Meningkatkan Bantuan Kemanusiaan di Tengah Berbagai Krisis
Foto: Ahmed akacha di Pexels.
Dunia telah mengalami krisis dalam berbagai bentuk. Banyak krisis yang ditimbulkan oleh manusia, seperti perang dan konflik, dan sebagian lainnya akibat bencana alam—membuat semua orang menderita. Untuk mengatasi krisis, diperlukan bantuan kemanusiaan. Namun, di tengah kondisi dunia yang semakin tidak dapat diprediksi, bagaimana kita dapat meningkatkan bantuan kemanusiaan saat krisis?
Dunia di Tengah Polikrisis
Krisis terjadi di mana-mana, dan semakin banyak orang terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman. Laporan Global Humanitarian Overview (GHO) 2023 mengungkap bahwa jumlah pengungsi mencapai 103 juta pada pertengahan tahun 2022, dan lebih dari 36 juta di antaranya merupakan anak-anak. Jumlah tersebut mencakup 32,5 juta pengungsi, 53,1 juta pengungsi internal (IDP), dan 4,9 juta pencari suaka.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa bencana merupakan penyebab utama pengungsian di seluruh dunia. Data terbaru menunjukkan, 5,9 juta orang di seluruh dunia mengungsi pada akhir tahun 2021 akibat bencana alam, tanpa tanda-tanda penurunan karena cuaca ekstrem berlanjut pada tahun 2022.
Konflik dan kekerasan juga merupakan salah satu penyumbang terbesar, menyebabkan 14,4 juta orang mengungsi pada tahun 2021. Perang Rusia-Ukraina menambah jumlah pengungsi sebanyak hampir 8 juta orang di berbagai negara Eropa dan 5 juta pengungsi internal di Ukraina.
Kehilangan rumah dan dan berbagai hal lainnya dapat menjerumuskan seseorang ke dalam krisis yang lebih dalam. Menurut laporan GHO 2023, lebih dari 70% orang yang mengalami kelaparan tinggal di daerah yang terkena dampak perang dan kekerasan. Selain itu, perempuan seringkali mengalami dampak kerawanan pangan dan kasus kelaparan yang lebih parah, di samping rentan terhadap kekerasan seksual. Karena itu, diperlukan upaya masif untuk memastikan anak-anak tetap dapat berkembang dalam keadaan darurat, termasuk menjaga kesehatan, nutrisi, keamanan dan keselamatan, serta pembelajaran dini buat mereka. Dalam hal ini, bantuan kemanusiaan sangat diperlukan.
Bantuan Kemanusiaan di Tengah Krisis

Pekerja bantuan kemanusiaan membantu orang-orang yang terkena dampak konflik atau bencana alam. Secara umum, mereka adalah gabungan orang-orang terlatih dari organisasi lokal, nasional, dan internasional. Pekerja lokal dan nasional sangat penting karena mereka lebih memahami tantangan di lapangan dan dapat berkontribusi secara efektif, efisien, dan berkelanjutan dalam keadaan darurat.
Meskipun begitu, pekerjaan ini dipenuhi dengan banyak tantangan. Tinggal di lingkungan yang penuh tekanan dan jam kerja yang panjang dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental mereka. Selain itu, mereka juga sering menjadi sasaran serangan. Pada tahun 2021 saja, 461 pekerja kemanusiaan menjadi korban serangan besar, yang mengakibatkan 203 di antaranya terluka parah, 117 diculik, dan 141 tewas.
Memberikan bantuan kemanusiaan juga bukan tanpa biaya. Laporan GHO 2023 memperkirakan bahwa biaya yang dibutuhkan mencapai USD 51,5 miliar untuk memberikan perawatan dan bantuan bagi 230 juta orang pada tahun 2023. Meningkatnya biaya operasional, harga komoditas, dan inflasi yang tinggi juga berkontribusi terhadap peningkatan kebutuhan yang signifikan. Oleh karena itu, bantuan kemanusiaan yang kuat membutuhkan dukungan di berbagai sektor.
Perlunya Dukungan
Keadaan dunia mungkin akan semakin kompleks setiap tahun, dan krisis mungkin akan semakin parah. Faktor-faktor seperti perubahan iklim, konflik, gejolak ekonomi, dan ketimpangan dapat semakin memperparah krisis di masa depan. Oleh karena itu, tidak ada waktu yang lebih baik untuk mengantisipasinya selain sekarang.
UNOCHA telah meluncurkan Rencana Strategis OCHA 2023-2026, yang mengurai enam prioritas transformasional untuk mengatasi tantangan yang berubah-ubah dengan cepat:
- Respons kemanusiaan yang koheren dan berpusat pada manusia, dengan konteks spesifik, berkontribusi pada ketahanan masyarakat, dan mendorong perlindungan yang nyata.
- Kepemimpinan yang sistematis dan dapat diprediksi pada akses.
- Solusi jangka panjang untuk pengungsian internal yang berkepanjangan.
- Respons kemanusiaan yang inklusif dan tidak meninggalkan siapa pun.
- Pembiayaan kemanusiaan katalistik yang memberikan dampak pada kehidupan masyarakat.
- Analisis strategis risiko dan tren untuk beradaptasi dengan keadaan yang berkembang.
Di samping itu, penting juga untuk mengatasi kekurangan dana. Pada Juni 2023, Sekretaris Jenderal PBB menyerukan perlunya dana yang lebih banyak untuk memobilisasi bantuan kemanusiaan di seluruh dunia. UNFPA juga meminta dana sebesar USD 1,2 miliar untuk menyediakan layanan dan perlindungan bagi sekitar 66 juta perempuan, anak perempuan, dan kaum muda di 65 negara. Hal ini menuntut partisipasi dari pemerintah dan sektor swasta untuk mengatasi kekurangan dana.
Pada akhirnya, di atas semua tindakan tersebut, para pemimpin dunia juga perlu meningkatkan upaya untuk mencegah dan menyelesaikan konflik, berkomitmen kembali pada hukum internasional, dan mengatasi krisis iklim. Kita dapat menciptakan kemajuan yang bermakna dan kuat menuju dunia yang lebih baik dengan mengurangi perselisihan dan meminimalkan kemungkinan bencana iklim.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan