SMART dan NTU Kembangkan Metode Baru untuk Dukung Konservasi Lahan Gambut
Rawa gambut di Valgeraba, Estonia. | Foto: Singapore-MIT Alliance for Research and Technology (SMART).
Lingkungan hidup alami merupakan pilar fundamental kehidupan di Bumi. Lahan gambut, misalnya, punya peran penting dalam penyimpanan karbon. Di tengah perubahan iklim dan berbagai krisis lainnya, sangat penting untuk memahami sifat ekosistem lahan gambut dan cara melindunginya. Terkait hal ini, para peneliti di Singapura telah mengembangkan metode baru untuk menghitung penyimpanan karbon di rawa gambut guna mendukung konservasi dan restorasi lahan gambut.
Kondisi Lahan Gambut Global
Lahan gambut merupakan salah satu jenis lahan basah yang terdiri dari tumbuhan membusuk yang membentuk lapisan gambut. Ekosistem ini mencakup 3-4% permukaan daratan global. Meskipun luasnya tidak seberapa, lahan gambut menyimpan lebih dari 600 gigaton karbon, setara dengan 44% karbon tanah dunia. Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menyebut lahan gambut merupakan “solusi berbasis alam yang sangat diperlukan” untuk mitigasi iklim, pengaturan air, dan manajemen risiko bencana.
Sayangnya, sekitar 21% ekosistem lahan gambut telah terdegradasi dan kering akibat alih fungsi lahan untuk pertanian dan berbagai aktivitas manusia lainnya. IUCN memperkirakan bahwa emisi dari lahan gambut yang dikeringkan dapat mencapai 1,9 gigaton CO2e per tahun—setara dengan 5% emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia.
Memahami sifat lahan gambut dan kemampuannya dalam menyimpan karbon sangatlah penting. Para peneliti di Singapore-MIT Alliance for Research and Technology (SMART) dan Nanyang Technological University (NTU) Singapura telah mengembangkan metode untuk mengukur kondisi lahan gambut dan kemampuan penyimpanan karbon.
Metode Baru SMART dan NTU
Metode pengukuran baru ini dikembangkan oleh tim SMART-NTU dengan kolaborator internasional dari Massachusetts Institute of Technology, University of Potsdam, Stanford University, dan University of Minnesota. Metode ini dimaksudkan untuk menghitung jumlah karbon yang dapat disimpan di rawa gambut.
Secara morfologi, rawa punya bentuk kubah tiga dimensi. Mendapatkan sampel langsung untuk mengukur stok karbon di rawa dapat menjadi tantangan karena bentuk dan kondisinya yang beragam serta sulitnya mengakses lahan tersebut di beberapa wilayah tropis. Untuk mengatasi hal ini, metode baru ini menggunakan data satelit untuk mengurangi kebutuhan observasi lapangan dan pengambilan sampel secara langsung. Berbeda dengan model sebelumnya yang hanya dapat digunakan untuk mengukur kondisi rawa secara terbatas, model matematika baru ini dapat diterapkan pada rawa mana pun di dunia.
“Model matematis kami memungkinkan untuk mendeskripsikan dan membandingkan bentuk rawa di mana pun, termasuk wilayah di bagian terpencil Lembah Amazon, New Guinea, dan Lembah Kongo yang terancam oleh pembangunan namun masih kurang diketahui secara ilmiah. Temuan kami juga memiliki penerapan praktis: bentuk tiga dimensi rawa menentukan jumlah karbon yang dikandungnya dan cara terbaik untuk memulihkannya,” kata Dr Alex Cobb, Ilmuwan Riset Utama di SMART.
Mendorong Upaya Restorasi Global
Metode baru yang dikembangkan oleh para peneliti SMART dan NTU ini memungkinkan penilaian yang lebih baik terhadap kondisi lahan gambut di seluruh dunia. Pemerintah dan para pembuat kebijakan dapat menggunakan data ini untuk lebih memahami dampak alih fungsi lahan dan aktivitas manusia lainnya terhadap ekosistem lahan gambut. Pada akhirnya, memahami kondisi ekosistem saat ini sangat penting bagi upaya konservasi dan restorasi lahan gambut, sehingga dapat mendukung mitigasi iklim, menghentikan penurunan keanekaragaman hayati, dan memperbaiki kondisi lingkungan hidup secara keseluruhan di planet ini.
“Dengan memperkirakan bentuk rawa gambut berdasarkan data yang terbatas, teori kami memungkinkan perencanaan pembasahan lahan gambut dengan lebih mudah dan hemat biaya dibandingkan sebelumnya,” imbuh Dr Cobb.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Memperkuat Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
Menilik Solusi Potensial Pengelolaan Sampah menjadi Metanol (Waste-to-Methanol)
Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi