Menjajaki Kerjasama Net-Zero AS-Indonesia
Para pembicara dan moderator dalam diskusi publik bertajuk “Kerjasama AS-Indonesia untuk Net-Zero World” yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Kedutaan Besar AS di Indonesia. Dari kiri ke kanan: H.E. Robert Blake (Mantan Duta Besar AS untuk Indonesia); Claudio Forner (Senior Associate on Climate Diplomacy di World Resources Institute); Adhityani Putri (Direktur Eksekutif Yayasan Indonesia Cerah); Natasya Kusumawardani (Dosen Universitas Presiden); Marlis Afridah (Founder & CEO Green Network Asia). | Foto: Tangkapan layar siaran YouTube Foreign Policy Community of Indonesia.
Transisi energi merupakan hal penting dalam pembangunan berkelanjutan. Negara-negara di seluruh dunia telah berjanji untuk mencapai emisi nol bersih (net-zero), dan beralih ke energi bersih dan terbarukan merupakan salah satu cara yang ditempuh. Hal itulah yang dibahas dalam diskusi publik bertajuk “Kerjasama AS-Indonesia untuk Net-Zero World” yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) pada 5 Juni 2023.
Janji untuk Mencapai Emisi Nol Bersih
Amerika Serikat telah menyampaikan komitmen untuk mencapai net-zero pada tahun 2050. Di bawah perintah Presiden Joe Biden, AS mengungkap beberapa tindakan utama mereka dalam transisi net-zero, di antaranya memenuhi 100% akuisisi kendaraan tanpa emisi pada tahun 2035 dan menggunakan 100% listrik bebas polusi karbon pada tahun 2035.
Namun, seiring bergulirnya rencana, AS masih menghadapi banyak kendala. Misalnya, baru-baru ini rencana mereka untuk membangun jalur transmisi melintasi Nevada untuk mentransfer energi terbarukan menghadapi penolakan karena jalur tersebut akan memotong area fosil zaman es yang sangat berharga. Di Hawaii, penghentian penggunaan batu bara menyebabkan peralihan ke minyak dan kenaikan biaya listrik yang telah diprediksi bagi penduduk.
Sementara itu, Indonesia juga telah berjanji untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060. Indonesia memiliki peluang dan sumber daya yang berharga untuk transisi energi, yang diterjemahkan ke dalam berbagai langkah dekarbonisasi. Karena sama-sama dianggap sebagai pemain penting di sektor ini, AS dan Indonesia memiliki kesempatan untuk bekerja sama mempercepat transisi net-zero.
FPCI dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia menggelar diskusi publik virtual yang menjajaki kerja sama AS-Indonesia untuk net-zero. Diskusi tersebut menghadirkan H. E. Robert Blake, Mantan Dubes AS untuk Indonesia; Claudio Forner, Senior Associate on Climate Diplomacy World Resources Institute; Adhityani Putri, Direktur Eksekutif Yayasan Indonesia Cerah; dan Natasya Kusumawardani, dosen Universitas Presiden. Dimoderatori oleh Marlis Afridah, Founder & CEO Green Network Asia, diskusi tersebut merupakan bagian dari Women in Foreign Policy Fellowship.
Kemitraan dan hukum

Diskusi tersebut berfokus pada perkembangan net-zero AS dan Indonesia. Masing-masing panel menunjukkan keahlian mereka dalam diplomasi iklim, kebijakan luar negeri, dan transisi energi.
Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan (Just Energy Transition Partnership/JETP) dan Undang-Undang Pengurangan Inflasi (IRA) yang baru diluncurkan Amerika Serikat menjadi sorotan selama diskusi berlangsung. JETP penting untuk perjalanan transisi energi Indonesia karena berfokus pada penghapusan batubara sebagai salah satu bidang utamanya. Mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, kemitraan ini menawarkan pembiayaan signifikan untuk mengeluarkan batubara dari sistem dan memungkinkan lebih banyak energi bersih dan terbarukan masuk ke dalam sistem. Kuncinya adalah mencapai tujuan JETP pada tahun 2030 dan 2050.
Di sisi lain, Undang-Undang Pengurangan Inflasi Amerika Serikat merupakan langkah nyata bagi transisi energi dan perubahan iklim oleh Kongres. Undang-undang tersebut bertujuan untuk meningkatkan produksi kendaraan listrik, membatasi sumber daya mineral kritis, dan menargetkan 80% mineral bersumber di AS atau mitranya. Mencapai target tersebut merupakan tantangan, tetap juga membuka pintu bagi kemitraan masa depan dengan Indonesia dalam penyediaan kendaraan mineral dan listrik.
Kerjasama net-zero AS-Indonesia
Sepanjang diskusi, para panelis menyoroti pentingnya pembicaraan terkait komitmen net-zero. Negara-negara di seluruh dunia telah menunjukkan komitmen untuk mencapai net-zero. Namun, menjalankan komitmen dengan menyediakan dana, pemeliharaan, dan manajemen yang memadai merupakan hal yang krusial. Hal ini terutama berlaku di negara-negara dengan kekuatan ekonomi yang signifikan, seperti AS dan Indonesia, yang dapat mempengaruhi negara lain jika target mereka tercapai.
Mengatasi perubahan iklim dan krisis dunia lainnya adalah tanggung jawab kita bersama. Membuka diskusi dan pembahasan tentang bagaimana negara-negara di dunia dapat bekerja sama sangatlah penting untuk mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Diperlukan kerja sama internasional, regional, dan nasional untuk membuat perubahan yang berarti di mana tidak ada seorang pun yang tertinggal.
Tonton diskusi selengkapnya di saluran YouTube FPCI.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut