Pentingnya Basis Data Kerugian dan Kerusakan untuk Mengukur Dampak Perubahan Iklim
Foto: Sveta K di Pexels.
Perubahan iklim semakin nyata, namun dampaknya berbeda-beda di berbagai negara. Negara-negara yang tidak begitu berperan dalam menyebabkan perubahan iklim sering kali harus menanggung dampak yang lebih buruk. Karena itu, peningkatan akses terhadap bantuan keuangan sangatlah penting. Terkait hal ini, PBB meluncurkan basis data kerugian dan kerusakan untuk membantu negara-negara di dunia dalam mengukur dampak perubahan iklim dan mengambil tindakan yang tepat.
Krisis Iklim & Bantuan Keuangan
Perubahan iklim menelan biaya yang sangat besar. Sebagai contoh, cuaca ekstrem selama 20 tahun terakhir telah menimbulkan kerugian sekitar $2,8 triliun secara global, demikian menurut para peneliti. Selain itu, berdasarkan perhitungan UNCTAD terhadap 48 negara berkembang, biaya tahunan aksi iklim dapat mencapai USD 5,5 triliun setiap tahunnya pada tahun 2023 hingga 2030.
Ada berbagai mekanisme pendanaan untuk menjembatani kesenjangan ini, termasuk Dana Kerugian dan Kerusakan. Dana tersebut pertama kali diumumkan pada COP27 dan akhirnya ditetapkan untuk dioperasikan setelah disepakati pada COP28.
Untuk memaksimalkan dampak mekanisme ini, negara-negara memerlukan basis data yang komprehensif untuk mengukur kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim. Terkait hal ini, PBB tengah mengembangkan sistem basis data baru untuk membantu negara-negara mengukur kerugian dan kerusakan akibat krisis iklim.
Sistem Basis Data Kerugian dan Kerusakan
Sistem pelacakan basis data kerugian dan kerusakan tersebut dikembangkan melalui kolaborasi antara UNDRR, UNDP, dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Basis data ini akan memanfaatkan sistem pelacakan yang sudah ada, seperti DesInventar, yang telah mengukur kerugian dan kerusakan akibat bencana sejak tahun 1994 berdasarkan sumber data milik negara.
Intinya, sistem basis data kerugian dan kerusakan baru ini dimaksudkan untuk mengatasi tantangan-tantangan utama yang muncul seiring semakin kompleksnya krisis iklim dan dampaknya. Tantangannya meliputi tata kelola data, inovasi teknologi, peningkatan metodologi penilaian, dan interoperabilitas sistem. Sistem baru ini bertujuan untuk mencapai hal-hal berikut:
- Memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai risiko mendasar, pemicu, penyebab, dan dampak lanjutan dari krisis iklim.
- Memperkuat tata kelola, institusionalisasi, dan keberlanjutan basis data dan sistem informasi.
- Mengatasi perubahan signifikan dalam pilihan teknologi, kapasitas, dan kebutuhan dengan solusi sesuai dengan tingkat kematangan.
- Mengembangkan metodologi untuk menilai kerugian, kerusakan, dan dampak sesuai dengan standar data.
- Meningkatkan penggunaan data dan memanfaatkan kembali dukungan, menghubungkan dan mengintegrasikan berbagai sumber, dan mendorong komplementaritas.
Sistem baru ini memiliki tiga komponen: parameter bahaya, efek dan dampak, serta statistik dan konteks. Organisasi-organisasi tersebut bermaksud mengembangkan sistem sinergis yang dapat menghubungkan observasi cuaca dan kejadian berbahaya dengan informasi kerugian dan kerusakan terkait. Selain itu, sistem ini akan berkolaborasi dengan kantor manajemen bencana dan layanan hidrometeorologi level negara untuk meningkatkan rantai nilai data dan meningkatkan analisis.
Data yang Lebih Baik untuk Mitigasi dan Adaptasi Iklim
Upaya mitigasi dan adaptasi iklim semakin penting seiring meningkatnya ancaman krisis. Seluruh pemangku kepentingan utama harus mendorong perubahan dan perbaikan di semua tingkatan untuk mendukung negara-negara di dunia, terutama negara berkembang, dalam menghadapi krisis ini. Sistem basis data kerugian dan kerusakan baru ini diharapkan dapat membantu negara-negara dalam menilai dampak secara lebih akurat dan memanfaatkan dukungan mitigasi dan adaptasi yang lebih efektif dan komprehensif, termasuk bantuan keuangan.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest