Laporan UNEP Ungkap Peningkatan Kualitas Udara Korea Selatan
Foto: Aleksandar Pasaric di Pexels.
Hidup di wilayah perkotaan mungkin lebih memudahkan untuk mengakses berbagai hal. Namun, di sisi lain, hidup di kota dengan mobilitas yang tinggi membuat orang rentan terpapar udara kotor. Karena itu, kota-kota di berbagai belahan dunia kini mulai berupaya untuk memperbaiki kualitas udaranya, termasuk di Korea Selatan. Sebuah laporan dari UNEP baru-baru ini mengungkap adanya peningkatan kualitas udara Korea Selatan, khususnya di Seoul, Incheon, dan Gyeonggi.
Wilayah Metropolitan
Seoul, Incheon, dan Gyeonggi dianggap sebagai salah satu wilayah metropolitan terbesar di dunia. Tiga kota metropolitan tersebut dikenal sebagai Wilayah Ibukota Seoul, yang membentang lebih dari 12.000 kilometer persegi dengan populasi 26 juta orang. Pada tahun 2016, wilayah tersebut menyumbang 48% produk domestik bruto (PDB) Korea Selatan.
Tingginya mobilitas dan aktivitas lainnya di perkotaan dapat mengakibatkan peningkatan emisi polutan udara. Emisi kendaraan, pembangkit listrik, produksi batu bara, dan kegiatan pertanian, merupakan beberapa faktor utama penyebab kualitas udara yang buruk. Paparan kualitas udara yang buruk dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti stroke, penyakit jantung, dan kanker paru-paru.
Laporan UNEP memaparkan bagaimana Korea Selatan meningkatkan kualitas udara di Seoul, Incheon, dan Gyeonggi. Laporan tersebut menyajikan perkembangan dalam pengurangan polusi udara antara tahun 2005 hingga 2020 di tiga wilayah tersebut, termasuk implementasi kebijakan, kerangka kerja, dan alat untuk mengukur peningkatan polusi udara.
Peningkatan Kualitas Udara Korea Selatan
Laporan tersebut mencatat kebijakan dan kerangka kerja yang komprehensif sebagai salah satu kontributor utama peningkatan kualitas udara Seoul, Incheon, dan Gyeonggi. Terdapat tiga tingkat perencanaan dan pembuatan kebijakan di wilayah tersebut:
- Undang-Undang Pemerintahan: kerangka menyeluruh pada skala nasional
- Rencana Dasar: gambaran implementasi pada skala nasional
- Rencana Pelaksanaan: rencana pelaksanaan pada skala daerah dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing daerah
Perencanaan tersebut mendapatkan pendanaan yang cukup besar antara tahun 2005-2020. Menurut laporan tersebut, sebesar USD 9 miliar diinvestasikan antara tahun 2007 hingga 2020 di tiga wilayah itu untuk mendukung manajemen kualitas udara. Sebanyak 56% dari investasi digunakan untuk mengurangi emisi dari sektor transportasi. Selain itu, data yang kuat tentang polusi udara dan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah juga disebut sebagai faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kualitas udara.
Dari tahun 2005 hingga 2021, terjadi penurunan 30-40% rata-rata partikel kasar (PM10) tahunan di Seoul, Incheon, dan Gyeonggi. Namun, kebijakan dan kerangka kerja yang diterapkan tidak mengurangi emisi gas rumah kaca. Emisi karbon dioksida (CO2) meningkat sebesar 26% antara tahun 2005 dan 2020.
Yang Perlu Diperbaiki
Meningkatkan kualitas udara di perkotaan sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan warga. Dalam hal kualitas udara Korea Selatan, fokus dan investasi yang substansial diperlukan untuk mencapai peningkatan yang signifikan dalam mengurangi polusi udara. Laporan tersebut diakhiri dengan sejumlah rekomendasi, di antaranya:
- Integrasikan tindakan dan kebijakan terkait perubahan iklim dan polusi udara dalam identifikasi dan implementasi tindakan mitigasi.
- Identifikasi langkah-langkah mitigasi utama untuk emisi sektor yang tidak dikurangi oleh aksi iklim.
- Tingkatkan kolaborasi internasional agar polusi udara Seoul, Incheon, dan Gyeonggi benar-benar teratasi.
Baca laporan selengkapnya di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut