Menyeimbangkan Pertumbuhan Ekonomi dan Transisi Energi yang Berkeadilan
Foto: Dina Lydia di Unsplash.
Dengan banyaknya potensi energi terbarukan, Asia Tenggara dapat berkontribusi secara signifikan dan mempercepat transisi energi yang bersih dan berkeadilan. Namun, sangat penting untuk mempertimbangkan secara hati-hati bagaimana memenuhi permintaan akan energi tanpa mengorbankan perkembangan transisi energi yang telah dicapai. Laporan “Southeast Asia Energy Outlook 2024”, yang diterbitkan oleh Badan Energi Internasional (IEA), memaparkan bagaimana pertumbuhan, tantangan, dan peluang bagi pertumbuhan energi di kawasan ini.
Meningkatnya Permintaan akan Energi
Asia Tenggara telah menyumbang 11% pertumbuhan permintaan energi global sejak tahun 2010. Berdasarkan kebijakan yang ditetapkan saat ini, permintaan tersebut diproyeksikan akan mencapai 25% pada tahun 2035, menjadikan Asia Tenggara sebagai kawasan dengan pertumbuhan tercepat setelah India. Laporan IEA mencatat bahwa peningkatan permintaan ini didorong oleh ekspansi ekonomi, pertumbuhan populasi, dan pembangunan industri. Selain itu, meningkatnya penggunaan AC karena semakin seringnya gelombang panas memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan penggunaan listrik.
Meningkatnya permintaan akan energi menimbulkan risiko terhadap perkembangan transisi energi secara keseluruhan di Asia Tenggara. Bahan bakar fosil memenuhi hampir 80% kenaikan permintaan tersebut, dan setengah dari pasokan listrik di kawasan ini ditenagai oleh batu bara pada tahun 2023. Dengan ketergantungan ini, laporan tersebut memperkirakan bahwa lonjakan permintaan energi akan terus meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil dan emisi karbon, sehingga memperburuk permasalahan lingkungan yang berkaitan dengan energi.
Peralihan yang Lambat
Memanfaatkan potensi energi terbarukan di Asia Tenggara dapat menjadi langkah yang ampuh dalam memenuhi permintaan energi sekaligus mengurangi emisi karbon. Menurut laporan tersebut, angin dan tenaga surya, serta bioenergi dan panas bumi, diproyeksikan akan memenuhi lebih dari sepertiga permintaan energi di kawasan ini yang terus meningkat pada tahun 2035.
Namun, perkembangan yang ada sejauh ini dinilai lambat. “Teknologi energi ramah lingkungan tidak berkembang cukup cepat, dan ketergantungan yang tinggi terhadap impor bahan bakar fosil membuat negara-negara sangat rentan terhadap risiko di masa depan,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol. Kemajuan yang dicapai masih belum mampu mengimbangi emisi karbon terkait energi di Asia Tenggara, yang diperkirakan akan meningkat sebesar 35% pada tahun 2050.
Oleh karena itu, negara-negara harus mengambil tindakan dan berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon. Saat ini, delapan dari sepuluh negara di Asia Tenggara memiliki target emisi nol bersih dengan tingkat ambisi yang berbeda-beda. Laporan tersebut menggarisbawahi beberapa langkah penting, seperti meningkatkan investasi energi ramah lingkungan, membangun infrastruktur esensial untuk mendukung energi terbarukan, dan menerapkan strategi untuk mengurangi emisi dari pembangkit listrik tenaga batu bara yang masih baru.
Transisi Energi Bersih di Asia Tenggara
Pada akhirnya, visi pembangunan ekonomi harus berjalan beriringan dengan upaya untuk meminimalkan dampak lingkungan demi kelangsungan hidup kita bersama. Meningkatkan kolaborasi dan kerja sama internasional sangatlah penting untuk mencapai transisi energi yang aman dan berkeadilan di tengah berbagai krisis.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan