Mempromosikan Koneksi Sosial sebagai Pilar Kesehatan dan Kesejahteraan

Foto: Alexis Ricardo Alaurin di Pexels.
Filsuf Aristoteles pernah bilang, “Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial”. Namun, manusia hari ini semakin sulit untuk terhubung secara sosial di saat konektivitas digital di seluruh dunia semakin meningkat. Hal ini menekankan pentingnya memahami dan mempromosikan koneksi sosial dan kesehatan sosial sebagai bagian integral dari kesejahteraan manusia secara keseluruhan.
Keterputusan Sosial yang Semakin Parah
Sebagai manusia, sudah menjadi sifat alamiah kita untuk terhubung dengan orang lain. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan koneksi sosial sebagai cara manusia berhubungan dan berinteraksi satu sama lain dalam berbagai bentuk dan rupa. Istilah ini mencakup beberapa dimensi, termasuk keragaman hubungan dan peran, bagaimana dukungan diterima dan dirasakan, serta aspek positif dan negatif yang muncul dari hubungan ini.
Kurangnya koneksi sosial dapat menyebabkan isolasi sosial dan kesepian. Di seluruh dunia, banyak orang yang kesulitan membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain. Meskipun isolasi sosial dan kesepian dapat dirasakan oleh siapapun, ada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat yang lebih rentan.
Lansia, misalnya, sangat rentan terhadap isolasi sosial dan kesepian. Hal ini terjadi karena mereka cenderung kurang berpartisipasi dalam kegiatan sosial, seringkali karena kurangnya fasilitas dan infrastruktur yang mendukung. Sementara itu, kaum muda mengalami kesulitan bersosialisasi setelah karantina wilayah (lockdown) akibat pandemi COVID-19. Sebuah studi di lima negara Eropa bahkan menemukan bahwa pandemi telah menggeser profil usia kesepian ke kelompok usia yang lebih muda.
Saat ini, isolasi sosial dan kesepian semakin diakui sebagai masalah kesehatan masyarakat dan isu yang menjadi prioritas di semua kelompok umur. Kurangnya kesadaran akan kesehatan sosial di masyarakat berdampak signifikan terhadap angka kematian. WHO melaporkan bahwa kesepian menyebabkan sekitar 871.000 kematian setiap tahun antara tahun 2014 hingga 2019. Lebih lanjut, keterputusan sosial juga memperburuk risiko penyakit fisik kronis seperti penyakit kardiovaskular, masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, serta penurunan kognitif pada lansia.
Penyebab dan Faktor
Mengapa kita, sebagai makhluk sosial, sulit bersosialisasi?
Baik koneksi sosial, maupun isolasi sosial dan kesepian, didorong oleh banyak faktor kompleks yang mencakup aspek individu, interpersonal, komunitas, dan kemasyarakatan. Laporan Komisi Koneksi Sosial WHO menyatakan bahwa meskipun tidak ada informasi konklusif tentang tren terdahulu dan saat ini, faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko individu mengalami keterputusan sosial.
Salah satu contohnya adalah industrialisasi dan urbanisasi, yang telah menyebabkan kehidupan soliter massal di wilayah perkotaan. Hidup sendiri, terutama di wilayah dengan fasilitas transportasi umum yang terbatas dan kurangnya ruang komunal, menimbulkan hambatan signifikan dalam membentuk koneksi sosial dengan orang lain. Selain itu, masyarakat kapitalistik yang tidak sehat yang sering menyebabkan kerja berlebih dan ‘budaya hustle culture’ hampir tidak memberikan waktu pribadi yang terbatas untuk bersosialisasi.
Meskipun orang-orang dapat bersosialisasi secara online, para ahli memperingatkan untuk berhati-hati dalam menjaga kesejahteraan fisik, mental, dan kognitif, yang berkaitan dengan penggunaan teknologi digital yang berlebihan. Diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang isu ini untuk memahami sepenuhnya dampak teknologi digital pada hubungan sosial.
Di tingkat masyarakat, faktor-faktor lain yang dapat memperburuk risiko isolasi sosial dan kesepian meliputi sekularisasi dan memudarnya agama serta kolonialisme terhadap Masyarakat Adat. Memudarnya agama berarti orang cenderung menghabiskan lebih sedikit waktu dalam pertemuan keagamaan, yang dapat menyebabkan kurangnya rasa memiliki dan saling terhubung yang ada dalam suatu komunitas. Sementara itu, kolonialisme multigenerasi yang dialami oleh Masyarakat Adat dalam bentuk relokasi paksa, penghapusan tradisi Masyarakat Adat, dan diskriminasi dapat mengikis hubungan dan rasa memiliki di antara Masyarakat Adat dan identitas serta komunitas mereka.
Lebih lanjut, sifat dan kecenderungan pribadi juga berkontribusi dalam menyebabkan kesepian. Misalnya, laporan WHO menyatakan bahwa neurotisisme, yang membuat orang lebih rentan mengalami emosi negatif, berkaitan dengan tingkat kesepian yang lebih tinggi. Rendahnya dukungan sosial, emosional, dan struktural bagi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas dan individu LGBTQ+, menempatkan mereka pada risiko yang sangat tinggi untuk mengalami isolasi dan kesepian.
Mempromosikan Koneksi Sosial
Lebih dari sekadar kesehatan fisik, kesehatan sosial kita menentukan bagaimana kita bertindak, tumbuh, dan berkembang di tengah masyarakat. Oleh karena itu, para pemangku kepentingan utama di pemerintahan, bisnis, dan organisasi masyarakat sipil harus secara kolektif mengakui dan mengintegrasikan kesehatan sosial sebagai bagian dari pengambilan keputusan, strategi, dan inovasi mereka.
Mengembangkan kerangka kerja nasional terkait kesehatan sosial dan meningkatkan kapasitas penelitian untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang di lapangan merupakan beberapa pendekatan sistemik untuk mengatasi keterputusan sosial. Selain itu, mengatasi faktor-faktor yang menghambat masyarakat bersosialisasi juga sangat penting, seperti memperluas sistem transportasi umum yang berkualitas dan mudah diakses, mendorong kegiatan komunitas seperti olahraga masyarakat, dan mengadopsi sistem kerja 4 hari per minggu yang dipadatkan seperti yang diterapkan di Inggris dan beberapa negara lain.
Pada tingkat individu, kita juga harus menyadari bahwa hubungan sosial kita dengan orang lain, seperti halnya lingkungan, adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan di Bumi. Kita dapat memulainya dengan secara aktif menjangkau orang lain, berbagi makanan, dan memahami tugas serta ikatan kita satu sama lain. Kita berutang satu sama lain untuk menciptakan dunia yang indah dan aman bagi generasi kita saat ini dan generasi mendatang.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia

Berlangganan Green Network Asia – Indonesia
Perkuat pengembangan kapasitas pribadi dan profesional Anda dengan wawasan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di Indonesia dan dunia.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.