Meningkatkan Perlindungan Sosial yang Sensitif terhadap Anak di Indonesia
Foto: Mufid Majnun di Unsplash.
Anak-anak adalah masa depan kita. Namun sedihnya, di banyak tempat, masih banyak anak yang terdampak oleh kemiskinan, termasuk di Indonesia. Menjaga kesehatan dan kesejahteraan anak sejak lahir hingga dewasa sangatlah penting, salah satunya melalui perlindungan sosial. Laporan bersama Kementerian Keuangan dan UNICEF mengulik bagaimana penerapan perlindungan sosial yang sensitif terhadap anak di Indonesia.
Kemiskinan Anak di Indonesia
Pada tahun 2022, 11,8% dari sekitar 80 juta anak di Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan nasional, yang merupakan angka tertinggi di antara kelompok usia lainnya. Laporan tersebut menyebutkan bahwa angka kemiskinan anak di pedesaan lebih tinggi (16%) dibandingkan di perkotaan (10%). Selain faktor wilayah, kondisi kemiskinan juga ditentukan oleh jumlah anak dalam rumah tangga.
Kemiskinan pada dasarnya bersifat multidimensi, dan hal ini juga berlaku pada anak-anak. Selain kemiskinan moneter, 40% dari anak-anak Indonesia juga mengalami kemiskinan dalam dua atau lebih dimensi.
Dalam hal ini, perlindungan sosial sangat penting untuk membantu rumah tangga menghadapi keadaan darurat seperti bencana alam dan krisis global lainnya. Perlindungan sosial yang sensitif terhadap anak merupakan bagian dari intervensi perlindungan sosial adaptif yang dapat membantu mengurangi kemiskinan anak, mewujudkan hak dan potensi anak, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan masyarakat yang inklusif.
Tantangan Utama
Laporan tersebut mencatat beberapa permasalahan terkait perlindungan sosial sensitif terhadap anak. Secara umum, pengeluaran Indonesia untuk bantuan sosial lebih sedikit dibandingkan negara-negara dengan tingkat pendapatan serupa. Selain itu, pengeluaran pemerintah untuk anak-anak di tahun-tahun awal jauh lebih rendah dibandingkan pengeluaran untuk kelompok usia lainnya. Ironisnya, hal ini terjadi meskipun persentase kemiskinan anak lebih tinggi dibandingkan kelompok usia muda, usia bekerja, dan lanjut usia.
Selain itu, bantuan sosial yang disediakan negara terkadang hanya memberikan manfaat secara tidak langsung kepada anak-anak. Misalnya, bantuan sosial dalam bentuk bantuan tunai biasanya diterima oleh orang dewasa (orang tua anak). Laporan tersebut menemukan bahwa program bantuan sosial seringkali tidak mempertimbangkan komposisi rumah tangga, sehingga dapat mengakibatkan kurangnya target dan intervensi yang spesifik untuk anak. Sejauh ini, hanya ada dua kebijakan yang menyasar anak secara spesifik, yaitu Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Indonesia Pintar (PIP).
Persoalan data juga masih ada, yaitu berupa kurangnya data terkini mengenai kemiskinan, terutama pada anak-anak. Lantaran kemiskinan bersifat dinamis, artinya ada risiko masuk dan keluarnya kemiskinan sepanjang hidup seseorang, penerapan program perlindungan sosial yang sensitif terhadap anak secara efektif memerlukan sistem pencatatan sosial yang termutakhirkan.
Perlindungan Sosial yang Sensitif terhadap Anak
Perlindungan sosial yang sensitif terhadap anak merupakan hal mendasar dalam menjaga hak dan kesejahteraan anak. Di tengah krisis iklim, konflik, kerusuhan sosial, dan ketidakpastian ekonomi, melindungi anak-anak dan keluarga mereka dari kerentanan dan potensi guncangan adalah hal yang sangat penting.
Oleh karena itu, laporan tersebut merekomendasikan empat langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan dalam meningkatkan perlindungan sosial yang sensitif terhadap anak:
- Menerapkan pendekatan siklus hidup dalam merancang dan melaksanakan program perlindungan sosial dan meningkatkan investasi pada tahun-tahun awal yang penting.
- Meningkatkan pembelanjaan bantuan sosial yang adil, baik melalui reformasi sistem pajak dan tunjangan atau peningkatan efisiensi melalui integrasi program.
- Memperluas bantuan sosial anak berdasarkan komposisi rumah tangga.
- Memperbaiki mekanisme penargetan melalui pembaruan daftar sosial atau mempertimbangkan hibah anak universal.
Laporan lengkapnya dapat dibaca di sini.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan