeseran pekerjaan akibat AI, terutama pada peran penting seperti manajemen proses bisnis. Secara keseluruhan, pendapat mengenai AI di dunia kerja masih terbagi antara pertumbuhan dan pengambilalihan pekerjaan.
Sementara itu, ketika transisi energi menjadi agenda global yang dianggap semakin penting, pekerjaan hijau (green jobs) diperkirakan akan menciptakan lebih banyak peluang kerja. Pada tahun 2023, kawasan Asia Pasifik menyumbang dua pertiga lapangan pekerjaan di bidang energi terbarukan secara global, terutama berkat perkembangan China dan India, dua negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia.
Estimasi yang dilakukan oleh IRENA dan ILO menunjukkan bahwa China sendiri menyumbang 7,4 juta lapangan pekerjaan di bidang energi terbarukan (46% dari angka global). India menyumbang 1 juta lapangan kerja, sementara negara-negara lain di Asia dan Pasifik menyumbang 2,3 juta lapangan kerja.
Perlu Transformasi Struktural
Mewujudkan pekerjaan yang layak untuk semua merupakan bagian integral dari pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, perlu transformasi struktural untuk menjawab tantangan dan peluang yang ada. Laporan tersebut menekankan bahwa memprioritaskan penciptaan lapangan kerja, meningkatkan keterampilan dan pengetahuan pekerja, dan menerapkan sistem perlindungan sosial yang efektif merupakan hal yang krusial dalam perbaikan struktural untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dalam hal ini, pemerintah harus membangun kapasitas mereka untuk mengelola dan mewujudkan transformasi skala besar demi pekerjaan yang lebih produktif, adil, dan layak untuk semua.
Baca laporan selengkapnya di sini.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan