Akankah AI Generatif Mengambil Alih Pekerjaan Kita?
Foto: Rawpixel.com di Freepik.
Perkembangan teknologi memang dilematis: memberikan kemudahan di satu sisi, tapi juga menghadirkan hambatan di sisi lain. Banyak aspek dalam kehidupan kita yang terdampak oleh perkembangan teknologi, termasuk dunia kerja, dan orang-orang kini mulai harap-harap cemas. Sebuah penelitian yang dilakukan ILO mengungkapkan bagaimana perkembangan AI generatif dapat berdampak terhadap dunia kerja dan lapangan pekerjaan secara global.
AI Generatif dan Masa Depan Pekerjaan
Perkembangan teknologi selalu mendapat respons beragam dari masyarakat. Di satu sisi, ia memungkinkan munculnya lapangan kerja baru, inovasi, dan peluang. Misalnya, dulu, posisi manajer media sosial belum ada dan teknisi perangkat lunak tidak begitu dicari seperti sekarang.
Di sisi lain, perkembangan teknologi mendatangkan ketakutan akan kehilangan pekerjaan. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) generatif seperti ChatGPT dan teknologi otomasi lainnya menimbulkan pertanyaan: akankah teknologi ini akan mengambil alih pekerjaan kita? Lantas, bagaimana kita dapat mengintegrasikan perkembangan teknologi ini dengan cara yang tidak merugikan?
Augmentasi versus Otomatisasi
Pada intinya, penelitian ILO menyoroti bahwa AI generatif lebih cenderung meningkatkan lapangan kerja yang ada dibandingkan mengambil alih. Menurut penelitian tersebut, kerja-kerja klerikal, seperti memasukkan data dan menjadwalkan janji temu, merupakan pekerjaan yang paling banyak terpengaruh teknologi otomasi, dengan 24% tugas klerikal dianggap sangat terpengaruh dan 58% lainnya termasuk dalam tingkat paparan sedang.
Sedangkan tingkat paparan pada pekerjaan lain berkisar antara 1–4% pada tingkat paparan tinggi dan tidak melebihi 25% pada tingkat paparan sedang. Hal ini menunjukkan bahwa AI generatif lebih cenderung menambah pekerjaan dengan mengotomatiskan beberapa tugas dibandingkan mengotomatisasi pekerjaan sepenuhnya.
Selain itu, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa lapangan kerja menghadapi dampak yang berbeda-beda di berbagai negara. Pekerjaan di negara-negara berpendapatan tinggi lebih besar kemungkinannya terkena teknologi otomasi (5,5%) dibandingkan dengan pekerjaan di negara-negara berpendapatan rendah (0,4%). Selain itu, perempuan dua kali lebih mungkin terkena dampak teknologi otomasi dibandingkan laki-laki karena mereka merupakan mayoritas pekerja administrasi.
Perlu Batasan yang Jelas
Semua pembangunan harus dilakukan secara bertanggung jawab dan tidak meninggalkan siapa pun. Meskipun dapat memudahkan banyak aspek kehidupan, teknologi sering kali mengabaikan manusia dan planet Bumi. Hal ini juga terjadi dalam pengembangan AI generatif.
Oleh karena itu, penelitian tersebut menyarankan agar pengelolaan penerapan AI generatif dalam pekerjaan harus mempertimbangkan beberapa aspek penting. Konsultasi dan negosiasi antara pengusaha dan pekerja sangat penting untuk mengatur proses transisi dan memastikan hak dan kesejahteraan pekerja yang jelas. Selain itu, para pembuat kebijakan juga harus membuat kebijakan yang tepat untuk memastikan semua negara dapat meminimalkan dampak buruk dan memanfaatkan potensi manfaat AI generatif dalam lapangan kerja dan perkembangan teknologi di masa depan.
Penelitian selengkapnya dapat dibaca di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest