Inisiatif SEAHEARTS WHO untuk Percepat Penanganan Penyakit Kardiovaskular di Asia Tenggara
Foto: Towfiqu barbhuiya di Unsplash.
Sebagai organ vital, kesehatan jantung kita mesti diutamakan. Selain kebiasaan sehat, sistem layanan kesehatan yang tepat dan mudah diakses juga penting untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan semua orang. Di Asia Tenggara, program Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) SEAHEARTS bertujuan untuk memperkuat layanan kesehatan untuk penyakit kardiovaskular.
Ancaman Penyakit Kardiovaskular
Penyakit kardiovaskular (Cardiovascular diseases/CVD) adalah penyebab utama kematian secara global. Penyakit kardiovaskular adalah sekelompok kelainan yang mempengaruhi kondisi jantung dan pembuluh darah. Beberapa contohnya antara lain penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskular, dan penyakit jantung rematik. WHO memperkirakan penyakit tidak menular ini menyebabkan 17,9 juta kematian setiap tahunnya.
Pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, penggunaan tembakau, dan penyalahgunaan alkohol adalah penyebab utama penyakit ini. Perilaku tersebut dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, diabetes, kelebihan berat badan, dan obesitas, meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, gagal jantung, dan komplikasi lainnya.
Target 3.4 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan bertujuan untuk mengurangi kematian dini akibat penyakit tidak menular. Selain membangun kebiasaan sehat, sistem dan fasilitas yang tepat juga penting untuk mencapai tujuan ini.
SEAHEARTS oleh WHO
Inisiatif SEAHEARTS oleh WHO bertujuan untuk mempercepat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit kardiovaskular. Inisiatif ini diperkenalkan pada Hari Jantung Sedunia 2022. Inisiatif ini mengadaptasi elemen dari pendekatan strategis WHO HEARTS untuk meningkatkan kesehatan kardiovaskular di negara-negara Asia Tenggara. Kawasan ini menghadapi sekitar 3,6 juta kematian tahunan akibat penyakit kardiovaskular.
Ada dua peta jalan utama dalam inisiatif ini. Yang pertama adalah meningkatkan layanan hipertensi dan diabetes dengan memprioritaskan manajemen diagnosis, protokol pengobatan terstandar, serta aksesibilitas obat dan perangkat di layanan kesehatan primer. Peta jalan kedua berfokus pada pengurangan faktor risiko untuk mencegah dan mengendalikan penyakit kardiovaskular, termasuk menerapkan pengendalian tembakau, mengurangi garam, dan menghilangkan asam lemak trans yang diproduksi secara industri. Secara keseluruhan, peta jalan ini bertujuan untuk mengurangi angka kematian dini akibat penyakit kardiovaskular di Asia Tenggara.
Selain itu, inisiatif SEAHEARTS juga menekankan penerapan paket teknis WHO, yang terdiri dari modul praktis, dokumen teknis, dan kerangka kerja untuk mendukung otoritas kesehatan negara dalam pengelolaan penyakit kardiovaskular. Paket teknis tersebut mencakup WHO HEARTS (untuk manajemen CVD di layanan kesehatan primer), WHO MPOWER (untuk mengurangi permintaan tembakau), WHO SHAKE (untuk pengurangan garam), dan WHO REPLACE (untuk menghilangkan asam lemak trans yang diproduksi secara industri).
Sistem yang Lebih Baik untuk Kesehatan yang Lebih Baik
Pada Sesi Ketujuh Puluh Enam Komite Regional WHO untuk Asia Tenggara, Negara-negara Anggota menyatakan komitmen untuk mempercepat implementasi SEAHEARTS melalui peta jalan spesifik, memperkuat komitmen politik dan kapasitas layanan kesehatan, dan mendorong akuntabilitas melalui berbagi data. Intervensi sistematis dalam layanan kesehatan diharapkan dapat mempercepat pencegahan penyakit kronis, meningkatkan respons, dan memperluas layanan kesehatan universal untuk semua.
“Kita berada pada titik yang menentukan sejarah. Dengan kemauan politik dan investasi pada layanan kesehatan primer, negara-negara dapat mempercepat strategi SEAHEARTS untuk mengurangi beban kardiovaskular di kawasan ini,” kata Dr. Poonam Khetrapal Singh, Direktur Regional WHO Wilayah Asia Tenggara.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan